Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat berkolaborasi dengan Yayasan IAR Indonesia mengevakuasi 46 individu orangutan kalimantan yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan sepanjang periode Agustus sampai Oktober. Dari puluhan satwa tersebut, delapan ekor telah berhasil dipindahkan menuju kawasan hutan lindung.
Sebanyak 46 satwa langka orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) berhasil diamankan dari bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat. Rangkaian operasi penyelamatan satwa ini berlangsung intensif mulai Agustus hingga 9 Oktober 2023 lewat kerja sama taktis antara BKSDA Kalimantan Barat serta Yayasan IAR Indonesia.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan bahwa periode kemarau dan karhutla tahun ini telah merusak bentang vegetasi sekaligus memecah ruang hidup alami satwa yang dilindungi undang-undang tersebut. "Antara Agustus dan 9 Oktober, selama musim kebakaran hutan, setidaknya 46 orangutan diselamatkan dari habitat yang terbakar. Mengamankan habitat yang aman masih menjadi tantangan berkelanjutan bagi upaya konservasi," tuturnya di Pontianak, Ahad.
Dari puluhan primata yang berhasil dievakuasi, sebanyak delapan individu yang berada dalam kondisi prima langsung dipindahkan pada 9 Oktober ke kawasan Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Pemindahan satwa dilakukan sesudah melalui tahapan evakuasi medis, serangkaian uji kesehatan, serta pengawasan perilaku secara ketat.
Fragmentasi Ruang Hidup Dampak Amukan Api
Satwa-satwa yang dievakuasi tersebut dihimpun dari beberapa titik rawan di wilayah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Kobaran api tak sekadar membakar habis pepohonan, melainkan turut mengurung kawanan orangutan di area perkebunan kelapa sawit dengan ketersediaan makanan dan ruang jelajah yang luar biasa terbatas. Sebagian individu bahkan berupaya bertahan hidup pada sisa pohon di tengah perkebunan.
Peristiwa ini menimpa induk bernama Mama Lifa dan anaknya, Lifa, yang sempat terjebak di tegakan pohon akasia pada hamparan lahan seluas 400 meter persegi yang dikepung perkebunan sawit di Desa Pelang, Ketapang. Pada peristiwa lain, induk Mama Man bersama bayinya, Man, berhasil diselamatkan dari Desa Tempurukan, Ketapang, pada 3 September 2023 saat amukan api mengepung sarang mereka. Keesokan harinya, empat individu lainnya turut diamankan dari Desa Pemangkat, Kayong Utara.
Rencana Pelestarian Satwa Berkelanjutan
Direktur Operasional IAR Indonesia, Argitoe Ranting, menegaskan bahwa penentuan lokasi rilis satwa menuntut kajian ilmiah yang sangat mendalam. Tim penyelamat wajib memeriksa cadangan pakan, ketersediaan mata air, daya tampung wilayah, serta keterhubungan dengan koridor hutan lain. Kawasan Hutan Lindung Batu Nyambu seluas sekitar 23.000 hektare dipilih berdasarkan hasil telaah daya dukung ekosistem.
Hutan ini menyajikan tutupan hutan primer dan sekunder utuh yang saling menyambung dengan bentang alam pegunungan Arabella–Schwaner. Kajian lapangan tahun 2023 membuktikan lokasi tersebut sangat ideal sebagai rumah alami orangutan dengan daya sokong ekologis yang memadai.
"Translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih terjadi dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus berjalan seiring dengan perlindungan hutan yang tersisa," kata Argitoe.
Sementara itu, Chief Executive Officer IAR Indonesia, Karmele Llano Sánchez, menyatakan bahwa beberapa individu lain korban karhutla saat ini masih memperoleh penanganan medis ketat. Kondisi mereka cukup memprihatinkan karena menderita luka bakar, kekurangan gizi, anemia berat, serta keluhan kesehatan lainnya. Para satwa memerlukan perawatan pemulihan sebelum siap dilepasliarkan ke rimba bebas.


