Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara intensif mengawasi situasi pascaserangan milisi Houthi asal Yaman yang menargetkan Bandara Riyadh, Arab Saudi, guna melihat pengaruhnya bagi rute penerbangan global, terkhusus jalur transit yang tersambung ke Indonesia.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menjelaskan menurut hasil pengawasan data operasional maskapai tertanggal 12 Oktober 2026, beragam rute transit ke Riyadh menghadapi pembatalan penerbangan, pergeseran rute, serta penjadwalan ulang bagi tiket perjalanan penumpang.
Keadaan darurat ini memberikan dampak nyata khususnya bagi layanan udara yang terkoneksi langsung maupun tidak langsung dengan Riyadh melintasi berbagai bandara hub global terkemuka.
"Kami terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya terhadap penerbangan yang terhubung dengan Riyadh. Prioritas kami adalah memastikan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi perhatian utama, sekaligus mendorong agar penumpang yang terdampak memperoleh informasi dan penanganan yang jelas dari maskapai," tegas Lukman melalui pernyataan tertulis, Senin (12/10).
Mengacu pada catatan pengawasan Kemenhub, beberapa maskapai penerbangan multinasional telah mengambil langkah penyesuaian operasional secara cepat.
Qatar Airways memutuskan pembatalan beberapa jadwal rute Doha-Riyadh pergi-pulang pada 9 dan 10 Oktober 2026, lalu mengalihkan para pengguna jasa melalui sejumlah kota lain di Arab Saudi.
Maskapai Emirates pun meniadakan sejumlah penerbangan rute Riyadh, Jeddah, Madinah, beserta Dammam selama rentang waktu tertentu menyusul eskalasi keamanan.
Selain itu, maskapai global lain turut melakukan rekayasa jadwal sambungan, pemindahan rute, penundaan terbang, sampai penghentian sementara seluruh rute ke Riyadh.
Kendati demikian, penerbangan nonstop dari Indonesia ke Arab Saudi berdasarkan laporan masih berjalan normal. Operasional maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air menuju Jeddah, bersama rute Saudia yang terdata resmi, tetap terbang melayani rute tersebut.
Kemenhub memastikan bakal terus memonitor dinamika keamanan serta menjaga koordinasi intensif bersama maskapai penerbangan dan instansi terkait demi memperbarui data penerbangan juga penanganan calon penumpang.
Lukman mengingatkan warga yang memegang tiket perjalanan transit ke atau dari Arab Saudi agar aktif mengecek status keberangkatan lewat kanal resmi maskapai, meneliti kembali rute dan waktu perjalanan, serta segera menghubungi pihak maskapai jika timbul kendala sambungan rute.
"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengimbau seluruh pihak untuk tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari otoritas dan maskapai, serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi," tutup Lukman.
Beberapa jemaah umrah dilaporkan ikut menjadi korban dalam serangan yang dituduhkan kepada faksi Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10).
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi menyatakan serangan Sabtu (10/10) itu menyebabkan 12 jiwa meninggal dunia dan melukai 309 orang. Sebagian korban cedera kini masih dalam penanganan intensif karena kondisinya kritis.
Peristiwa itu memaksa otoritas Arab Saudi menutup sementara kegiatan di Bandara Internasional King Khalid. Banyak jadwal kedatangan dipindahkan ke lokasi lain, bersamaan dengan pengerahan petugas medis darurat guna menolong para korban terluka.
Serbuan proyektil ini menambah rentetan teror yang membidik infrastruktur penerbangan sipil Arab Saudi belakangan ini, termasuk target di Bandara Internasional King Khalid Riyadh.
Berdasarkan pemberitaan Gulf News, faksi Houthi mengklaim bertanggung jawab atas aksi peluncuran rudal tersebut dan melontarkan peringatan keras kepada maskapai global agar mengosongkan zona udara Arab Saudi.
Kericuhan pada Sabtu (10/10) itu juga melumpuhkan aktivitas lalu lintas udara tujuan Riyadh. Sederet maskapai internasional langsung menunda hingga membatalkan operasional pesawat menuju ibu kota Arab Saudi tersebut demi menjamin keselamatan.
