Krisis Ethiopia Memanas: Ancaman Perang Saudara Kembali Menghantui

Posted on
banner 336x280

Situasi keamanan di Ethiopia kembali terjerumus ke jurang konflik bersenjata berskala penuh sesudah faksi militer dari kawasan Tigray melancarkan rangkaian ofensif militer ke wilayah tetangga, yakni kawasan Afar serta Amhara. Eskalasi ketegangan kian memuncak menyusul bergabungnya berbagai kelompok milisi bersenjata ke dalam suatu koalisi gabungan baru yang memiliki sasaran bersama untuk melengserkan administrasi pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Abiy Ahmed.

Kekerasan yang kembali merebak ini memicu kepanikan mendalam terkait ancaman terulangnya kembali pertempuran berdarah masa lalu yang berlangsung pada rentang periode 2020 hingga 2022. Pertikaian sengit antara aparat militer reguler Ethiopia berhadapan dengan kubu Tigray People's Liberation Front (TPLF), yang merupakan entitas kekuatan politik sekaligus milisi utama yang mendominasi Tigray, pada masa tersebut diperkirakan telah merenggut nyawa sedikitnya 600.000 jiwa penduduk.

banner 468x60

Pada masa sekarang, masing-masing kubu yang bertikai saling melontarkan dakwaan dan tudingan seputar pihak yang paling bertanggung jawab atas pecahnya pertempuran secara terbuka.

Tepat pada hari Minggu (20/9/2026), sebanyak tujuh faksi kombatan bersenjata yang berasal dari beragam pelosok kawasan Ethiopia, termasuk kubu TPLF, secara bersama-sama mengumumkan berdirinya koalisi bersenjata Ethiopian Peoples' Forces Alliance for Survival. Pembentukan kongsi militer gabungan itu sengaja dirancang secara khusus untuk menggulingkan otoritas kekuasaan resmi yang berkedudukan di Addis Ababa.

Selang beberapa waktu kemudian, pada hari Rabu (23/9/2026), pasukan TPLF berhasil mengambil alih otoritas operasional atas tiga fasilitas bandar udara dari tangan unit kepolisian federal. Badan maskapai penerbangan nasional Ethiopian Airlines kemudian memutuskan untuk menunda seluruh rute layanan penerbangan menuju wilayah yang bersangkutan dengan memberikan alasan resmi berupa "karena situasi yang sedang berlangsung".

Unit tempur TPLF pun terus menggencarkan manuver serbuan bersenjata ke teritorial Afar serta Amhara. Salah seorang narasumber kemanusiaan lokal di Afar menyampaikan keterangannya kepada kantor berita AFP bahwa terdengar rentetan gempuran meriam artileri berat pada hari Kamis (24/9/2026) tatkala pasukan pemberontak TPLF berupaya mengamankan penguasaan atas Kota Yallo, suatu daerah permukiman strategis yang posisinya tidak jauh dari garis tapal batas Tigray.

Operasional layanan armada udara yang mengarah ke Lalibela, salah satu kota pusaka bernilai sejarah penting di Ethiopia, juga terpaksa ditiadakan pada hari Kamis menyusul pertempuran senjata yang berkecamuk hebat di kawasan sekitar kota tersebut.

Di pedalaman wilayah Tigray, para penduduk sipil mulai berbondong-bondong mengamankan cadangan bahan pangan pokok serta menarik simpanan uang tunai. Seorang warga setempat mengutarakan kepada kantor berita Reuters mengenai adanya kecemasan mendalam di kalangan masyarakat bahwa kawasan tempat tinggal mereka akan kembali mengalami pemblokiran dan isolasi militer seperti peristiwa masa perang yang lalu.

Kondisi penuh kepanikan serupa turut dilaporkan terjadi di Adigrat, sebuah kota yang posisinya berdekatan dengan tapal batas Eritrea. Seorang penduduk memaparkan terjadinya fenomena panic buying kebutuhan hidup harian di kalangan warga lokal sehingga tempat penyimpanan barang di berbagai gerai toko terpantau mulai kosong melompong.

"Kelangkaan makanan semakin memburuk karena rak-rak pasar kosong … Obat-obatan penting tetap langka dan harganya sangat mahal," demikian penuturannya kepada pihak Reuters. "Bertahan hidup setiap hari telah menjadi perhitungan yang terus-menerus."

Wakil Presiden kelompok TPLF Amanuel Assefa memberikan penjelasan bahwa keadaan di lapangan sekarang telah bertransformasi sepenuhnya menjadi arena pertempuran terbuka.

"Kami sekarang berada dalam situasi perang besar-besaran," tegas sosok Assefa ketika berbicara kepada perwakilan AFP.

Ia pun turut mengonfirmasi kebenaran bahwa laskar pejuang Tigray saat ini terjun ke medan laga bersama-sama dengan unsur kelompok milisi setempat di Afar serta Amhara.

Salah satu personel bidang pertahanan dan keamanan asing yang berkedudukan di Ethiopia menyampaikan kepada AFP bahwasanya pihak TPLF telah berhasil merebut kontrol atas Abala, daerah permukiman yang berada persis di perbatasan Tigray-Afar, pada Rabu. Perwakilan dari kubu TPLF mengklaim pihak pejuang mereka pun telah menguasai sejumlah kota permukiman lainnya di seantero kawasan Afar.

Informan intelijen keamanan itu turut menjelaskan bahwa bentrokan senjata juga meluas hingga ke sekitar Kota Weldiya, Amhara. Lokasi kawasan strategis ini dikenal berfungsi sebagai salah satu dari sangat sedikit koridor jalan utama yang masih bisa dilewati untuk menuju ke ibu kota negara Ethiopia.

