Liputan6.com, Jakarta – Sosok Chief Content Officer (CCO) KapanLagi Youniverse (KLY) yang juga mewakili pihak keluarga almarhum Arie Basuki, Wenseslaus Manggut, ikut terjun secara langsung ke lokasi pencarian kelompok pewarta yang dikabarkan raib di kawasan perairan Selat Sunda.
Langkah Wens, nama panggilan akrab Wenseslaus Manggut, dalam melibatkan diri secara penuh pada penelusuran ini tidak melulu didorong posisinya selaku pimpinan tinggi di jajaran direksi KLY. Ikatan pertemanan lama menjadi alasan mendalam lainnya, sebab dirinya mengakui pernah berada dalam satu penugasan bersama Arie Basuki ketika dirinya masih bertugas aktif menjadi wartawan lapangan.
"Saya mungkin tidak bisa mewakili sepenuhnya keluarganya Mas Arie. Saya mewakili Arbas, bahwa saya mengenal baik Arie sejak lama," jelas Wens ketika memperoleh waktu guna mencurahkan perasaannya selaku wakil keluarga besar Arie Basuki dalam agenda doa bersama bertempat di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (21/9/2026).
"Ya, dia kawan liputan saya sejak saya bekerja di Majalah Tempo. Berkali-kali juga ditugaskan bareng ke wilayah-wilayah yang rasanya juga kurang lebih sama," ungkap Wens meneruskan ceritanya.
Tercatat sedikitnya tiga kali Wens mendatangi pesisir Pantai Carita demi memantau secara langsung proses penelusuran rombongan peliput yang beranggotakan M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), serta Donal Husni (jurnalis lepas) beserta tiga awak perahu.
Pada kehadiran perdananya, Wens berada di wilayah Carita bersama dengan Pemimpin Redaksi Merdeka.com, Wisnoe Moerti, serta Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Titis Widyatmoko, tepatnya pada hari kedua proses pencarian berlangsung di perairan tersebut.
"Itu sudah tinggal di sana di Carita bersama keluarga di satu tempat ya. Dan kami merasakan betul kehilangan itu, sekaligus proses yang menanti informasi banyak sekali. Informasi yang datang dari nelayan, informasi dari orang yang tahu peta lokal, informasi yang dari mana saja," kenang Wens mengingat situasi penuh keprihatinan itu.
Menurut penuturan Wens, setiap kabar atau petunjuk yang berdatangan segera diproses cepat oleh aparat pemerintah daerah serta jajaran petugas Basarnas. Dirinya turut memaparkan bahwa organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) juga mengambil peran nyata dalam upaya penelusuran ombak di sekeliling Selat Sunda.
"Dan kami terima kasih sekali karena pemerintah lokal dan Basarnas menelusuri semua jenis informasi itu. Kami juga terima kasih sekali untuk teman-teman dari PFI, karena teman-teman benar-benar kelihatan upayanya juga di lapangan," puji Wens kepada seluruh unsur yang bahu-membahu.
Sementara pada fase berikutnya, langkah kaki Wens menuju kawasan Carita ditemani oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, pada agenda Sabtu (12/9/2026).
"Saya kira juga kita melihat pemerintah lokal dan Basarnas berusaha sekuat tenaga mencari," kata Wens menegaskan keseriusan petugas gabungan.
Kedatangan terakhir Wens ke Carita bertepatan dengan momentum hari kesepuluh penyelidikan maritim, sebuah titik di mana Tim SAR gabungan resmi memutuskan pemberhentian total dari jalannya penyisiran lima pewarta foto dan tiga awak kapal (ABK) yang lenyap di Selat Sunda.
"Ketika diumumkan pada hari kesepuluh bahwa pencarian dihentikan, semua yang mencari menangis, ya. Entah merasa bahwa pencarian itu gagal, entah merasa bahwa pencarian itu mungkin tanpa rasa letih," ucapnya menyampaikan duka yang mendalam.
