Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Korea Utara kembali melepaskan sedikitnya satu proyektil rudal balistik pada Sabtu pagi waktu setempat (3/10/2026). Langkah militer ini terjadi di tengah memanasnya relasi dengan Korea Selatan menyusul peristiwa ledakan ranjau darat yang mencederai tiga prajurit militer Korsel di kawasan Zona Demiliterisasi bulan lalu.
Berdasarkan warta dari The Japan Times, Kementerian Pertahanan Jepang di Tokyo mencatat adanya deteksi peluncuran minimal satu senjata roket dari pesisir timur Korea Utara. Rudal itu meluncur hingga sejauh 680 kilometer dengan catatan ketinggian puncak mencapai 90 km di udara.
Proyektil berbahaya tersebut akhirnya jatuh di wilayah perairan Laut Jepang, berada di luar area zona ekonomi eksklusif kepulauan Jepang yang terbentang hingga rentang jarak 200 mil laut (setara 370 kilometer) dari garis pantai negara itu.
Pihak otoritas angkatan bersenjata Korea Selatan turut memverifikasi peluncuran rudal balistik oleh pihak Korut tersebut, dengan perkiraan lintasan jangkauan terbang rudal berada pada kisaran 700 km.
Seorang pejabat dari lingkungan pemerintah Korea Selatan memberikan keterangan kepada kantor berita Yonhap bahwa pihak Seoul tengah meneliti rincian spesifikasi senjata itu. Mereka membuka peluang bahwa roket tersebut merupakan tipe rudal balistik jarak menengah (MRBM) atau varian rudal balistik jarak jauh (IRBM).
"Ada kemungkinan Korea Utara menembakkan rudal balistik jarak menengah (IRBM) dengan jangkauan yang lebih pendek," tutur narasumber internal pemerintah tersebut, sembari menerangkan kemiripan proyektil ini dengan uji coba rudal pada 12 Agustus lalu, dikutip pada Minggu (4/10/2026).
Di sisi lain, Komando Pasifik militer Amerika Serikat merilis pernyataan resmi bahwa armada mereka terus mengawasi gerak-gerik peluncuran itu, sembari menegaskan bahwa Washington "tetap berkomitmen untuk membela tanah air AS dan sekutu kami di kawasan ini."
Tepat sehari sebelumnya, pihak Pyongyang membantah keras klaim Seoul mengenai ranjau darat kepunyaan Korut yang melukai personel Korsel dan menyebut tuduhan itu "tidak berdasar". Kantor Berita Pusat Korea Utara melaporkan penolakan Pyongyang terhadap desakan Korsel yang menuntut permintaan maaf.
Kim Yo Jong, adik kandung dari pimpinan tertinggi Korut Kim Jong Un, menyampaikan bahwa pemerintah Pyongyang sama sekali tidak sengaja menanam bom ranjau pada kawasan tapal batas kedua negara.
Ia pun menegaskan dinamika ini memperkukuh sikap untuk menutup pintu komunikasi antar-Korea, kendati Presiden Korsel Lee Jae Myung sudah berusaha keras menggelar "upaya untuk menciptakan ruang komunikasi," mengutip laporan KCNA secara terpisah.
"Kami tidak akan pernah memberikan ruang atau celah sekecil apa pun untuk kontak antara Korea Utara dan Korea Selatan, atau berdiri berhadapan langsung dengan mereka dalam keadaan apa pun," tegasnya seraya merujuk singkatan diplomatik resmi kedua entitas Semenanjung Korea.
Negara berkekuatan nuklir tersebut sebelumnya sempat menggelar pengetesan dua proyektil pada 20 September. Beberapa hari berselang, Pyongyang mengklaim salah satu pengujian itu sebagai perkenalan "senjata jenis baru"—berupa sistem rudal hipersonik beserta kendaraan luncur luncuran yang diyakini sengaja dirancang guna menembus pertahanan persenjataan lawan.
