Kondisi atmosfer di Singapura terpantau masih masuk pada rentang tidak sehat pada Sabtu (10/10) pagi, setelah kepekatan polusi asap membukukan rekor terburuk sepanjang tahun ini pada Jumat (9/10).
Merujuk catatan resmi Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura pukul 07.00 waktu setempat, indikator Pollutant Standards Index (PSI) durasi 24 jam bertengger di level 176 untuk kawasan sentral, 162 pada teritori barat, 157 di timur, 141 di selatan, serta 125 di bagian utara.
Walaupun catatan tersebut memperlihatkan tren melandai tipis dari level puncak tahunan pada Jumat (9/10) senja yang pernah menyentuh 192 di area sentral, seluruh zona di Singapura dipastikan berada di atas batasan toleransi sehat 100.
Sebagaimana diwartakan CNA pada Sabtu (10/10), partikel asap tebal ini dipicu oleh kobaran kebakaran hutan dan lahan di teritori Sumatra selatan serta Kalimantan, yang tersapu tiupan angin menuju daratan Singapura.
Guna merespons kondisi krisis tersebut, Satuan Tugas Kabut Asap Singapura yang menghimpun 28 instansi pemerintahan telah disiagakan penuh guna mengaktifkan rangkaian protokol kedaruratan andai PSI menembus batas 200.
Ketika batas 200 terlampaui, deretan langkah penanganan akan segera digulirkan, mulai dari distribusi massal masker pelindung N95, pengoperasian ruang penampungan berpenyejuk udara, sampai penyetopan aktivitas luar ruang bagi kelompok anak maupun tenaga kerja lapangan.
Krisis polusi udara ini berlangsung bersamaan dengan agenda bergengsi Formula 1 Singapore Grand Prix di Sirkuit Marina Bay, yang dijadwalkan menyelenggarakan balapan sprint perdana pada Sabtu (10/10).
Kondisi atmosfer yang terus memburuk ini menarik perhatian serius pembalap Formula 1 Carlos Sainz Jr. di tengah rangkaian kompetisi Grand Prix Singapura pekan ini.
Pembalap dari tim Williams tersebut mengaku terus mengamati dinamika mutu udara di arena perlombaan sekaligus menyampaikan rasa cemasnya atas potensi ancaman kebugaran fisik.
"Saya membaca beberapa informasi soal itu. Rasanya ini bukan tempat paling sehat untuk bernapas saat ini, mengingat tingginya tingkat polusi akibat kebakaran di Indonesia," ucap Sainz dikutip dari Racing News 365, Jumat (9/10).
Sainz menyoroti pertentangan situasi di mana pengemudi dituntut memacu fisik secara intensif di ruang terbuka, sementara masyarakat luas diinstruksikan membatasi kegiatan luar ruangan demi kesehatan.
Kendati demikian, dirinya menyatakan bahwa para pengemudi jet darat akan sepenuhnya patuh pada setiap instruksi pihak berwenang beserta pengelola event.
"Pada kasus seperti ini, kami selalu berpatokan pada apa yang dikatakan otoritas. Lagi pula, ini olahraga yang unik. Saat membalap, kami sudah terbiasa menghirup sisa pembakaran bahan bakar dari mobil di depan sejak berusia 11 atau 12 tahun," sebutnya.
"Jadi memang diperdebatkan apakah ini olahraga yang sehat atau tidak, tetapi kami menyukainya," ungkap pembalap berpaspor Spanyol yang sukses merengkuh juara GP Singapura edisi 2023 itu.
"Soal kabut asap ini tentu hal yang berbeda, tetapi kami harus tetap mengikuti keputusan resmi dari pihak berwenang," pungkasnya.
Manajemen F1 bersama panitia penyelenggara setempat menegaskan terus memonitor fluktuasi indeks lingkungan serta telah merumuskan berbagai mitigasi darurat.
Sampai detik ini, parameter sirkuit dipandang masih berada dalam batas aman dan belum muncul rencana penundaan maupun pembatalan jadwal balap.