Kagumi Kehebatan 5 Jurnalis
Di mata pengamatan Wens, lima awak media yang hilang di lautan lepas ini bukan sosok pekerja kemarin sore. Di matanya, seluruh peramu visual yang hingga detik ini belum kembali ke rumah merupakan fotografer tangguh berjam terbang sangat tinggi. Salah satunya tentu Arie Basuki.
Rasa haru tak bisa disembunyikan Wens manakala mengetahui Arie Basuki sejatinya baru saja diputuskan menjadi jawara penghargaan kelas dunia lewat asosiasi jurnalisme The World Association of News Publishers (WAN-IFRA), tepat sebelum berangkat mendokumentasikan letusan Gunung Anak Krakatau.
"Saya terenyuh teman kami, Arie Basuki, minggu itu diberitahu bahwa dia mendapat penghargaan dari WAN-IFRA sebagai pembuat foto terbaik, dan memang belum diserahkan penghargaannya, entah di Singapura atau di Malaysia, kami belum tahu," tutur Wens.
"Dan kalau saya baca juga materi presentasinya, saya lupa itu materinya Donal atau siapa, teman-teman ini orang-orang cerdas. Materinya judulnya Keindahan Jurnalistik. Kita bisa melihat jurnalisme atau profesi ini dari banyak sudut. Teman-teman ini mungkin melihatnya dari mata kamera mereka," papar Wens mengagumi karya-karya rekan seprofesinya.
Perlu diketahui bahwa susunan karya trilogi foto garapan tangan Arie Basuki dengan tajuk "Resilient Indonesia: Humanity Beyond the Headlines" keluar sebagai pemenang kategori Best in Human Interest Photography di panggung WAN-IFRA Award 2026.
Cerita Liputan di Daerah Berbahaya
Tak sebatas itu, momentum perkumpulan tersebut dipergunakan Wens guna merangkai kembali rekam jejak jurnalistik miliknya saat menembus titik bahaya. Ia membeberkan kisah lawas sekitar bulan Desember 2002 kala memburu kabar menuju Pulau Sipadan serta Pulau Ligitan, dua pulau di perairan Laut Sulawesi yang sempat menjadi bahan perebutan kedaulatan tanah air antara Republik Indonesia dan Malaysia sejak 1969.
"Desember tahun 2002, saya berusaha masuk ke Pulau Sipadan dan Ligitan. Persis pulau itu ketika sedang direbut antara Malaysia dan Indonesia. Dijaga ketat oleh Marinir, dan satu-satunya peluang saya untuk masuk ke pulau itu adalah dari dermaga, dan dermaga itu berada di dalam kawasannya Marinir, ya," ungkap Wens membagikan pengalamannya.
"Karena saya merasa bahwa saya harus masuk, saya berusaha mencari segala cara untuk bisa masuk di sana. Walaupun kemudian itu perjalanannya 3 jam dari daratan Semporna ke Pulau Sipadan dan Ligitan itu, berujung bahwa saya cuman semalam di situ karena ditahan oleh Marinir Malaysia," cerita dia mengenai getirnya penahanan.
Gejolak hati yang pernah diresapi Wens pada masa lampau diperkirakan sama persis dengan apa yang berkecamuk dalam dada para pewarta di medan penugasan ekstrem. Ada keyakinan tulus bahwa masa-masa menanti kabar keselamatan itu pada akhirnya akan menemukan ujung, serta perpisahan ruang ini niscaya berujung pada satu pertemuan nyata.
"Nah, saya merasakan bahwa mungkin perasaan yang sama dan saya kira perasaan kalau kita liput ke daerah-daerah itu perasaannya itu sama," imbuh Wens.
"Dan saya merasakan juga bahwa perasaan teman-teman yang berangkat ini juga mungkin sama. Dan selalu ada harapan untuk tiba dalam kata penantian. Dan selalu ada harapan untuk bertemu," tutupnya dalam untaian doa.
Simak terus rangkuman berita terpercaya dan aktual di kanal Berita Liputan6







