Jakarta, CNBC Indonesia – Data Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperlihatkan angka output nikel olahan domestik menyentuh 2,5 juta ton sepanjang 2025. Jumlah raksasa tersebut mengukuhkan dominasi Indonesia selaku penyuplai utama yang memenuhi kisaran 60% kebutuhan nikel di kancah global.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menerangkan total daya tampung pabrik pemurnian nikel di tanah air pada 2025 telah berada pada posisi 2,7 juta ton Ni. Volume tersebut bersumber dari operasional fasilitas pemurnian jalur pirometalurgi maupun hidrometalurgi yang aktif beroperasi di dalam negeri saat ini.
"Pada tahun 2025 total produksi nikel nasional telah mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk intermediate (setengah jadi) yang terdiri dari 2,05 juta berupa produk-produk NPI, FeNi dan Matte, serta 450 ribu ton nikel dalam bentuk MHP – Nikel Sulfat," kata Arif kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).
Asosiasi memprediksi hasil pemrosesan nikel nasional pada 2026 mendatang berpotensi terkoreksi sekitar 3,5% sampai 4% ketimbang torehan 2025. Kendati menyusut sesaat, tingkat pasokan diperkirakan berbalik melonjak pada 2027 seiring masuknya kapasitas anyar dari deretan proyek pabrik baru.
"Pada tahun 2027 akan ditandai oleh penambahan kapasitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh," jelasnya.
Pengembangan fasilitas HPAL tersebut difokuskan guna memasok kebutuhan nikel untuk ekosistem baterai kendaraan listrik. Kapasitas output MHP nasional yang berada di level 450 ribu ton pada 2025 diprediksi menanjak melampaui 900 ribu ton nikel per akhir tahun 2027.
"Jumlah produksi sebesar itu telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia (~60%)," tegas Arif.
Rencana Pembatasan Pembangunan Smelter Nikel
Sebelum ini, pemerintah tengah menimbang kebijakan jeda atau pembatasan terhadap pendirian pabrik pengolahan nikel yang fokus pada barang setengah jadi. Langkah tersebut dirancang demi mengatasi kelebihan pasokan di level internasional yang menekan nilai jual nikel dunia.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kebanyakan pabrik pemurnian nikel kini baru menghasilkan produk mentah lanjutan pada level 50-60%. Menurutnya, volume ketersediaan barang telah melebihi serapan riil pasar hingga mencapai 2,5 juta ton sehingga berdampak pada turunnya tarif nikel dunia.
"Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung," kata Bahlil di perhelatan Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Bahlil memastikan otoritas negara siap membatasi kuota produksi agar kekayaan mineral nusantara tidak terdiskon ketika pasar mengalami kejenuhan. Kendati kapasitas teoritis smelter tercatat sangat besar, realisasi produksi lapangan akan dipangkas serta disinkronkan terhadap pergerakan penawaran dan permintaan dunia.
"Sekalipun kapasitas terpasang contoh katakanlah 10, mungkin yang akan bisa berproduksi selama kita masih terjadi oversupply tidak sampai 10. Itu yang kita akan atur ya. Kalau kita mengikuti terus permintaan smelter, itu harga kita pasti akan jatuh," tuturnya.
Selain melindungi stabilitas harga serta memaksimalkan pemasukan devisa negara, manajemen kuota tambang ditujukan untuk memelihara kelestarian cadangan mineral bumi pertiwi. Bahlil kembali menegaskan bahwa sumber daya tambang seperti nikel tidak dapat terbarukan laiknya komoditas perkebunan.
"Kalau harganya lagi anjlok, jangan kita juga banjiri, nanti barang kita murah. Kita kan enggak mau barang kita dijual murah. Kalau nikel, batu bara, diambil kan enggak bisa berbuah. Jadi tolong kita jaga ini juga harus berkelanjutan untuk masa depan bangsa ya," pungkas Bahlil.








