Pemerintah terus menggulirkan beragam agenda perbaikan sektor pendidikan menyasar para peserta didik, fasilitas gedung sekolah, hingga tenaga pendidik seusai bencana alam melanda Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, sebagaimana diungkapkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.
Keterangan itu dipaparkan Mu’ti saat mendampingi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, yang menjabat Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera.
"Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ada lima program yang kami selenggarakan," cetus Mu’ti seusai agenda Rapat Koordinasi Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumut, Sumbar di Bidang Pendidikan yang digelar di Posko Satgas PRR, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Mu’ti memerinci, langkah pertama fokus pada renovasi infrastruktur pendidikan, mulai dari gedung sekolah berkategori kerusakan ringan, rusak parah, hingga pembangunan total dari awal untuk gedung yang roboh seutuhnya. Ia menegaskan konstruksi fisik sarana sekolah merupakan agenda mendasar.
"Yang kedua adalah program pemenuhan sarana dan prasarana pembelajaran. Jadi, kami memberikan bantuan untuk sekolah-sekolah itu, pertama peralatan belajar seperti meja, kursi, laboratorium, dan sebagainya, kemudian buku-buku pelajaran, dan juga bantuan-bantuan untuk mendukung dan memastikan pembelajaran berlangsung sebagaimana mestinya," beber Mu’ti.
Program Lanjutan Pemulihan
Langkah ketiga, papar Mu’ti, mencakup penguatan kapasitas tenaga pendidik melalui ragam pelatihan sekaligus penyaluran insentif finansial.
"Kami memberikan insentif untuk guru-guru yang terdampak maupun tenaga kependidikan yang terdampak, nanti angka-angkanya semua ada di sini," tuturnya.
Tak berhenti di situ, Mu’ti menambahkan bakal diselenggarakan pelatihan mitigasi dan tanggap bencana, disusul pendampingan psikososial agar dewan guru terampil melakukan bimbingan serta konseling kepada para peserta didik korban bencana.
"Kemudian yang keempat adalah bantuan yang kami berikan kepada satuan pendidikan untuk mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya dukungan kegiatan belajar, tidak semuanya harus kegiatan kurikuler, tentu juga kegiatan di luar itu dalam bentuk konseling dan sebagainya," urai dia.
Mu’ti menyatakan pihaknya menggandeng pelbagai lembaga kemitraan demi memfasilitasi pendampingan psikologis mendalam untuk murid, wali murid, hingga para guru terdampak bencana.
"Dan yang kelima, yang terakhir yang kami lakukan adalah bagaimana kami berusaha semaksimal mungkin agar semua kegiatan pembelajaran dapat terlaksana sebaik-baiknya, terutama adalah untuk kelas 12 yang nanti di bulan Oktober ini akan menyelenggarakan tes kemampuan akademik," terang Mu’ti.
Mu’ti menyebut seluruh data telah dihimpun guna memastikan murid jenjang SMA sederajat mampu mengikuti tes kemampuan akademik Oktober mendatang secara lancar, baik menempati gedung sendiri maupun menumpang pada instansi pendidikan tetangga.
Ia memastikan mayoritas siswa kini sudah kembali beraktivitas di lokasi sekolah masing-masing.
"Sebagian besar sekolah itu sudah belajar di sekolah asal, di sekolah sendiri, hanya ada beberapa sekolah yang memang masih menumpang di sekolah lain," terang Mu’ti menutup keterangannya.
