Krisis Utang Prancis Memanas, Bos UBS Bunyikan Alarm Bahaya Bagi Eropa

Posted on
banner 336x280

Lembaga perbankan sekaligus entitas jasa keuangan multinasional UBS melayangkan peringatan serius kepada Prancis sebagai kekuatan besar Eropa. Chief Executive Officer (CEO) UBS Sergio Ermotti bahkan mendesak penerapan kebijakan drastis demi menanggulangi lonjakan krisis beban utang negara tersebut, sembari menegaskan bahwa tindakan penyesuaian skala kecil tidak akan sanggup menuntaskan persoalan genting tersebut. Menyadur CNBC Internasional, Rabu (7/10/2026), Ermotti menyandingkan turbulensi yang sedang melanda pasar obligasi Eropa saat ini dengan krisis utang zona euro pada tahun 2011 silam. Saat berbicara dalam program CNBC "Squawk On The Street" pada hari Selasa, ia mengingatkan bahwa besarnya skala perekonomian Prancis mengindikasikan beban utang kali ini bakal jauh lebih sukar ditangani.

"Kami telah melalui situasi serupa dalam 10 hingga 15 tahun terakhir di Spanyol, di Italia, di Yunani, di Portugal," tutur Ermotti. "Negara-negara yang mengalami krisis besar ini sekarang menjadi negara dengan kinerja terbaik di Eropa."

banner 468x60

Kawasan lain di daratan Eropa yang saat ini terbebani tekanan utang dipandang membutuhkan pendekatan serupa guna mengembalikan arah laju pertumbuhan ekonomi yang kredibel. Ketika dimintai konfirmasi mengenai kemungkinan perlunya program pengetatan anggaran secara menyeluruh, Ermotti memberikan respons lugas.

"Ini harus melalui langkah-langkah keras, perubahan kecil bertahap tidak akan cukup untuk menyelesaikan tumpukan utang yang besar," tegasnya.

Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Prancis, yang lazim dijuluki OAT, terbukti melesat tajam dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir akibat maraknya aksi jual surat berharga negara di seantero Eropa. Situasi ini mengemuka menyusul kecemasan pelaku pasar yang kian membubung terhadap kemerosotan kesehatan neraca fiskal negara itu.

Yield acuan obligasi tenor 10 tahun milik Prancis bertengger di posisi 4,7689% pada sesi Selasa sore usai terkoreksi tipis 9 basis poin. Biaya pinjaman Prancis saat ini bahkan telah melampaui level biaya berutang Yunani dan Italia.

Menyikapi ancaman keruntuhan ekonomi tersebut, calon presiden sayap kanan Marine Le Pen pada hari Selasa berkomitmen melancarkan pemotongan belanja negara secara masif demi menekan akumulasi utang. Ia turut memberikan peringatan terbuka bahwa Prancis berpotensi mengalami kebangkrutan atau gagal bayar atas seluruh kewajiban utangnya.

Head of Cross-Asset Credit di Federated Hermes, Mitch Reznick, menjelaskan lewat analisis tertulisnya bahwa Prancis saat ini telah bertransformasi menjadi pusat pusaran krisis pasar surat utang regional Eropa. "Utangnya semakin dihargai kurang seperti Eropa inti dan lebih seperti wilayah pinggiran," papar Reznick.

Ia menerangkan bahwa para pemilik modal saat ini bergegas melepaskan kepemilikan obligasi Prancis untuk mengamankan aset menuju Bund terbitan Jerman, sehingga kian merenggangkan gap atau spread imbal hasil keduanya. Reznick menganggap Bank Sentral Eropa (ECB) belum akan turun tangan pada momen ini, kendati narasi resminya berpeluang bergeser apabila pelebaran selisih imbal hasil terus memburuk.

"Selisih OAT-Bund telah bergerak di atas 140 basis poin, seiring perhatian yang beralih ke utang Prancis yang tinggi, defisit anggaran yang besar, peningkatan pasokan obligasi, dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden," pungkas Reznick.

banner 336x280