Insiden Berdarah di New York: Agen ICE Tembak Pria di Depan Bocah Lima Tahun

Posted on
banner 336x280

Aksi penembakan yang melibatkan petugas imigrasi Amerika Serikat, ICE, kembali mencuat ke publik. Kali ini, aparat ICE menembak hingga mencederai seorang pengemudi pria di dalam kendaraannya, yang pada saat kejadian sedang membawa seorang anak kecil berumur lima tahun, pada hari Kamis waktu setempat.

Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (9/10/2026), peristiwa mencekam tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 di kawasan Marble Hill, Kota New York. Keterangan perihal peristiwa ini turut disampaikan secara terbuka oleh pihak wali kota, kepolisian setempat, serta sejumlah saksi di lokasi.

banner 468x60

"Berdasarkan laporan awal, petugas mengepung korban beserta seorang anak berusia lima tahun di dalam mobil sebelum akhirnya memuntahkan sejumlah tembakan," ungkap Wali Kota New York Zohran Mamdani lewat pernyataan resminya.

"Saya sudah menghubungi Presiden Trump dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Mullin via sambungan telepon demi mengupayakan kebebasan pria yang terluka akibat tembakan agen ICE tersebut. Namun dialog tersebut menemui jalan buntu," jelas Mamdani saat menggelar konferensi pers pada larut malam.

Mamdani secara tegas mendesak kabinet pimpinan Trump untuk segera menghentikan segala bentuk operasi penegakan hukum oleh ICE di wilayah Kota New York. Ia menilai deretan aksi represif semacam itu justru semakin mengikis rasa aman masyarakat di kotanya.

"Warga kota menghendaki ICE segera angkat kaki. Kami meminta ICE menyingkir dari kota kami, dari fasilitas sekolah kami, dari rumah sakit kami, dari jalanan kami, dan menjauh dari anak-anak kami," seru Mamdani seraya memastikan bocah berumur lima tahun di mobil selamat tanpa menderita luka fisik.

Komisaris NYPD Jessica Tisch membeberkan bahwa pria korban penembakan itu berumur 28 tahun. Rekam jejak menunjukkan pria tersebut pernah diringkus polisi sebanyak dua kali di Kota New York, yakni pada 2023 dan 2025 silam.

Pihak kepolisian New York pun memastikan keberadaan anak kecil di dalam mobil tersebut. Usai menjalani evaluasi fisik serta keselamatan, sang bocah langsung dipulangkan ke pihak keluarga.

Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang menaungi ICE mengonfirmasi melalui pernyataan resmi bahwa anggotanya tengah menggelar operasi hukum khusus di Bronx, New York. Targetnya adalah menangkap seorang warga negara Republik Dominika yang menyandang status terpidana atas tindak pidana sebelumnya.

"Pada insiden itu, salah satu agen ICE melepaskan peluru sehingga seorang imigran ilegal berstatus pelaku kriminal menderita luka," papar DHS, sembari menegaskan bahwa aparat langsung memberikan pertolongan medis pertama kepada korban di lokasi.

"Pria bersangkutan masih bertahan hidup dan kini dirawat di fasilitas rumah sakit terdekat," lanjut DHS dalam rilisnya.

Ketika insiden berdarah itu pecah, seorang pekerja restoran di area sekitar, Pedro Almarez, mengaku mendengar rentetan bunyi tembakan senjata api. Ia bergegas keluar dan menyaksikan kerumunan pria berpakaian seragam dinas ICE di lokasi penembakan.

"Personel ICE jumlahnya sangat banyak di sana, lengkap bersama tiga hingga empat unit kendaraan," tutur Almarez memaparkan suasana di lapangan.

Almarez menambahkan bahwa aparat NYPD baru tiba kurang lebih sepuluh menit pascainsiden. Korban luka baru dipindahkan dari dalam kendaraannya seusai mobil ambulans tiba di lokasi.

Pada tempat penembakan, di mana polisi memasang garis pembatas kuning guna memblokir jalanan satu blok kota, seorang wanita dari balkon hunian tampak berteriak keras ke arah aparat. Perempuan itu menuduh operasi ICE semata-mata menjadi siasat untuk merebut anak-anak mereka.

Hingga kini, aparat imigrasi federal tercatat telah menembak sedikitnya 21 individu semenjak Donald Trump kembali menduduki kursi kepresidenan AS, di mana tujuh korban dilaporkan meregang nyawa.

Gelombang penembakan tersebut menyulut aksi unjuk rasa besar di seantero negeri. Sejumlah pengamat menilai dorongan ekspansi deportasi oleh Trump kian memicu bentrokan fisik berdarah, sembari mengecam sikap pemerintah yang terkesan enggan meminta pertanggungjawaban para petugas.

Trump sendiri bersikukuh jutaan imigran ilegal wajib dideportasi dari AS. Ia berulang kali menuding kelompok migran tersebut sebagai sumber aneka penipuan finansial serta tindak kriminalitas kekerasan berbahaya.

banner 336x280