Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menyatakan bahwasanya berbagai pertikaian dunia dewasa ini berakar dari konsep 3G, yakni God menyangkut agama maupun ideologi, Glory terkait hegemoni serta dominasi kekuasaan, dan Gold yang mencakup urusan ekonomi. Hal tersebut ia sampaikan sewaktu membawakan kuliah umum berjudul Lessons From the for Peace; Aceh, Afghanistan and Southern Thailand bertempat di Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat.
Pemaparan materi perdamaian oleh Jusuf Kalla ini diselenggarakan di Smart Classroom, Latino Research Center, pada Senin siang 19 Oktober 2029 waktu setempat. Agenda akademik bergengsi itu diramaikan oleh deretan guru besar beserta para mahasiswa program doktoral yang mendalami studi resolusi damai.
Pada berbagai persoalan, Amerika Serikat dinilai memadukan urusan ekonomi (gold) sekaligus ambisi kekuasaan (glory). Peristiwa semacam ini menimpa wilayah Iran serta Venezuela pada awal periode tahun 2026. Negeri Paman Sam tersebut berupaya merebut cadangan minyak bumi setempat melalui agresi kekuatan militer.
Mengenai bentrokan berbasis agama, kubu-kubu yang bertikai dinilai memperdagangkan janji surga layaknya komoditas murah demi menggerakkan milisi tempur. Menurut penilaian JK, tiada satu pun kitab suci yang memperbolehkan aksi saling membantai sesama manusia. Mereka yang berbuat demikian sejatinya menuju neraka, bukan menggapai surga. Realitas kelam ini pernah melanda Poso di Sulawesi Tengah sepanjang rentang 1998-2001 yang merenggut 2.000 korban tewas, serta kerusuhan horizontal Ambon di Maluku era 1999-2002 dengan korban meninggal dunia mencapai 5.000 jiwa.
Menyoroti pergolakan di kawasan Thailand Selatan, tokoh perdamaian ini mengulas catatan sejarah masa silam. Sejumlah perpecahan internasional sekarang berhulu dari langkah kolonial Inggris. Salah satunya nasib warga Muslim-Melayu Pattani, di mana Inggris secara sepihak dan arogan menetapkan tapal batas teritorial antara Malaysia dan Thailand.
Masyarakat Pattani yang beretnis Melayu dan memeluk Islam dipaksa bergabung ke wilayah kedaulatan Thailand daripada Malaysia, sama sekali tanpa memedulikan ikatan kultural maupun keagamaan. Cara pembagian wilayah serupa diterapkan dalam sengketa Palestina dan Israel, begitu juga tragedi kaum Rohingya di Myanmar.
JK berikutnya membahas dinamika Taliban di Afghanistan. Dirinya memandang Taliban tak semestinya serta-merta dilabeli komplotan teroris. Mereka merupakan figur pejuang di tanah airnya sendiri tatkala menghadapi pendudukan tentara Amerika sesudah hengkangnya Uni Soviet.
Saat invasi Soviet di Afghanistan pada 1979-1989 berlangsung, pihak Amerika aktif menyokong seluruh kubu pemberontak demi memukul mundur Soviet. Ironisnya, Amerika lantas menduduki negeri tersebut selama 20 tahun memakai dalih perlindungan Taliban terhadap Osama Bin Laden, kendati Osama sesungguhnya dihabisi saat bermukim di Pakistan.
Ketika menyinggung pertikaian di Aceh, JK menegaskan pergolakan selama kurun waktu 29 tahun itu meletup akibat jurang ketimpangan finansial. Bumi Serambi Mekkah melimpah ruah sumber dayanya, tetapi masyarakatnya amat melarat serta terbelakang pendidikannya. Kondisi inilah yang mendorong mereka memanggul senjata melawan pemerintah pusat, sama sekali bukan ambisi membangun negara Islam. JK menegaskan restunya atas kesepakatan damai di mana 70 persen pemasukan Aceh diserahkan kembali bagi daerah tersebut.
Pantau laporan paling mutakhir serta tepercaya lewat Berita Liputan6.
