Waralaba makanan cepat saji KFC resmi menetapkan Coca-Cola sebagai pemasok minuman utama bagi gerai mereka di Amerika Serikat. Kebijakan ini menyudahi relasi bisnis bersama PepsiCo yang terjalin selama kurang lebih empat puluh tahun.
KFC mengoperasikan sebanyak 3.718 restoran di wilayah AS. Deretan minuman bikinan Coca-Cola dijadwalkan mulai tersaji bagi para pelanggan KFC setempat pada musim semi tahun 2027.
Laporan mengenai pergantian penyedia minuman ini awalnya disiarkan The Wall Street Journal berdasarkan penuturan sumber terkait. Seperti dirilis Reuters pada Kamis (15/10), besaran nilai kesepakatan finansial tersebut tidak diumumkan ke publik.
Kemitraan antara KFC dan PepsiCo berakar dari langkah PepsiCo mencaplok KFC guna melebarkan sayap ke sektor kuliner serta camilan. Kendati KFC dilepas pada tahun 1997, PepsiCo konsisten menyalurkan produk minuman ke Yum Brands selaku induk usaha.
Perpindahan kontrak menuju Coca-Cola ini khusus diaplikasikan pada jaringan KFC di kawasan AS saja. Perwakilan juru bicara PepsiCo menyatakan pihak Yum Brands beserta PepsiCo telah memperbarui ikatan kemitraan bagi merek Taco Bell serta seluruh cabang KFC International.
Masa perpanjangan kerja sama gerai Taco Bell tersebut dipastikan berdurasi hingga sepuluh tahun.
Di samping itu, PepsiCo masih mendistribusikan minuman ke gerai sandwich Subway maupun Jersey Mike’s Subs. PepsiCo juga mengurus mesin minuman soda Pizza Hut, entitas bisnis yang tahun ini memisahkan diri dari Yum Brands.
Di kubu seberang, Coca-Cola sudah sejak lama memegang kontrak pengadaan minuman pada raksasa burger McDonald’s serta Wendy’s.
Tekanan Baru untuk PepsiCo
Kehilangan pasar KFC AS berpotensi menghambat langkah PepsiCo dalam memulihkan volume penjualan minuman soda domestik. Situasi ini diperberat oleh lesunya segmen camilan akibat tingginya banderol harga dan kecenderungan konsumen beralih ke makanan sehat.
Kenaikan pos pengeluaran turut menjadi beban pikiran CEO PepsiCo Ramon Laguarta. Dirinya baru-baru ini menyatakan bahwa perbaikan margin serta akselerasi pertumbuhan perusahaan membutuhkan tempo lebih panjang dari perkiraan.
PepsiCo pun menghadapi tekanan langsung dari Elliott Investment Management. Investor aktivis tersebut mendesak PepsiCo memangkas portofolio aset yang lesu dan segera membenahi performa operasional kawasan Amerika Utara.
Kepala strategi pasar Freedom Capital Markets, Jay Woods, yang perusahaannya memiliki saham di Coca-Cola, memandang bahwa peralihan kemitraan ini merupakan kabar yang tidak menguntungkan bagi PepsiCo.






