Imbas Konflik Timur Tengah, Pasokan Impor BBM Indonesia Berkurang 25 Persen

Posted on
banner 336x280

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa Indonesia telah kehilangan sekitar 25 persen dari total pasokan impor bahan bakar minyak (BBM) akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan bahwa pihak kementerian bersama PT Pertamina (Persero) terus berupaya menjajaki pasokan alternatif dari berbagai negara mitra lain guna mengamankan ketersediaan energi di dalam negeri.

banner 468x60

"Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25 persen sumber impor," kata Laode dalam agenda Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang ditayangkan via kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri pada Senin (5/10).

Laode menjelaskan bahwa dinamika geopolitik ini memaksa perubahan pada mekanisme pengadaan BBM impor. Jika sebelumnya Pertamina rutin mengandalkan sistem tender terbuka, saat ini jumlah peserta lelang internasional tersebut justru menyusut sangat signifikan.

Situasi tersebut menuntut Pertamina untuk mendekati negara-negara penghasil minyak bumi yang masih memiliki kelebihan cadangan dan melayangkan penawaran langsung tanpa tender. Walau demikian, Laode tidak menampik bahwa skema pembelian langsung berisiko mendatangkan harga komoditas yang lebih mahal dibanding lelang reguler.

Meski menghadapi tantangan rantai pasok, Laode menegaskan level persediaan BBM domestik tetap terjaga aman pada rentang waktu 18 sampai 20 hari. Pemerintah turut memberikan kepastian bahwa banderol harga BBM bersubsidi, termasuk Solar dan Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan.

"Jadi, pertama adalah subsidi di solar dan bensin tetap kita jaga tetap, yang kedua adalah ketahanan stok 18 sampai 20 hari itu tetap ada," tutur Laode.

Mengenai kemunculan antrean armada kendaraan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Laode membantah isu yang menyebut peristiwa itu bersumber dari krisis stok bahan bakar nasional.

Ia menerangkan bahwa antrean panjang lebih disebabkan oleh hambatan transportasi imbas cuaca panas ekstrem fenomena El Nino yang menyusutkan rute logistik perairan pedalaman.

Pendangkalan jalur sungai memaksa armada distribusi dialihkan melintasi jalan darat memakai truk tangki, yang daya muatnya jelas jauh lebih terbatas daripada kapal tongkang perairan.

"Itu salah satu contoh kenapa terjadi antrean. Tetapi dari sisi ketahanan stok, 18 sampai 20 hari selalu tersedia, dan kami juga selalu bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam rangka memitigasi kondisi di lapangan," pungkas Laode.

banner 336x280