Kolaborasi antara Yayasan Sayap Ibu Banten dan seorang pemuda bernama Dimitri Herlambang resmi menghadirkan Kedai Nawasena di kawasan Tangerang Selatan. Tempat kuliner ini dikelola secara menyeluruh oleh rekan-rekan penyandang disabilitas majemuk sebagai sarana untuk membangun kemandirian finansial.
TANGERANG SELATAN – Kemitraan strategis dibangun oleh Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten bersama Dimitri Herlambang (16), pemuda peraih dukungan dana internasional IB Global Youth Action Fund (GYAF). Mereka meresmikan operasional Kedai Nawasena yang berlokasi di Bintaro, Tangerang Selatan. Kafe tersebut terbilang istimewa karena segala aktivitas pelayanannya dijalankan oleh anak-anak disabilitas ganda demi mendorong pemberdayaan ekonomi mereka secara konkret.
Penggagas Project Nawasena, Dimitri Herlambang, menuturkan bahwa kedai yang memanfaatkan area pelataran Yayasan Sayap Ibu Banten ini berfungsi sebagai wadah edukasi keterampilan vokasional dan kewirausahaan. Inisiatif positif ini diarahkan khusus bagi para individu penyandang disabilitas intelektual serta majemuk supaya mereka memiliki kemampuan kerja dan berdikari secara finansial. Puncak dari program tersebut diwujudkan lewat pendirian Kedai Nawasena, gerai kafe peti kemas atau kontainer yang segenap operasional lapangannya ditangani tenaga difabel.
Gagasan mendirikan Project Nawasena bermula dari rasa kepedulian Dimitri saat menyaksikan terbatasnya kesempatan kerja bagi kalangan difabel intelektual. Mengutip temuan studi Perkumpulan Prakarsa, tercatat hanya sekitar 14 persen warga dengan disabilitas intelektual di tanah air yang mampu menuntaskan jenjang sekolah menengah atas. Selain itu, baru sekitar 9,84 persen dari mereka yang pernah memperoleh kesempatan mengikuti kursus keterampilan kerja.
“Project Nawasena berangkat dari keyakinan bahwa setiap individu memiliki hak dan kebutuhan yang sama. Teman-teman disabilitas intelektual hanya membutuhkan kesempatan dan pendekatan yang tepat untuk dapat memenuhi hak tersebut,” ungkap Dimitri saat memberikan pernyataan resminya pada hari Senin.
Dimitri tercatat menjadi satu di antara enam perwakilan dari Indonesia yang sukses mengamankan hibah global IB Global Youth Action Fund (GYAF) periode 2026. Dalam edisi kali ini, komite GYAF menerima pendaftaran lebih dari 1.100 proposal yang datang dari 40 negara di dunia. Dari seleksi ketat tersebut, cuma ada 110 rancangan proyek sosial garapan 324 agen perubahan belia yang berhak memperoleh bantuan pembiayaan sejumlah 2.500 dolar AS.
Sejak bergulir pada September 2025 lalu, Dimitri terus menjalin kerja sama erat dengan Yayasan Sayap Ibu Banten. Lembaga nirlaba ini membina serta mengasuh lebih dari 30 anak dengan ragam tantangan fisik maupun mental, mencakup autisme, cerebral palsy, hingga Down syndrome. Pada periode permulaan, ia membimbing lima binaan bernama Umay, Yuyun, Ucup, Irfan, dan Hana. Dimitri mengonsep kurikulum pengajaran praktis serta inklusif secara personal, meliputi keramahan layanan konsumen, pengoperasian mesin kasir, hingga tata kelola penyajian makanan.
Berbekal pengalaman simulasi di aneka gelaran pasar rakyat atau bazar wilayah Tangerang Selatan pada Desember 2025, Dimitri akhirnya berani meresmikan gerai fisik Kedai Nawasena dengan skema pembagian kerja rapi. Proses penyambutan para pembeli ditangani langsung oleh Umay dan Hana, transaksi di meja kasir dipercayakan kepada Ucup, sementara urusan penyiapan hidangan serta pengantaran pesanan dikerjakan bersama anggota regu lainnya. Pilihan sajian yang dijajakan terdiri dari penganan Pentol Siomay dan Bakso.
“Mimpi besar saya adalah Project Nawasena dapat terus berlanjut dan menjadi jembatan bagi teman-teman disabilitas untuk direkrut oleh perusahaan, sehingga mereka dapat memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri,” imbuh Dimitri memaparkan visinya.
Partisipasi Yayasan Sayap Ibu diawali sejak awal perjumpaan ketika Dimitri memaparkan inisiatif pembentukan wahana pemberdayaan ini. “Saat itu, Dimi memiliki gagasan untuk mendirikan Kedai Nawasena sebagai ruang pemberdayaan. Awalnya ada tiga anak yang terlibat, kemudian bertambah menjadi lima anak. Saya sangat terkesan karena proyek ini menjadi sebuah warisan yang berarti bagi Sayap Ibu,” jelas Renowati Hardjosubroto selaku Ketua Bidang Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat Yayasan Sayap Ibu Banten.
Pengurus yayasan menganggap kehadiran gerai Kedai Nawasena sebagai jawaban efektif, mengingat minimnya peluang anak disabilitas majemuk untuk bekerja di sektor formal biasa. “Betul, mereka sangat antusias karena mendapatkan gaji dari Dimi. Bagi mereka, tersenyum kepada pelanggan pun merupakan bagian dari pekerjaan yang patut dihargai. Yang terpenting adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dan merasakan pengalaman bekerja dalam lingkungan yang mendukung,” tutur Reno memungkasi.







