Optimalkan Pemanfaatan Sumber Daya, ABB Tegaskan Komitmen Dorong Ekonomi Sirkular

Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Pada era kecanggihan teknologi dewasa ini, kian banyak ranah industri beralih mengadopsi prinsip ekonomi sirkular, termasuk sektor pulp, kertas, serta serat. Dinamika positif ini turut diakui oleh Cluster Manager Pulp, Paper, Fiber Asia & Oceania dari ABB Process Industries, Liew WeiMing.

Ia memaparkan bahwa fasilitas produksi pulp dan kertas kini telah secara luas mendayagunakan biomassa serta mengolah residu sisa produksi guna memproduksi pasokan energi mandiri.

Sisi memikat lainnya terlihat dari kemajuan biorefinery pada lingkungan pabrik pulp. Keberadaan fasilitas canggih ini sanggup memproduksi bahan biokimia yang berfaedah bagi ragam sektor industri lain, sehingga menghadirkan keharmonisan simbiosis mutualisme.

"Kita juga melihat semakin banyak orang mencoba mencari cara untuk mendaur ulang polyester," tuturnya kepada pihak CNBC Indonesia, sebagaimana dilansir pada hari Rabu (7/10/2026).

Selain perkara tersebut, ia menyoroti urgensi modernisasi pabrik pulp dan kertas. Pasalnya, persepsi masyarakat umum kerap membatasi fungsi kertas sebatas media tulis, alat cetak, atau material pengemasan. Padahal, cakupan pemanfaatan kertas saat ini telah bergeser sangat jauh melampaui kegunaan konvensional itu.

Sekarang, dunia menyaksikan lahirnya divisi mutakhir, antara lain kemasan ramah lingkungan atau sustainable packaging, disusul pemanfaatan anyar terkhusus pada industri tekstil. Misalnya saja serat viskosa berbahan baku bambu yang mampu menghasilkan rajutan bahan lebih lembut. Inovasi lainnya menyentuh pemakaian nanoselulosa, yang menurutnya mengantongi sifat serat berbeda serta menyimpan segudang fungsi baru.

"Sebagai salah satu pemain utama, Indonesia perlu mulai mengarahkan fokusnya pada pengembangan produk-produk bernilai tinggi daripada hanya memproduksi dalam jumlah besar," tegas WeiMing.

WeiMing menerangkan bahwa lanskap industri pulp sekarang bukan semata-mata berbicara mengenai percetakan lembaran kertas. Ekosistem ini telah berekspansi ke aneka lini menjanjikan, meliputi material ramah lingkungan berkelanjutan, penetrasi ranah baru layaknya sandang tekstil, hingga perancangan rekayasa teknologi mutakhir bagi manufaktur berbasis bio.

"Hal utama yang dapat disimpulkan adalah bahwa sebagian besar pabrik yang sedang bertransformasi menjadi pabrik modern yang menghadapi masa depan dan siap mengadopsi teknologi perlu melakukan pendekatan ini secara bertahap. Dan kita harus merangkul teknologi AI seiring kita bergerak maju bersama," terang WeiMing.

Perlu dipahami, dalam ekosistem pulp, kertas, serta fiber, korporasi ABB telah berkiprah puluhan tahun mengawal dua poros rantai nilai. Poros pertama bertumpu pada pergerakan teknis atau sistem operasional fisik pabrik. Di pilar ini, ABB menyuplai sarana mulai dari gardu induk kelistrikan, sistem elektrifikasi, hingga dinamo motor penggerak terintegrasi manajemen energi guna mereduksi jejak karbon emisi.

Sementara pilar kedua mengedepankan aspek kecerdasan digital. Belum lama ini ABB meluncurkan platform Automation Extended yang memanfaatkan integrasi tumpukan teknologi mutakhir. Lewat automasi kendali proses dan optimalisasi sistem terpadu, terobosan ini ampuh mendongkrak mutu keluaran produk.

Atas dasar tersebut, ABB menaruh asa agar pabrik kertas mendatang bertransformasi kian mutakhir dan berdaya saing unggul. Jaringan konektivitas tinggi menjadi fondasi vital, mengingat mayoritas unit pabrik berlokasi di area terpencil. Fasilitas yang saling terkoneksi memungkinkan korporasi mengantongi asistensi teknis sembari mempererat sinergi bersama rantai pemasok maupun tim internal.

"Pabrik juga harus sangat berbasis data. Kita perlu mengumpulkan banyak informasi agar dapat melakukan berbagai peningkatan pada pabrik, misalnya melalui pemeliharaan prediktif. Selanjutnya, sebagian besar pabrik kini berupaya menjadi lebih otonom. Untuk mencapainya, kita perlu menerapkan wawasan berbasis data dan AI guna membantu operator mengambil keputusan dengan cepat, sehingga dapat mencapai operasi yang stabil dan optimal secara berkelanjutan. Tentunya, dengan tambahan data dan informasi yang tersedia, kita dapat menerapkan analitik tingkat lanjut dan terus bergerak menuju pabrik yang lebih efisien," tandasnya, sembari menegaskan bahwa sinergi konektivitas, analitik data, serta otonomi digital menjadi kunci mutlak bagi pabrik kertas agar kokoh bersaing di masa depan.