Presiden Iran melontarkan kecaman keras terhadap manuver perang Donald Trump di podium PBB. Ia turut menunjukkan potret Ayatollah Khamenei yang disebutnya tewas dibunuh pihak AS, sembari menegaskan negerinya merupakan korban terorisme.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato resminya dalam Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-81 yang digelar di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat (AS), pada Rabu malam waktu setempat.
Ketika berpidato di agenda Debat Umum Majelis Umum PBB, Pezeshkian menggarisbawahi pernyataan bahwa "perdamaian harus didasarkan pada kewajaran, keadilan, martabat, dan kesetaraan hak" bagi seluruh bangsa di dunia.
Sebagaimana dilaporkan Reuters pada Kamis (24/9/2026), ia menekankan kesiapan Teheran guna menjalin perundingan maupun kolaborasi. Kendati demikian, dirinya menegaskan tidak bakal tunduk pada paksaan untuk menyerahkan konsesi lewat agresi senjata, sanksi ekonomi, ataupun intimidasi militer.
Pada kesempatan tersebut, Pezeshkian membalas keras arah kebijakan Presiden AS Donald Trump sembari memperlihatkan foto mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang dikatakannya telah dibunuh. Dirinya juga menunjukkan potret makam korban anak-anak Iran akibat serangan AS dan Israel ke fasilitas sekolah Teheran pada 28 Februari lalu, seraya berucap "anak-anak ini dibom dengan senjata dari AS dan Israel".
"Kami (Iran) menjadi korban dari terorisme," ucapnya lantang sambil melabeli figur Trump sebagai sosok "pembully".
Pezeshkian menyatakan pendirian Iran dalam merawat kedaulatan, keamanan domestik, serta pengembangan teknologi nuklir demi tujuan damai menganggap sistem pertahanan mandiri sebagai instrumen mutlak penghalau bahaya luar, seraya menampik ambisi keamanan bergaya hegemoni. Ia turut menyoroti standar ganda negara-negara Barat atas program nuklir Iran serta isu Palestina, menegaskan penjajahan, agresi militer, beserta ketidakadilan berlarut-larut bakal memperkeruh stabilitas kawasan.
Dirinya memungkasi pidato dengan menyatakan perang ataupun dominasi senjata mustahil menggantikan hukum internasional dan diplomasi politik, lalu mengimbau terwujudnya stabilitas bersama lewat kemitraan regional.








