Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada 24 September 2026. Pertemuan bilateral tingkat tinggi tersebut merupakan agenda tatap muka kedua bagi kedua kepala negara sepanjang tahun ini guna meredakan perselisihan diplomatik AS-China.
Diskusi puncak antara Trump dan Xi diprediksi tidak cuma mengulas urusan perniagaan internasional semata. Berbagai permasalahan krusial berbobot strategis turut disiapkan, di mana terdapat enam pembahasan pokok yang bakal menjadi perbincangan utama kedua pemimpin adidaya tersebut.
Sebagaimana diberitakan Reuters pada Jumat (18/9/2026), terdapat enam isu panas yang segera dibawa menuju meja perundingan bilateral.
1. Perang Dagang dan Tarif
Dinamika sektor perdagangan diperkirakan tetap bertengger sebagai materi pembahasan paling utama bagi Trump bersama Xi. Kalangan pelaku pasar menaruh perhatian penuh pada potensi perpanjangan kesepakatan jeda tarif impor yang dijadwalkan usai per 10 November, menyusul ketegangan retaliasi tarif yang sebelumnya saling melompat melampaui level 100%.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan bahwa kedua pemerintah hendak meluncurkan “sejumlah pengumuman terkait pertanian dan hambatan non-tarif”. Di samping itu, Washington dan Beijing juga merundingkan pemangkasan tarif timbal balik terhadap arus peredaran komoditas dagang bernilai US$30 miliar atau setara Rp528 triliun.
2. Boeing, Produk Pertanian, dan Teknologi
Trump diperkirakan berupaya mengamankan kontrak pengadaan barang bernilai fantastis dari China, khususnya armada pesawat terbang Boeing serta pasokan komoditas pangan AS. Pemerintah China sebelumnya sudah menyatakan niat mendatangkan 200 unit pesawat tambahan buatan Boeing, sedangkan diskusi yang lebih menyeluruh dapat mencakup pengadaan sampai 500 unit seri 737 MAX beserta armada berbadan lebar.
Sebaliknya, pihak Beijing mendesak Washington segera menangguhkan penerapan regulasi baru yang berpotensi memblokir ribuan entitas bisnis China dari akses teknologi mutakhir AS. Pada saat bersamaan, pihak AS mendorong pemulihan keran ekspor elemen tanah jarang dan bahan mineral penting dari China demi kebutuhan industri otomotif, penerbangan, teknologi canggih, serta persenjataan.
3. Geopolitik Taiwan
Permasalahan kedaulatan Taiwan tetap menjadi pokok bahasan paling sensitif pada konferensi tersebut. Trump sebelumnya sempat mengungkapkan bahwa Xi memberikan tekanan keras kepadanya terkait suplai persenjataan militer AS menuju Taiwan, yang mencakup paket penjualan hingga senilai US$14 miliar atau kisaran Rp246,4 triliun.
Otoritas Beijing turut dilaporkan menginginkan Trump menyatakan sikap terbuka bahwa AS menentang kemerdekaan Taiwan, berbeda dibandingkan komitmen diplomatik lama Washington yang selama ini cuma sebatas “tidak mendukung” kemerdekaan Taiwan. Modifikasi artikulasi kebijakan luar negeri tersebut dinilai sangat rentan memicu polemik sengit dalam lingkup parlemen Kongres AS.
4. Konflik Hubungan Iran
Dinamika peperangan Iran juga diprediksi masuk ke dalam agenda pembicaraan, mengingat keakraban relasi antara Beijing bersama Teheran serta predikat China sebagai konsumen minyak bumi ekspor terbesar milik Iran. Pemerintah AS menilai China memiliki pengaruh politik besar terhadap Iran, kendati Negeri Panda sejauh ini belum menunjukkan dorongan nyata untuk mengendalikan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menerangkan rencananya menggelar pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng jelang agenda utama Trump-Xi. Bessent menegaskan bahwa interaksi sistem perbankan serta finansial China dengan Iran dipastikan kembali diangkat dalam negosiasi langsung kedua pucuk pimpinan.
5. Kecerdasan Buatan (AI)
Adu dominasi pada sektor AI menjadi topik penting berikutnya lantaran peranti inovasi ini bertalian erat dengan proteksi keamanan nasional, keunggulan daya saing industri, serta supremasi teknologi pertahanan kedua negara. Kendati otoritas AS bersama China sama-sama menyimpan kekhawatiran atas potensi penyalahgunaan sistem kecerdasan digital, rivalitas kedua poros ini diproyeksikan mempersempit ruang kolaborasi.
Bessent mengonfirmasi keterbukaan AS dalam membedah risiko bahaya bersama China perihal perkembangan AI. Kendati demikian, gesekan menuju kontrol mutlak pasar kecerdasan buatan terus memanas, di mana CEO Anthropic Dario Amodei telah memperingatkan bahaya ketahanan nasional jika China mendominasi ekosistem AI dunia.
6. Aliran Prekursor Fentanil
Otoritas Washington diprediksi kembali melancarkan desakan keras kepada Beijing demi membendung laju distribusi material prekursor fentanil ke yurisdiksi AS. Birokrasi pimpinan Trump sebelumnya kerap mengkritik pemerintah China karena dinilai belum maksimal dalam melumpuhkan jaringan perniagaan zat kimia pembuat narkotika mematikan tersebut.
Direktur FBI Kash Patel menuturkan bahwa aparat keamanan AS telah meresmikan kerangka kolaborasi hukum terbaru bersama otoritas China demi mencegat peredaran gelap pasokan prekursor fentanil. Agenda ini melengkapi deretan isu stabilitas keamanan bersama yang wajib dirampungkan demi memelihara ketenangan ikatan kedua negara.







