Kasus tindak pidana pembunuhan terhadap seorang ibu bersama anaknya di kawasan Madiun kembali memperlihatkan betapa pentingnya peran sains forensik. Pihak kepolisian membeberkan bahwa pelaku bernama Dwi Bagus Martono (40) diduga kuat membakar serta melumatkan jenazah istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), beserta anak tirinya, AGF (4), sebelum kemudian melenyapkan sisa-sisa raga mereka. Beraneka barang bukti berupa alat pencacah mekanis, serbuk abu, serta serpihan tulang telah disita petugas guna diteliti secara menyeluruh.
Aparat kepolisian terus menelusuri sangkaan pembunuhan berencana di wilayah Madiun, Jawa Timur, sembari menyiapkan rangkaian uji laboratoris terhadap seluruh material yang ditemukan di lokasi perkara. Dalam situasi yang sedemikian ekstrem, tahapan pengenalan forensik mesti ditempuh selangkah demi selangkah demi memastikan asal-usul zat biologis tersebut sekaligus membuka peluang penetapan jati diri korban.
Pemeriksaan Awal Bukti Fisik
Pakar forensik asal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Asan Petrus, menerangkan bahwa prosedur identifikasi korban tetap amat mungkin dirampungkan asalkan terdapat sisa biologis yang memenuhi syarat analisis. Menurutnya, keberhasilan penelusuran identitas sama sekali tidak berpatokan pada keutuhan tubuh korban, melainkan pada mutu serta kelayakan sampel yang berhasil diselamatkan.
Asan menyampaikan bahwa kegiatan identifikasi medis tidak mutlak membutuhkan raga yang sempurna. Sepanjang jejak biologis masih ada, penelaahan ilmiah dapat terus dilanjutkan. Kendati demikian, tahapan perdana yang wajib dilakukan adalah menguji keabsahan serta asal spesimen yang dikumpulkan penyidik.
Ia menuturkan, jika petugas menemukan materi yang dicurigai sebagai komponen tubuh manusia, tim dokter ahli akan memeriksa jenis biologisnya terlebih dahulu. Teknik yang diterapkan yakni tes presipitin, sebuah prosedur serologi khusus guna memastikan apakah unsur organik itu benar-benar milik manusia atau bukan.
Penelusuran Profil DNA
Begitu kepastian materi biologis manusia terbukti, tahapan selanjutnya bergeser ke pencarian siapa sosok pemilik aslinya. Salah satu cara utama adalah pemeriksaan asam deoksiribonukleat (DNA) yang memanfaatkan materi genetika dari sampel guna mengaitkan temuan laboratorium dengan individu tertentu secara akurat.
Asan memaparkan bahwa materi pengetesan genetika tidak melulu harus mengambil jaringan tubuh yang utuh atau berukuran masif. Spesimen seperti ceceran darah, helaian rambut, kuku, cairan ludah, air seni, hingga cuplikan daging renik pun sangat bisa diteliti secara mendalam di laboratorium.
Ia pun menegaskan bahwa material yang amat minim masih berpotensi besar untuk diteliti selama masih mengandung muatan sel yang memadai. Walau begitu, kondisi fisik materi amat krusial; bagian tubuh yang terkena paparan hawa panas berlebih atau pelapukan ekstrem kerap kali tidak lagi meninggalkan rantai DNA yang bisa dibaca mesin.
Pencocokan Profil Bersama Kerabat
Asan turut mengingatkan bahwa perolehan profil DNA dari sebuah bukti belum serta-merta mampu menyebutkan identitas nama korban. Data genetik tersebut wajib dihadapkan dan dipadankan dengan sampel pembanding dari kerabat dekat guna mengunci kepastian identitas mendiang.
Secara operasional, keluarga sedarah yang memasukkan berkas pengaduan orang hilang dapat menyumbangkan sampel genetik mereka selaku pihak pembanding. Apabila timbul sejumlah laporan keluarga hilang, seluruh sampel kerabat tersebut bakal disandingkan dengan materi biologis yang didapatkan dari TKP.
Asan menegaskan kembali bahwa penelusuran DNA mempunyai tingkat keakuratan yang jauh melampaui pengujian tipe golongan darah untuk keperluan pelacakan individu.
Peranan Antropologi Forensik
Tak hanya mengandalkan kode genetika, keilmuan antropologi forensik juga memegang peran vital dalam mengenali sosok korban. Cabang ilmu ini fokus menganalisis ciri ragawi manusia melalui serpihan tulang untuk memperkirakan jenis kelamin, perkiraan postur tinggi, dan tanda anatomis lainnya.
Jika yang tersisa sekadar bongkahan atau patahan tulang spesifik, telaah bentuk morfologi tulang tetap mampu menyajikan sketsa gambaran korban sewaktu masih hidup. Informasi visual tersebut selanjutnya akan disinkronkan dengan kesaksian pihak keluarga yang merasa kehilangan anggota famili.
Metode ini terbukti sangat ampuh sewaktu wajah maupun anatomi fisik luar telah sirna total. Penaksiran antropologis menjadi sarana pelengkap krusial di saat ketersediaan materi genetika sangat sedikit atau proses uji DNA menemui jalan buntu.
Batas Akhir Penyingkapan Identitas
Asan menggarisbawahi bahwa sederet teknologi forensik modern tidak otomatis memberi jaminan bahwa jasad dengan kehancuran luar biasa pasti terungkap. Titik keberhasilan sepenuhnya bersandar pada mutu material yang ada serta keberadaan sampel pembanding yang absah.
Jika yang terselamatkan cuma jaringan yang rusak parah tanpa ditunjang pembanding biologis keluarga maupun arsip resmi, tim spesialis lazimnya hanya bisa menerka parameter kelamin, perkiraan tinggi, serta karakter umum. Namun, mengaitkannya pada nama terang korban menjadi misi yang teramat sulit.
Berdasarkan pandangannya, kemudahan identifikasi bukan semata dipengaruhi oleh kondisi jenazah. Kualitas sisa jaringan, keutuhan genetika, serta kehadiran data keluarga kandung menjadi kunci utama pengungkapan identitas personal.
Simak terus laporan terkini dan tepercaya melalui saluran Berita Liputan6.







