Jakarta, CNBC Indonesia – Program hilirisasi material komponen baterai lithium kendaraan listrik (EV) di Indonesia telah resmi berjalan. Data Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperlihatkan bahwa produk-produk tersebut sekarang bahkan berhasil dikapalkan menuju sejumlah negara rekanan.
DEN menyatakan, sektor hilirisasi bahan baterai nasional menjadi industri anyar berkecepatan tumbuh tertinggi. Ragam komoditas ekspornya kian bervariasi melampaui nikel, mencakup litium hidroksida serta karbonat, prekursor, material anoda, katoda LFP, lembaran foil tembaga, hingga sel baterai.
Septian Hario Seto selaku Anggota merangkap Sekretaris Eksekutif DEN membeberkan adanya lonjakan drastis pengiriman ekspor komponen tersebut. "Ekspor naik dari US$ 92 juta pada 2024 menjadi US$ 887 juta pada 2025, dan diproyeksikan mencapai US$3,1 miliar pada 2026," ungkap Seto lewat data untuk CNBC Indonesia, Kamis (20/10/2026).
Tujuan distribusi terbesar produk baterai ini tersebar luas. Amerika Serikat menyerap 39%, didominasi kebutuhan katoda LFP serta anoda. Tiongkok menampung 38%, mayoritas berwujud litium. Sementara itu, Korea Selatan mengambil porsi 16%, khususnya prekursor.
"Ekspor sel baterai mencapai sekitar US$600 juta sampai dengan Agustus 2026, sebagian besar ke Korea Selatan. Sampai dengan akhir tahun, diperkirakan nilainya akan melebihi US$ 900 juta dolar, atau naik lebih dari 50% dibandingkan tahun 2024," papar Seto.
Seto berpendapat, kepiawaian domestik mencetak anoda dan lithium hidroksida/karbonat membuktikan industri nasional berhasil memproses bahan mentah yang sebetulnya bukan berasal dari bumi Indonesia, contohnya spodumene atau konsentrat litium serta grafit yang menjadi pondasi dua material kunci tadi.







