Lonjakan Harga Pangan Indonesia Tembus Posisi Tiga Terbesar, Kalah dari India dan Filipina

Posted on

Jakarta – Gelombang inflasi yang dipicu meroketnya tarif energi serta komoditas pangan kini tidak cuma melanda pasar domestik, melainkan turut membayangi berbagai negara berkembang lain. Kendati laju inflasi umum di Indonesia masih terbilang lebih moderat daripada sejumlah negara rekanan, laju lonjakan harga pangan di Tanah Air tetap terhitung amat tinggi.

Mengacu pada kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), angka inflasi umum tahunan nasional tercatat menyentuh 3,19% (year-on-year/yoy) pada periode Agustus 2026. Realisasi ini jauh lebih jinak dibandingkan Filipina yang menyentuh 6,15%, India dengan 4,82%, maupun Afrika Selatan yang berada pada kisaran 4,17%.

Kendati demikian, catatan laju inflasi Indonesia ternyata masih melampaui capaian Thailand yang berada di level 2,53% serta Malaysia yang hanya mencapai 1,93%.

Pihak LPEM FEB UI menguraikan bahwa memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang mengunci nilai minyak mentah pada posisi mahal, ditambah arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang condong tetap ketat, menjadi pemicu eksternal utama yang memengaruhi dinamika inflasi kelompok negara tersebut.

"Eskalasi konflik di Timur Tengah yang menahan harga minyak mentah pada level tinggi serta arah kebijakan The Fed yang masih cenderung ketat menjadi faktor eksternal yang relatif seragam bagi kelompok negara ini," papar LPEM FEB UI melalui laporan resminya, dikutip pada Selasa (20/10/2026).

Walaupun didera oleh guncangan faktor luar yang nyaris seragam, intensitas beserta struktur inflasi pada tiap-tiap yurisdiksi memperlihatkan disparitas. Situasi tersebut sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi warga, skema subsidi tarif energi, ketersediaan pasokan bahan pangan pokok, sampai ketetapan target inflasi dari otoritas masing-masing negara.

Filipina menduduki ranking teratas inflasi umum, dipicu utamanya oleh kenaikan tajam komoditas beras hingga menembus 19,4% yoy, di samping pembengkakan tarif transportasi lokal.

Sebaliknya, Negeri Jiran Malaysia sanggup mencatatkan laju inflasi paling terkendali dari enam negara yang diamati. Eskalasi harga di wilayah tersebut bergerak sangat terbatas dan hanya bersumber dari sektor transportasi, logistik makanan, serta tempat tinggal.

Sementara pada waktu yang sama, tingkat inflasi Thailand terpantau relatif aman, meski mulai merangkak naik akibat penyesuaian biaya bahan bakar serta komoditas makanan.

Laju Inflasi Pangan Domestik Duduki Peringkat Tiga Teratas

Di balik capaian inflasi umum yang terlihat cukup stabil, beban kenaikan harga bahan pokok pangan di Tanah Air sejatinya berada pada tingkat yang cukup mengkhawatirkan dibandingkan kelompok negara pembanding.

Riset LPEM FEB UI mencatat bahwa inflasi bahan makanan di Indonesia mencapai level 3,86% yoy sepanjang Agustus 2026. Persentase tersebut otomatis menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga teratas, tepat berada di bawah India yang mencatat 5,66% dan Filipina di posisi 4,56%.

Sebagai perbandingan, inflasi pangan di Thailand berada di angka 2,99%, Malaysia menyentuh 1,90%, serta Afrika Selatan menjadi yang terendah dengan capaian cuma 0,86%.

"Terlepas dari perbedaan keranjang pengeluaran pangan setiap negara, laju kenaikan harga ini menjadi salah satu indikasi relatif yang menunjukkan berlangsungnya tekanan harga pangan bukan hanya di Indonesia, tetapi juga beberapa negara berkembang lainnya," beber tim analis LPEM FEB UI.

Pada kasus India, tingginya lonjakan inflasi pangan bersumber dari meroketnya nilai aneka bumbu dapur penting seperti komoditas jahe, bawang merah, beserta bawang putih. Padahal dalam periode yang persis sama, kelompok sayur-mayur seperti tomat dan kentang justru tengah mengalami penurunan banderol.

Adapun inflasi pangan pada kawasan Afrika Selatan masih bertahan di level teramat rendah dan baru mulai memperlihatkan pergerakan tipis setelah jeda selama sembilan bulan berturut-turut.

Diferensiasi Harga Energi Berkat Campur Tangan Otoritas

Kesenjangan tekanan laju inflasi antarwilayah ini juga terlihat amat nyata dalam sektor energi. Filipina kembali membukukan rekor kenaikan energi tertinggi hingga 16,79% yoy, yang dipicu melonjaknya biaya operasional bahan bakar armada transportasi dan ongkos utilitas publik.

Afrika Selatan bertengger di urutan selanjutnya dengan inflasi energi mencapai 7,35%, salah satunya disebabkan penyesuaian tarif listrik nasional. Pihak regulator energi setempat, NERSA, telah merestui lonjakan tarif listrik Eskom berkisar 8,76% bagi pelanggan langsung sejak 1 April 2026 dan 9,01% untuk kelompok pemda mulai 1 Juli 2026.

Kondisi berkebalikan terjadi di Thailand, di mana sektor energinya justru mengalami fase deflasi tahunan di level 0,44%.

Bagi Indonesia, nilai inflasi kelompok energi berada di kisaran 3,18% yoy. Angka ini relatif sejajar dengan pencapaian India sebesar 3,10% dan catatan Malaysia di level 3,26%.

LPEM FEB UI menggarisbawahi bahwa komparasi inflasi sektor energi ini tidak serta-merta bisa dijadikan tolok ukur tunggal dalam mengevaluasi efektivitas intervensi harga antarnegara. Kendati demikian, komparasi tersebut membuktikan bahwa guncangan nilai minyak dunia yang serempak bisa menghadirkan imbas bervariasi, tergantung intervensi harga energi dari tiap pemerintah, terkhusus pada segmen ketenagalistrikan serta bahan bakar.

Khusus di kawasan Indonesia, efek pergerakan minyak mentah global mampu diredam lantaran pihak regulator menjamin tarif BBM bersubsidi bagi masyarakat luas, yaitu produk Pertalite dan Biosolar, dipastikan tidak mengalami lonjakan sampai pengujung 2026, seperti yang diungkapkan LPEM FEB UI.

Maka dari itu, meski posisi inflasi umum Indonesia masih bertengger di papan tengah jika dikomparasikan dengan negara sejenis, fluktuasi harga bahan pangan pokok tetap mendesak untuk diwaspadai. Tren dinamika komoditas konsumsi serta arah intervensi bahan bakar bakal menjadi instrumen krusial dalam mendikte proyeksi inflasi dalam negeri ke depan.