Otoritas Beijing pada Rabu menyatakan bahwa armada penjaga pantainya tengah beroperasi demi "menjaga ketertiban" di sekeliling pulau karang strategis milik Taiwan di perairan Laut China Selatan. Langkah terbaru tersebut kian memperbesar kecemasan Taipei perihal upaya keras Beijing dalam menegakkan yurisdiksi sepihak atas area perbatasan laut itu.
Sebagaimana diberitakan Reuters pada Rabu (21/10/2026), pemerintah China yang menganggap Taiwan berstatus wilayah kekuasaannya, sebelumnya telah melontarkan peringatan keras sepekan lalu. Beijing mengingatkan otoritas Taiwan wajib "menanggung konsekuensi" lantaran aparat maritim Taipei menembakkan water cannon ke arah perahu nelayan China di kawasan Kepulauan Pratas.
Terhitung sejak hari Minggu lalu, pihak berwenang Taiwan sudah mencatat terjadinya dua manuver mendekat oleh kapal patroli China ke Pratas, seraya melayangkan tuduhan resmi atas provokasi tersebut.
Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan Beijing, Zhang Han, menegaskan kembali klaim mutlak negaranya atas pulau-pulau di Laut China Selatan, termasuk area Kepulauan Pratas beserta seluruh perairan yang mengitarinya.
"Armada penjaga pantai daratan yang menjalankan patroli hukum di wilayah perairan bersangkutan semata-mata menunaikan kewajiban resmi berdasarkan undang-undang, menjamin kelancaran pelayaran, serta memelihara stabilitas operasional," ujarnya menerangkan dasar tindakan tersebut.
"Hal ini bertujuan nyata guna mengamankan hak serta kemaslahatan warga di kedua tepian Selat Taiwan, sekaligus menjaga keselamatan jiwa serta aset mereka."
"Sikap keras kepala partai penguasa Taipei yang terus memelihara agenda separatis justru menjadi sumber pokok bahaya konflik militer di perairan selat," kata Zhang menegaskan posisi Beijing.
Di sisi lain, Taipei menolak keras klaim kedaulatan sepihak tersebut dan menegaskan bahwa nasib wilayah mereka berada di tangan rakyat Taiwan sendiri. Sebaliknya, Beijing pantang mengakui status berdaulat Taiwan serta tak pernah menepis opsi agresi bersenjata demi merebut pulau tersebut kembali.
Untuk dipahami, Kepulauan Pratas berlokasi di antara Taiwan bagian selatan dan Hong Kong tanpa dihuni penduduk sipil tetap. Berjarak melampaui 400 kilometer dari pulau utama Taiwan, gugusan pulau karang ini dinilai sejumlah analis militer sangat rawan dari ancaman invasi China.
Pasukan perang Beijing sendiri giat bermanuver di sekeliling wilayah kedaulatan Taiwan hampir setiap waktu. Taipei kian cemas menyaksikan Beijing yang kini getol mengerahkan instrumen kapal penjaga pantai berkedok "penegakan hukum" demi memperluas klaim wilayah hukumnya.
Chiu Chui-cheng selaku Kepala Dewan Urusan Daratan Taiwan menuding Beijing sengaja menggeser permasalahan Taiwan menjadi persoalan domestik murni demi memperlihatkan yurisdiksi faktual atas perairan luar dan pulau-pulau lepas pantai. Dirinya memprediksi, seiring peluang Presiden Xi Jinping mengamankan periode kekuasaan keempatnya tahun depan, agenda unifikasi nasional milik China bakal bergerak jauh lebih mendesak.
"Pihak kami memperkirakan kebijakan Beijing terhadap Taiwan bakal beralih menuju manuver agresif yang memprovokasi melalui penerapan yurisdiksi sebelum merealisasikan unifikasi," tegas Chiu.
