Kehilangan tempat bernaung membuat masyarakat Palestina bergotong royong memahat bebatuan gua memakai martil dan pahat demi menciptakan hunian layak bagi sanak keluarga.
Beberapa warga Palestina di Khirbet al-Dab’a, kawasan Masafer Yatta, sisi selatan Hebron, terpaksa menempati kembali rongga gua usai hunian permanen kepunyaan mereka luluh lantak digusur.
Amer Dababsa merupakan salah satu masyarakat setempat yang mengalaminya. Saat ini, lelaki itu mencurahkan tenaganya untuk mengikis dinding cadas dengan tatah dan palu demi melebarkan gua yang ditujukan untuk dua orang istri beserta enam buah hatinya. Ia menerangkan proses penggalian gua tempat berlindung tersebut telah berjalan kurang lebih enam bulan lamanya.
Dababsa mengungkapkan bahwa warga kerap menghadapi tekanan yang berat dari Administrasi Sipil Israel serta keberadaan para pemukim. Ia menjelaskan aksi penghancuran rumah tinggal memicu beberapa keluarga tidak mempunyai jalan lain kecuali mendiami kembali gua kuno yang dahulunya pernah dipakai generasi kakek nenek moyang mereka.
Kepada Reuters, lembaga Coordinator of Government Activities in the Territories (COGAT) menyampaikan aparat Administrasi Sipil menggelar penertiban atas beberapa sarana infrastruktur beserta bangunan yang dipandang tanpa izin di area tersebut pada awal September setelah mendapatkan restu level politik. COGAT menyebut rangkaian operasi itu dituntaskan berdasarkan kewenangan serta aturan prosedural resmi, termasuk penyerahan surat peringatan menjelang penggusuran agar para penduduk memiliki ruang melayangkan keberatan menurut proses hukum peradilan.
Wilayah Khirbet al-Dab’a didiami kisaran 120 penduduk Palestina dan terletak di perbukitan tandus sebelah tenggara Hebron. Jalur masuk menuju kampung tersebut harus menempuh jalan tanah berkerikil kasar. Penduduk cuma memanfaatkan pembangkit tenaga surya guna memperoleh aliran daya listrik secukupnya, sementara keperluan air bersih diangkut armada truk tangki lantaran lingkungan permukiman belum terkoneksi sambungan air ledeng maupun jaringan listrik utama.
Penduduk setempat menuturkan situasi hidup mereka kian tertekan dan bertambah berat dalam kurun beberapa tahun ke belakang. Usaha peternakan yang tempo dulu menjadi penopang pendapatan finansial pokok warga kian surut lantaran rentetan serbuan pemukim sekaligus pemblokiran jalan menuju padang rumput gembala. Sejumlah warga sekarang beralih menggantungkan hidup pada komoditas tanaman musiman, kebun zaitun, dan pepohonan badam.
Menurut kesaksian masyarakat, sejumlah pos hunian pemukim terus bermunculan di sekeliling area tersebut. Penduduk turut menuturkan terdapat sebuah pos pemukiman baru yang mulai dibangun pada Mei 2025, tidak berselang lama seusai gelombang pemusnahan masif melibas mayoritas rumah berdiri di Khirbet al-Dab’a.
Rentetan peristiwa itu mendorong beberapa keluarga beralih menempati ceruk bebatuan yang sempat digunakan leluhur terdahulu. Contohnya Mohammad Dababsa, seorang ayah dengan 11 orang anak, telah merampungkan pembuatan dua gua secara perlahan dalam tempo empat tahun. Satu ruangan gua dialihfungsikan menjadi ruang bercengkerama, sementara satu ruangan gua lainnya dipakai untuk pusat kesibukan harian keluarga.
Khirbet al-Dab’a merupakan salah satu desa kecil Palestina yang berada di kawasan Masafer Yatta. Sebagian tanah kawasan ini dijadikan otoritas Israel sebagai lokasi pelatihan ketentaraan sejak permulaan era 1980-an. Para penduduk Palestina bersama pemerhati hak asasi manusia menegaskan restriksi pendirian bangunan serta rentetan pembongkaran yang terjadi berulang kali semakin menyengsarakan kehidupan sosial warga.
