Kondisi mencekam akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah berjalan melampaui rentang waktu dua bulan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sejumlah titik api baru terus saja bermunculan membakar area vegetasi, beriringan dengan kabut pekat yang tak kunjung beranjak menipis dari langit pemukiman.
Kenyataan pahit ini memaksa segenap warga untuk tetap bertahan menghadapi kepungan udara beracun yang mengancam keselamatan raga. Agenda pekerjaan dan rutinitas harian tetap diupayakan berjalan normal, kendati mereka dibayangi tanda tanya besar mengenai kapan kobaran api musnah sepenuhnya serta atmosfer kembali jernih.
Di sela kemelut bencana ini, impian masyarakat sesungguhnya sangatlah sederhana. Mereka cuma merindukan terangnya panorama langit membiru, segarnya hembusan udara alami, dan mengalirnya aliran air secara lancar. Nuansa asri yang semestinya menjadi pemandangan rutin tersebut kian lenyap tertelan semenjak api melalap habis hamparan lahan gambut di Palangka Raya.
"Kalau berbicara tentang kondisi Palangka Raya hari ini, jujur situasinya sangat memprihatinkan," kata warga Palangka Raya, Winney Amiani, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).
Fasilitas Medis Kian Sesak Pasien
Dampak buruk dari peristiwa karhutla tidak sekadar merampas kenyamanan hidup sehari-hari. Kepulan asap tebal yang menginvasi area tempat tinggal warga telah memicu kekhawatiran besar terhadap kesehatan publik, terutama bagi kelompok balita serta kaum lanjut usia.
Mengacu pada laporan resmi Kementerian Kesehatan, sebanyak 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah terdata pada tujuh provinsi yang terdampak kabut karhutla hingga 12 Oktober 2026. Dari akumulasi angka tersebut, terdapat 62.400 penderita yang merupakan anak balita berusia nol sampai lima tahun.
"Infonya angka ISPA di Kalteng menyentuh puluhan ribu kasus," ujar Winney.
Ledakan jumlah pengidap gangguan pernapasan ini kian memperberat beban hidup masyarakat di tengah buruknya mutu udara. Menurut penjelasan Winney, berbagai rumah sakit kini dijejali deretan pasien yang membutuhkan tindakan cepat. Walau begitu, ketersediaan pasokan obat-obatan serta tabung oksigen dinilai masih dapat mencukupi kebutuhan.
"Untuk masalah akses ke kesehatan sudah mulai merata terutama karena rumah oksigen sudah banyak didirikan di berbagai daerah," katanya.
Penyediaan sentra rumah oksigen hadir sebagai langkah nyata guna menolong warga yang terserang gangguan saluran pernapasan dampak kabut asap. Sarana ini terealisasi melalui sinergi sokongan dari aparat pemda dan inisiatif kelompok sukarelawan, dengan seluruh rangkaian layanan yang dapat dinikmati warga tanpa dipungut biaya.
Titik-titik rumah oksigen diposisikan menyebar pada aneka fasilitas kesehatan umum, mulai pos pelayanan terpadu (posyandu), pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), poliklinik, sampai gedung rumah sakit daerah. Penanganan serupa turut dibuka di sejumlah kantor dinas pemerintahan daerah, balai kelurahan, kantor Dinas Kesehatan, hingga markas Palang Merah Indonesia (PMI).
Kendati pendirian posko darurat ini belum mampu sepenuhnya menghapus bahaya polusi asap, sarana tersebut sangat berarti dalam memberikan pertolongan pertama bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan darurat.
Winney mengungkapkan, sebagian titik rumah oksigen telah dilengkapi sarana pendingin udara beserta alat penyaring udara. Walau begitu, fasilitas penunjang tersebut belum tersebar merata di setiap lokasi karena prioritas utama posko adalah menyalurkan suplai oksigen dan tindakan darurat.
"Ada beberapa rumah oksigen yang memang difasilitasi penyejuk udara seperti AC yang air purifier, tapi tidak semua karena fokus rumah oksigen itu sendiri menyediakan oksigen, nebulisasi, maupun pelayanan kesehatan awal bagi masyarakat yang terdampak," katanya.
Rindukan Hadirnya Kembali Udara Bersih
Mengarungi ketidakpastian padamnya karhutla, penduduk Palangka Raya harus berjibaku dengan sederet kendala hidup yang berlapis. Selain racun asap, krisis air bersih imbas musim kemarau, terputusnya pasokan listrik, kendala jaringan telekomunikasi, dan terhambatnya mata pencaharian ikut menyulitkan kondisi mereka.
Menurut pandangan Winney, keperluan yang paling mendesak sekarang adalah hawa bersih. Aksi pembagian masker dinilai sangat meringankan beban masyarakat, walaupun alat penyaring tersebut belum bisa memproteksi tubuh secara total dari racun polusi.
"Menurut saya kak, kebutuhan paling mendesak masyarakat saat ini tentu saja adalah udara bersih. Pembagian masker tentu sangat membantu sebagai salah satu upaya perlindungan untuk mengurangi paparan asap, meskipun tidak bisa sepenuhnya melindungi kita dari dampak polusi udara," katanya.
Lebih dari sekadar menanti titik bara padam seutuhnya, warga menaruh asa besar agar keseimbangan lingkungan kembali normal sehingga mereka mampu beraktivitas tanpa teror kabut asap.
Dapatkan laporan terhangat serta tepercaya lewat Berita Liputan6.








