Kurs rupiah bertengger di posisi Rp17.818 per dolar AS pada penutupan transaksi Rabu (23/9) sore. Mata uang Garuda berhasil menanjak sebesar 66 poin atau naik 0,37 persen dari sesi sebelumnya.
Kenaikan rupiah berlangsung ketika laju mata uang di kawasan Asia bergerak variatif saat berhadapan dengan greenback. Peso Filipina turut terangkat 0,13 persen.
Sebaliknya, deretan valuta Asia terpantau tertekan. Yuan China terkoreksi 0,10 persen, ringgit Malaysia merosot 0,08 persen, dolar Singapura turun 0,17 persen, yen Jepang tergelincir 0,29 persen, serta won Korea Selatan anjlok 0,90 persen. Sedangkan dolar Hong Kong stagnan.
Pada waktu yang sama, hampir seluruh mata uang negara-negara maju serentak tergerus melawan dolar AS. Euro terperosok 0,24 persen, poundsterling Inggris terkikis 0,31 persen, dolar Australia melemah 0,41 persen, dolar Kanada terdepresiasi 0,14 persen, dan franc Swiss menyusut 0,22 persen.
Analis pasar uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menuturkan bahwa kenaikan rupiah pada sesi ini terjadi seusai mata uang domestik sempat tertekan sepanjang beberapa hari belakangan.
"Rupiah ditutup di level Rp17.818 per dolar AS, rebound tajam setelah beberapa sesi melemah, meski hasil RDG BI relatif sesuai ekspektasi," tutur Lukman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).
Ia memandang bahwa apresiasi nilai tukar kemungkinan besar didorong aksi intervensi Bank Indonesia (BI) dan likuidasi posisi dolar AS pasca keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang sejalan dengan estimasi pelaku pasar.
"Penguatan ini kemungkinan lebih dipengaruhi intervensi BI dan unwinding posisi dolar setelah tidak ada kejutan dalam rapat tersebut, atau buy the rumor, sell the fact," jelasnya.
