Mengenal IPAL Losari Makassar, Pengolah Air Limbah Raksasa di Kawasan Timur Indonesia

Posted on
banner 336x280

Kota Makassar kini memiliki sarana sanitasi terluas di kawasan timur nusantara lewat kehadiran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari. Fasilitas strategis berskala besar ini berhasil dibangun berkat kucuran pendanaan serta kemitraan dari Asian Development Bank (ADB).

Pengerjaan infrastruktur tersebut telah berlangsung semenjak tahun 2019 dan secara formal dibuka pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo pada 2024 silam. Hingga sekarang, sarana ini terhubung dengan 14.000 titik saluran pembuangan sanitasi serta sanggup menyulap sebanyak 1.200 meter kubik limbah cair menjadi air bersih setiap hari.

banner 468x60

Pembangunan infrastruktur dengan total nilai investasi Rp 1,2 triliun tersebut memperoleh sokongan utang pembiayaan dari pihak ADB berkisar Rp 672 miliar. Dari segi rancangan teknis, instalasi ini sebenarnya memiliki kapasitas total guna memproses air limbah buangan warga dari empat wilayah kecamatan di Kota Makassar hingga 16.000 meter kubik per hari.

Ketika melakukan inspeksi operasional pada Rabu, 21 Oktober 2026, Direktur ADB untuk Indonesia Bobur Alimov mengungkapkan, daya tampung riil IPAL Losari masih menyisakan ruang ekspansi yang sangat luas untuk pengolahan limbah cair rumah tangga, mengingat kapasitas yang terpakai saat ini baru menyentuh angka 1.200 meter kubik setiap harinya.

"Bahwa instalasi ini belum beroperasi pada kapasitas penuh. Jika kita menambahkan lebih banyak sambungan, maka ada potensi yang sangat besar untuk berekspansi lebih jauh lagi," papar Bobur Alimov.

Menurut pandangan Bobur, kota-kota besar di tanah air yang tengah bertumbuh cepat serta kian padat penduduknya sangat mendesak membutuhkan sarana sanitasi mumpuni demi menyeimbangkan volume buangan air kotor. Tanpa ketersediaan fasilitas pengolahan memadai, risiko buruk terhadap kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan hidup akan semakin mengkhawatirkan.

"Jadi, investasi di bidang sanitasi bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang kesehatan masyarakat, tentang perlindungan lingkungan, tentang membuat kota-kota menjadi lebih layak huni," tegas Bobur.

Lantaran pertimbangan penting itulah, sebagai mitra strategis agenda pembangunan Republik Indonesia, pihak perbankan ADB berkomitmen terus mengawal penguatan sarana pengolahan limbah perkotaan secara berkelanjutan di masa depan.

"Saya berharap setiap kota di Indonesia akan memiliki fasilitas ini, dan kita tidak akan melihat air limbah itu lagi. Dan planet kita memiliki kemampuan yang fantastis untuk pulih dengan sendirinya. Jadi, kita perlu membantu proses pemulihannya, sehingga kita harus berhenti mencemari lingkungan lebih jauh lagi," ucapnya menambahkan.

Perlu dicatat pula, pembangunan fisik IPAL Losari ini masuk ke dalam agenda Metropolitan Sanitation Management Investment Program (MSMIP) naungan ADB. Selain kawasan Makassar, realisasi pembiayaan infrastruktur sanitasi modern tersebut juga mencakup wilayah Kota Jambi serta Kota Pekanbaru, menelan anggaran total menyentuh angka US$ 301,81 juta.

Dalam pembagian pembiayaan proyek berskala internasional tersebut, ADB menyumbang porsi pendanaan US$ 79,36 juta. Selanjutnya, pembiayaan patungan turut disokong ASEAN Infrastructure Fund senilai US$ 35,45 juta, serta hibah luar negeri Pemerintah Australia sebesar US$ 47,65 juta. Pemerintah Indonesia sendiri ikut mengalokasikan anggaran pendamping mencapai US$ 139,35 juta.

Kehadiran program terpadu ini sengaja digagas guna menjawab rendahnya jangkauan sistem pembuangan air limbah perkotaan, memperluas akses penampungan limbah cair yang aman dan fasilitas pemrosesan higienis, sekaligus memperkokoh kapasitas kelembagaan lokal dalam operasional maupun perawatan sarana jangka panjang.

Secara keseluruhan, tiga fasilitas instalasi pengolahan air limbah (WWTP) terpadu di Jambi, Makassar, dan Pekanbaru mengantongi kapasitas akumulatif 31,7 megaliter per hari dan telah beroperasi penuh, ditopang jaringan perpipaan limbah bawah tanah sepanjang 159,4 kilometer.

Sejalan dengan ekspansi instalasi sambungan baru dari capaian sebelumnya yakni 1.475 unit rumah tangga dan 147 gedung komersial, keseluruhan sistem pengolahan limbah cair ini diproyeksikan mampu melayani kebutuhan sanitasi lebih dari 34.000 rumah tangga serta 10.400 unit properti komersial perkotaan.

Di samping itu, inisiatif pembangunan sanitasi ini memberikan prioritas utama kepada kalangan keluarga berpenghasilan rendah beserta rumah tangga yang dikepalai perempuan, melalui penyediaan akses skema tarif bersubsidi dan fasilitas sambungan cuma-cuma untuk jaringan pembuangan limbah domestik.

banner 336x280