Kantor Basarnas Bali merancang rencana kontingensi musibah penerbangan guna menghadapi tingginya mobilitas transportasi udara di Bandara Ngurah Rai yang menembus angka 143.312 pergerakan pada 2025.
DENPASAR – Otoritas Basarnas Bali mematangkan rencana kontingensi kecelakaan armada pesawat sebagai respons atas padatnya penerbangan di Pulau Dewata. Kebijakan ini dihadirkan lewat pembekalan siaga terpadu yang merangkul sebanyak 80 delegasi lintas sektoral di area Bali Selatan.
Kepala Kantor Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, menyatakan kesiapan SAR pantang dirumuskan secara mendadak pascainsiden. "Harus kita persiapkan sebelum kejadian, melalui perencanaan yang matang, koordinasi yang kuat, sumber daya yang siap, serta pemahaman yang sama dari seluruh unsur yang terlibat," paparnya dalam siaran resmi di Denpasar, Jumat.
Tingginya Frekuensi Penerbangan Jadi Alasan
Penyusunan berkas strategis ini dipicu tingginya mobilitas jalur udara Pulau Dewata. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terhitung melayani hingga 143.312 aktivitas pesawat selama periode 2025. Di luar pesawat komersial reguler, eskalasi penerbangan helikopter pelesir serta bisnis kini masuk perhatian utama saat memetakan lokasi rawan darurat.
"Rencana kontingensi bukan sekadar dokumen, tetapi merupakan kesepakatan dan komitmen bersama tentang tugas, peran, sumber daya, serta mekanisme koordinasi yang harus dilaksanakan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara," tandas Sidakarya.
Simulasi Kasus dan Konsolidasi Lapangan
Pertemuan koordinasi ini menitikberatkan simulasi evakuasi pesawat komersial yang hilang kontak pada radar di kawasan laut Serangan, Denpasar Selatan. Skenario tersebut dianalisis komprehensif oleh Basarnas Bali guna memantapkan sinkronisasi taktis serta membagi wewenang tiap instansi agar tindakan lapangan terarah dan akurat.
Seluruh unsur terkait memperoleh materi langsung dari sepasang pemateri Direktorat Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas pusat. Keterlibatan perwakilan pusat dinilai krusial demi menyelaraskan protokol penanganan musibah berskala daerah bersama panduan standar penyelamatan nasional.
Utusan Direktur Operasi Basarnas, Retno Budiharto, menegaskan pentingnya penerapan nyata dari berkas operasional tersebut. "Kami berharap dengan adanya dokumen rencana kontingensi ini setelah ditandatangani masing-masing bisa melakukan peran dan tugasnya dan ke depannya dapat lebih terkoordinasi, solidaritas, kolaborasi, dan lainnya bisa lebih baik, khususnya sinergisitas seluruh potensi SAR di Kantor SAR Denpasar," ungkapnya.
Pihaknya berharap pedoman penanggulangan kecelakaan udara ini sanggup menekan angka korban jiwa sekaligus mendongkrak keandalan fasilitas SAR di Bali.
Materi informasi ini disusun lewat dukungan sistem AI.





