Ajang bergengsi Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 dijadwalkan berlangsung pada 6-7 Oktober mendatang bertempat di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Pertemuan internasional berskala besar ini mengusung tajuk utama "Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World".
Kini melangkah ke tahun keempat perjalanannya, forum tingkat tinggi tersebut kembali menghadirkan para pemangku kebijakan publik, pelaku industri komersial, pemodal, institusi finansial, pakar universitas, serta lembaga lintas negara. Kehadiran seluruh elemen tersebut ditujukan guna membedah peranan akselerasi perekonomian, terobosan teknologi, daya cipta inovasi, serta skema pendanaan dalam mewujudkan masa depan bumi yang jauh lebih tangguh, adaptif, dan makmur.
Deretan tokoh terkemuka dunia telah memastikan diri untuk berpartisipasi langsung. Di antaranya tercatat Wakil Sekretaris Jenderal sekaligus Sekretaris Eksekutif UNESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana; Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo; dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Anindya Bakrie. Selain figur-figur sentral tersebut, puluhan pimpinan korporasi multinasional dan para pembuat kebijakan tingkat global lainnya dipastikan turut hadir meramaikan forum ini.
Gagasan penyelenggaraan forum strategis ini berakar dari tekad kuat yang disepakati bersama oleh Republik Indonesia dan beragam bangsa di kancah internasional. Semangat utamanya bertumpu pada upaya menjaga stabilitas percepatan ekspansi ekonomi, sembari memacu pergeseran sistemik menuju era rendah karbon, memperkokoh ketahanan nasional, serta mengangkat standar kesejahteraan publik secara meluas. Melalui perhelatan ISF, Indonesia menegaskan langkahnya guna mengukuhkan peran sentral sebagai simpul penggerak utama dalam dialog internasional seputar keberlanjutan masa depan.
Struktur agenda pembicaraan dalam konferensi ini dirancang secara terpadu melalui dua poros pokok yang saling menguatkan. Pada hari pertama, rangkaian sesi dipusatkan pada tema "Powering Low-Carbon Growth" yang mengulas ranah-ranah sektor strategis pengungkit laju perekonomian beremisi rendah.
Memasuki hari kedua, tema yang diusung beralih pada "Enabling a Resilient & Liveable Future". Fokus pembahasan diarahkan penuh pada aneka elemen penunjang vital yang menyokong fondasi pertumbuhan ekonomi secara tangguh, berkesinambungan, dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ketua Pelaksana ISF 2026, Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa keteguhan dalam menjaga kesinambungan komitmen hijau menjadi kian vital dan krusial di tengah gejolak lanskap global belakangan ini.
"Di tengah perubahan arah dan dinamika global, menjaga konsistensi agenda keberlanjutan menjadi semakin penting. Bagi Indonesia, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan," ujar Rachmat.
Lebih lanjut dirinya menjabarkan bahwa paradigma ekonomi hijau seharusnya diposisikan secara mutlak sebagai pilar terintegrasi dari haluan pembangunan menyeluruh, alih-alih cuma diperlakukan layaknya agenda pelengkap semata.
"Kami melihat pertumbuhan hijau perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, membuka peluang baru, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat. Berangkat dari kepentingan nasional justru dapat membuat agenda keberlanjutan lebih relevan, berkelanjutan, dan membuka ruang kolaborasi global," katanya.
Gagasan selaras turut dipaparkan oleh Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan Kadin Indonesia, Shinta Kamdani. Menurut pandangannya, isu keberlanjutan saat ini telah berevolusi menjadi instrumen esensial bagi strategi ekspansi operasional dan keunggulan kompetitif sektor usaha modern.
"Sustainability semakin menjadi bagian dari bagaimana dunia usaha melihat pertumbuhan, daya saing, dan peluang di masa depan. Bagi perusahaan, transisi ini membuka ruang untuk berinovasi, menciptakan nilai, dan membangun daya saing jangka panjang. ISF 2026 mempertemukan dunia usaha, investor, pemerintah, dan berbagai mitra strategis untuk melihat peluang tersebut dan mendorong kolaborasi yang dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan resilient," kata Shinta.
Rachmat kembali menggarisbawahi bahwa forum ini secara terencana disiapkan menjadi wadah pertukaran wawasan antarbidang sekaligus sarana pengkajian gagasan terapan yang benar-benar siap dipraktikkan.
"ISF 2026 membuka ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman, melihat tantangan dari berbagai perspektif, dan mengeksplorasi solusi yang dapat diterapkan. Bagi Indonesia, kolaborasi seperti ini penting untuk mendorong inovasi, memperkuat daya saing, dan membangun pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan resilient dalam jangka panjang," ujarnya.
ISF 2026 bakal menghadirkan lebih dari 200 narasumber internasional terkemuka yang terbagi dalam perhelatan pleno maupun diskusi tematik khusus. Seluruh panelis mencakup representasi aparatur negara, badan internasional, korporasi swasta, institusi perbankan, lingkungan akademis, dan berbagai entitas global ternama.
Sederet tokoh penting yang telah memvalidasi keikutsertaannya mencakup Sigit Puji Santosa (CTO Danantara Indonesia), Helen Clarkson OBE (CEO The Climate Group), Justin Ma (Head of Transition Finance & Advisory ASEAN and South Asia, Standard Chartered Bank), Allen Tom Abraham (Global Head of Sustainable Materials, BloombergNEF), hingga Felipe Carazo (Tropical Forest Alliance).
Daftar pembicara tersebut kian lengkap dengan kepastian Frederick Teo (CEO GenZero) serta Jeremy Oppenheim (Founding Partner Systemiq). Secara keseluruhan, agenda akbar ini menggelar lebih dari 20 rangkaian sesi pertemuan dan diproyeksikan menarik ribuan delegasi dari unsur birokrasi negara, korporasi bisnis, kalangan riset ilmiah, lembaga pemikir, pemodal, hingga organisasi filantropi.
Skala penyelenggaraan masif tersebut bukanlah hal baru bagi rekam jejak ISF. Sedari pertama kali diluncurkan pada 2023, ajang ini membuktikan perkembangan pesat sebagai wadah strategis yang mempertemukan kepala pemerintahan, korporasi, investor, entitas dunia, serta akademisi.
Perhelatan perdana ISF 2023 berhasil menghimpun lebih dari 2.000 peserta yang berdatangan dari 40 negara lebih. Lonjakan kehadiran tercatat pada ISF 2024 dan 2025 yang sukses menjaring masing-masing lebih dari 11.000 dan 10.000 delegasi, disertai keterlibatan lebih dari 100 narasumber di tiap edisi. Melalui kolaborasi tersebut, lebih dari 30 nota kesepahaman (MoU) perihal transisi energi berhasil direalisasikan secara resmi.
Pencapaian bersejarah itu menjadi fondasi kokoh bagi gelaran ISF 2026 guna memperluas spektrum kemitraan produktif, sekaligus mempertautkan sinergi antara misi keberlanjutan lingkungan, penguatan ekonomi nasional, serta resiliensi masa depan.
ISF 2026 dibuka secara luas bagi masyarakat umum, pelaku usaha, sivitas akademika, perwakilan media massa, investor, serta pemangku kepentingan terkait. Proses pendaftaran partisipasi dapat dilakukan lewat portal resmi Indonesia International Sustainability Forum hingga batas akhir pada 5 Oktober 2026.
