Pembiayaan segmen korporasi mencatatkan ekspansi tertinggi dengan peningkatan mencapai 20,9 persen.
JAKARTA – Performa positif ditunjukkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan perolehan keuntungan bersih senilai Rp45,2 triliun selama kurun sembilan bulan pertama tahun 2026, terangkat 4,2 persen ketimbang fase yang sama pada tahun sebelumnya. Total kucuran pinjaman terkatrol 12,6 persen year-on-year sampai menyentuh angka Rp1.063 triliun sampai September 2026, ditopang oleh percepatan pembiayaan produktif yang kian kokoh.
Portofolio kredit produktif milik BCA menembus nominal Rp831 triliun alias mengalami kemajuan 17,2 persen secara tahunan. Rincian komposisi tersebut mencakup segmen korporasi yang menyerap Rp528,1 triliun, pembiayaan komersial sebesar Rp154,1 triliun, dan pinjaman untuk sektor usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar Rp149,2 triliun.
Segmen korporasi menempati posisi puncak pertumbuhan paling melesat dengan persentase 20,9 persen. Pada saat yang sama, pembiayaan UKM terangkat 15,4 persen dan lini komersial turut mendaki 7,8 persen.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengemukakan jika perbankan terus menyalurkan pendanaan ke beragam sektor usaha. Perseroan senantiasa memperhitungkan stabilitas likuiditas serta mutu dari pembiayaan.
“BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional, dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perseroan,” kata Hendra dalam paparan kinerja BCA secara daring, Selasa (27/10/2026).
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih memaparkan bahwa eskalasi pinjaman juga dipicu oleh lonjakan keperluan modal kerja menyongsong periode perayaan hari besar. Pelaku usaha biasanya sudah mengawali penyiapan rantai pasokan logistik dan ritme produksi sejak empat hingga lima bulan sebelum datangnya perayaan Natal, Tahun Baru, Tahun Baru Imlek, dan Hari Raya Idul Fitri.
“Jadi, ini memang season, season yang biasa setiap tahun mengalami peningkatan,” ujar John.
Di ranah korporasi, dorongan ekspansi pembiayaan berasal dari sektor pertanian, perkebunan, sarana infrastruktur, perhubungan transportasi, energi, pembangkit listrik, sampai sektor teknologi dan infrastruktur digital. Sementara pada ranah UKM, BCA memetik pertumbuhan transaksi dari sektor niaga perdagangan, logistik distribusi, jasa bisnis komersial, transportasi, serta industri olahan makanan dan minuman.
Menilik aspek pendanaan, saldo giro bersama tabungan (CASA) BCA tumbuh 10,4 persen membukukan nilai Rp1.103 triliun per September 2026. Alhasil, keseluruhan akumulasi dana pihak ketiga merangkak naik delapan persen secara tahunan mencapai Rp1.301 triliun.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim menerangkan bahwasanya perolehan marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) mengalami penguatan dari 5,3 persen pada triwulan kedua 2026 menjadi 5,6 persen pada triwulan ketiga 2026. Vera menyebut kenaikan tersebut terdorong laju kencang kredit produktif saat beban bunga relatif terkendali.
“Kalau kita memperhatikan net interest margin BCA dari kuartal kedua dan kuartal ketiga memang sedikit meningkat. Meningkat dari 5,3 persen ke 5,6 persen,” kata Vera.
Manajemen BCA saat ini memproyeksikan laju pertumbuhan pinjaman sepanjang tahun 2026 bakal berada pada rentang 10–12 persen, melampaui estimasi awal Rencana Bisnis Bank di kisaran 8–10 persen. Walaupun taksiran ditingkatkan, perseroan memilih tidak mengubah dokumen formal RBB.
“Perkiraan kami pertumbuhan kredit tahun ini akan melebihi target daripada RBB, yaitu di kisaran 10–12 persen untuk 2026,” ujar Vera.
Tingkat rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) BCA terjaga pada level 1,8 persen per September 2026, sedangkan rasio loan at risk berada di posisi 4,6 persen. Dalam jangka waktu bersamaan, rasio kecukupan modal perseroan terpantau kokoh di level 27,1 persen.