Pihak kepemimpinan militer Ethiopia untuk kali pertama akhirnya memberikan rilis tanggapan resmi secara terbuka mengenai dinamika bentrokan bersenjata tersebut pada hari Kamis. Satuan militer bersenjata Ethiopia menyatakan pihaknya telah sukses mementahkan agresi serbuan pihak lawan serta berhasil menewaskan, melukai, maupun meringkus lebih dari 500 orang petarung dari faksi oposisi.

Kalangan pengamat militer dan analis politik memperkirakan bahwa pergerakan TPLF memperoleh sokongan logistik dari pihak Eritrea, negara tetangga yang telah lama menjadi rival bebuyutan Ethiopia. Pemerintah Eritrea disinyalir merasa khawatir apabila Ethiopia yang tidak memiliki garis pantai secara langsung sedang merancang skema agresi militer demi mengamankan kepemilikan akses teritorial menuju ke perairan Laut Merah.

Assefa secara terpisah menyatakan pihak kepemimpinan TPLF sama sekali tidak mengetahui perihal skenario atau manuver dari negara Eritrea.

"Kami tidak memiliki informasi mengenai rencana Eritrea," tutur dirinya di hadapan jurnalis AFP.

Manakala diajukan pertanyaan mengenai kemungkinan kelompok TPLF bakal memohon keterlibatan intervensi dari aparat Eritrea, Assefa memberikan respons singkat, "Belum."

Rangkaian dinamika kondisi paling anyar ini memperlihatkan adanya pergeseran drastis pada konfigurasi persekutuan kombatan bila dibandingkan dengan era perang saudara sebelumnya. Ketika bentrokan dahsyat meletus pada rentang 2020-2022, otoritas Eritrea bersama milisi Fano, kelompok perlawanan bersenjata yang kini justru beralih bergabung ke barisan koalisi baru, tercatat bahu-membahu bertempur di pihak aparat rezim Ethiopia untuk memukul mundur barisan pasukan Tigray.

Saat membacakan pidato resminya dalam gelaran Sidang Majelis Umum PBB pada hari Rabu, Presiden Ethiopia Taye Atske-Selassie Amde melontarkan kecaman keras terhadap kelompok yang ia juluki selaku "kekuatan penghancuran dan kekacauan" serta mengutuk "campur tangan dalam urusan dalam negeri kami oleh pihak-pihak yang bermusuhan".

Ia menegaskan bahwasanya negara Ethiopia selama ini telah memperlihatkan sikap "pengendalian diri yang luar biasa" sembari menyoroti keberhasilan terwujudnya perkembangan positif dalam jalinan diplomasi bersama sejumlah negara tetangga terdekatnya.

Juru bicara resmi Perdana Menteri Abiy, Billene Seyoum, memaparkan fakta bahwa anggota faksi di koalisi baru itu sejatinya telah berkolaborasi dalam kurun waktu tertentu melalui dukungan kucuran dana dari Eritrea. Kendati demikian, pihak otoritas Eritrea secara konsisten telah membantah keras klaim keterlibatan semacam itu.

Fraksi TPLF dalam catatan sejarahnya sempat memegang tampuk kemudi kekuasaan rezim pemerintahan federal Ethiopia pada era tahun 1991 hingga berakhir pada 2018. Pengaruh dominan kelompok tersebut selanjutnya tersingkir pasca naiknya Abiy ke panggung kepemimpinan, sebuah dinamika pergeseran kekuasaan yang pada gilirannya meletuskan api perang saudara.

Bentrokan bersenjata terkini menjadi ancaman dan tantangan paling berbahaya terhadap keberlangsungan Perjanjian Pretoria 2022, sebuah kesepakatan damai yang dahulu sukses menyudahi perang saudara serta menciptakan stabilitas yang relatif damai selama beberapa masa. Walau demikian, gesekan pertempuran bersenjata terpantau mulai pecah kembali terhitung sejak penghujung tahun lalu.

Kembalinya pertempuran berdarah memicu kekhawatiran global bahwa perang ini sanggup meluas menjadi krisis kawasan regional. Berbagai kelompok paramiliter bersenjata dari sejumlah negara di kawasan sekitarnya memiliki potensi kuat untuk ikut terseret masuk ke pusaran konflik, di tengah fakta bahwa zona geografis tersebut telah berada di bawah tekanan berat akibat peperangan internal di wilayah tetangga Sudan serta meningkatnya tensi ketegangan di sepanjang koridor pelayaran Laut Merah.

Pimpinan Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf pada Rabu menyerukan imbauan agar seluruh pihak menerapkan "pengendalian diri semaksimal mungkin" kepada seluruh faksi bersengketa sekaligus mendesak agar forum negosiasi langsung antarpihak dapat segera diaktifkan kembali.

Perwakilan dari lembaga Uni Eropa turut melontarkan seruan penting yang menuntut dilakukannya "deeskalasi segera" disertai pemenuhan komitmen penuh dari segenap pihak terhadap butir-butir kesepakatan Pretoria.

Pada masa perang saudara 2020-2022 lampau, kawasan Tigray hampir sepenuhnya terisolasi dari peradaban luar akibat pemutusan total terhadap seluruh jaringan infrastruktur telekomunikasi. Akses pasokan bahan makanan pokok, ketersediaan uang tunai, dan suplai obat-obatan vital turut dibatasi secara ketat, kondisi yang mengakibatkan ratusan ribu warga sipil menderita sengsara dalam krisis kemanusiaan yang teramat memilukan.

banner 336x280