Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq memperkuat kerja sama multisektor guna menuntaskan sisa 10.000 hektare area yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan dalam tempo tujuh hari.
Pemerintah memacu konsolidasi antarlembaga demi menyelesaikan penanggulangan karhutla pada hamparan seluas 10.000 hektare di Kalimantan Selatan. Skema pembagian zona operasi ini ditargetkan tuntas sepenuhnya dalam jangka waktu sepekan ke depan.
Langkah percepatan penanggulangan bencana tersebut dimatangkan pada forum teknis karhutla di Banjarbaru, Sabtu. Pertemuan ini menghadirkan perwakilan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), serta asosiasi industri pertambangan Kalimantan Selatan, menindaklanjuti konsolidasi serupa di Jakarta dua pekan sebelumnya.
Hanif memaparkan bahwa sinergi menyeluruh dari seluruh pemangku kepentingan sangat mutlak dibutuhkan mengingat peristiwa kebakaran yang mendekati durasi tiga bulan ini masih sulit ditundukkan. Kendati banyak titik panas telah dipadamkan, sebaran api kerap merambat menuju kawasan lain dan memerlukan tindakan susulan. "Sehingga keterlibatan semua pihak sangat diperlukan," ujarnya.
Pola Penanganan Disesuaikan Kondisi Medan
Berdasarkan data pemetaan lapangan, konsentrasi pemadaman lanjutan difokuskan ke zona Handil Bakti serta Jalan Gubernur Syarkawi. Tahap awal penanganan sebelumnya telah menyasar kawasan Pengayuan, Hutan Lindung, Liang Anggang, dan Guntung Damar. Para personel gabungan bakal mengikuti apel siaga sebelum diterjunkan langsung ke wilayah tugas masing-masing.
Dari bentangan 10.000 hektare lahan terdampak, sekitar 8.500 hektare di antaranya merupakan area persawahan yang dipenuhi jerami kering pascapanen sehingga sangat rentan tersulut api. Sementara itu, 1.800 hektare lainnya berbentuk hamparan gambut yang terbentang di sepanjang koridor Jalan Gubernur Syarkawi menuju Jalan Martapura Lama.
Pada zona persawahan, penanganan teknis diserahkan kepada Dinas Pertanian lewat teknik pembajakan tanah untuk meminimalisasi material sisa panen yang mudah menyala. Sebaliknya, medan gambut menuntut konsentrasi sumber daya regu pemadam yang jauh lebih masif melalui operasi pembasahan mendalam karena bara api berpotensi bertahan di bawah lapisan bumi.
"Dua lokasi ini memiliki tipikal yang berbeda. Area gambut memerlukan upaya yang cukup besar sehingga tenaga akan banyak diarahkan ke sana. Sementara area persawahan akan ditangani langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dengan membalik tanah," kata Hanif.
Target Sepekan dan Pengurangan Kabut Asap
Menerapkan pembagian tugas terstruktur dan tindakan yang menyesuaikan tipologi lahan, otoritas menargetkan penuntasan lahan terbakar dapat dipercepat kurun waktu satu minggu. Strategi taktis ini dieksekusi guna memitigasi dampak pekatnya kabut asap yang mengganggu warga, khususnya masyarakat di Kota Banjarmasin yang menanggung dampak paling parah.
Hanif turut menyampaikan apresiasi mendalam atas komitmen GAPKI dan APHI di level nasional maupun daerah, serta forum korporasi tambang. Partisipasi aktif tersebut diharapkan memperkuat pasokan armada teknis, personel lapangan, dan operasi pemadaman di bawah payung komando terintegrasi.
Model operasi gabungan ini rencananya direplikasi ke Kalimantan Tengah dan wilayah Sumatera Selatan apabila program di Kalimantan Selatan sukses dieksekusi. Ketiga kawasan tersebut menjadi fokus atensi nasional mengingat perannya yang vital dalam mendukung ketahanan pangan, pasokan energi, serta kemandirian air.
Agenda pemadaman terpadu ini berpijak pada Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2026 mengenai Penanggulangan Karhutla di Wilayah Swasembada Pangan, Energi, dan Air. Regulasi tersebut menjadi landasan hukum operasional bagi Kementerian Koordinator Bidang Pangan dalam mengoordinasikan pemadaman karhutla lintas daerah.







