Keberadaan ritel tradisional di lingkungan warga kian memangkas jarak antara barang buatan pelaku usaha mikro dan para pembelinya.
JAKARTA – Peran toko kelontong kini kian signifikan sebagai sarana penyaluran produk UMKM. Memanfaatkan gerai yang berlokasi strategis di sekitar hunian warga, barang olahan lokal memperoleh rute lebih lapang agar dapat sampai ke tangan masyarakat tanpa perlu selalu bergantung pada gerai pasar modern.
Peluang besar ini tampak nyata lewat inisiatif Pojok Lokal yang dihadirkan oleh PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS). Merujuk hasil survei KG Media 2026, raihan omzet produk UMKM melalui skema tersebut menyentuh Rp12,9 triliun pada 2026, melonjak 128 persen dibandingkan pencapaian tahun 2023.
Direktur SRCIS Romulus Sutanto menuturkan bahwa warung kelontong memiliki kans mencetak pengaruh ekonomi lebih besar jika saling terhubung dengan produsen kecil di lingkungannya. Baginya, jaringan ritel ini mampu menjadi gerbang strategis dalam mempertemukan barang lokal kepada basis pembeli yang lebih luas.
“Melalui Pojok Lokal, kami ingin mempertemukan potensi produk lokal dengan jaringan toko yang dekat dengan masyarakat, sehingga peluang pertumbuhan dapat dirasakan oleh pemilik toko maupun pelaku UMKM,” ungkap Romulus melalui siaran pers resmi, Jumay (30/10/2026).
Melalui inisiatif Pojok Lokal, sudut toko secara khusus dialokasikan guna menjajakan rupa-rupa produk olahan UMKM. Konsep ini tidak cuma menyuguhkan alternatif belanja bagi warga, melainkan juga menghadirkan etalase dagang baru bagi wirausaha setempat.
Selain itu, SRC mendirikan wadah Paguyuban SRC guna merangkul para pemilik warung dalam bertukar wawasan, memperlebar relasi, dan membesarkan toko. Mengacu data KG Media 2026, sebanyak 96 persen Toko SRC berpartisipasi aktif dalam paguyuban, serta 86 persen pemilik toko memandang forum ini sangat menolong perluasan jejaring usaha dan memantik gagasan niaga baru.
Romulus menambahkan, silaturahmi rutin antarpemilik gerai menyediakan sarana bertukar pengalaman dan trik berdagang. Ekosistem kebersamaan ini juga membuka kans kerja sama ekonomi di tingkat akar rumput.
“Pertumbuhan usaha tidak harus dijalani sendiri. Melalui Paguyuban, pemilik toko dapat belajar dari pengalaman satu sama lain, membangun relasi, dan menemukan peluang baru. Kami ingin komunitas ini menjadi ruang yang membantu para pemilik toko berkembang sekaligus memperkuat hubungan dengan lingkungan sekitarnya,” tutur dirinya.
Kegunaan jejaring ini dirasakan langsung oleh Ana, pengelola Toko SRC Cemara Tujuh yang menjabat sebagai Ketua Paguyuban SRC di Malang. Dirinya merintis gerai tanpa modal ilmu dagang, lalu menjadikan paguyuban sebagai sarana menimba pengetahuan bersama pemilik warung lainnya.
“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika toko kita berkembang, tetapi juga saat bisa membantu orang lain ikut maju,” tegas Ana.
Kiprah SRC sendiri dirintis sejak tahun 2008 bermula dari 57 warung di Kota Medan. Kini, ekosistemnya berkembang menaungi lebih dari 250 ribu gerai di 38 provinsi serta bermitra dengan 6.300 Mitra SRC.
Meluasnya ekosistem toko kelontong ini melapangkan rantai distribusi produk UMKM. Bukan sekadar mendongkrak omzet lokal, jangkauan ini memfasilitasi barang usaha rakyat merambah konsumen baru melampaui pasar tradisional.


