Jakarta – Korps Bhayangkara melalui jajaran Bareskrim Polri siap mendalami setiap laporan dan aduan warga perihal indikasi kecurangan dalam aktivitas bursa saham. Aparat penegak hukum akan mengumpulkan bukti terlebih dahulu guna memproses langkah hukum berikutnya.
“Pihak kepolisian tentu akan mengerahkan personel dari Bareskrim Polri sesuai laporan serta aduan yang kami peroleh, menyangkut indikasi pelanggaran maupun tindak kriminal di ranah pasar modal,” ujar Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat berada di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Suyudi menegaskan, kepolisian hanya akan melangkah berdasarkan alat bukti valid yang dihimpun para penyelidik guna memastikan hadirnya kepastian hukum dalam ekosistem investasi domestik.
“Tentu saja berbekal alat bukti yang berhasil kami dapatkan, jajaran kami bakal menindak secara tegas demi mewujudkan kepastian hukum atas polemik yang terjadi pada industri pasar modal ini,” tutur Suyudi.
Pelemahan Semakin Terjal
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak tidak berdaya saat memulai perdagangan sesi kedua pada Jumat (16/10/2026). Posisi IHSG terpuruk sangat dalam seiring memerahnya seluruh sektor perdagangan tanpa terkecuali.
Berdasarkan data RTI pada pukul 14.29 WIB, posisi IHSG ambles hingga 11,02 persen menyentuh level 5.217. Sementara indeks saham unggulan LQ45 ikut tergelincir 12,93 persen menuju 513,46. Seluruh tolok ukur indeks bursa kompak mengalami tekanan berat.
Memasuki sesi kedua perdagangan, laju indeks komposit sempat menggapai titik paling tinggi 5.404,50 serta titik terendah 5.193,22. Kejatuhan indeks dipicu oleh anjloknya 781 saham emiten. Hanya ada sembilan saham yang mampu menguat dan satu emiten posisinya tidak berubah. Aktivitas perdagangan membukukan frekuensi 1.689.449 kali dengan total volume saham beredar 58,1 miliar lembar. Perputaran uang harian di bursa mencapai angka Rp 21,6 triliun. Pada waktu yang sama, nilai tukar mata uang dolar AS terhadap rupiah bertengger di rentang Rp 18.000.
Semua sektor industri kompak terpukul. Koreksi paling parah menimpa sektor bahan baku (basic) yang ambles 13,175 persen. Bidang energi terkoreksi 11,89 persen, sektor manufaktur tergelincir 11,49 persen, serta kelompok barang konsumen primer (nonsiklikal) merosot 9,4 persen.
Selanjutnya, indeks barang konsumen sekunder (siklikal) terpangkas 10,69 persen, sektor layanan kesehatan menyusut 10,19 persen, dan sektor finansial tertekan 9,18 persen. Saham real estat melorot 9,73 persen, sektor teknologi berkurang 7,12 persen. Terakhir, indeks infrastruktur terjerembap 12,96 persen serta transportasi jatuh 9,8 persen.
Emiten CLEO terkoreksi 8,37 persen ke angka Rp 394 tiap lembar. Saham tersebut mengawali transaksi di posisi Rp 398 dibanding penutupan hari kemarin di level Rp 430. CLEO menyentuh puncak Rp 412 dan titik dasar Rp 368 per saham. Transaksi harian CLEO mencatat 2.840 kali dengan volume sebanyak 297.056 saham senilai Rp 11,8 miliar.
Saham DSSA turut tertekan Rp 715 tiap lembar. Level puncak serta terendah DSSA berada pada posisi Rp 715 per lembar. Transaksi saham DSSA terlaksana 9.311 kali frekuensi dengan volume 3.880.863 lembar dan membukukan nilai harian mencapai Rp 334,5 miliar.
Simak pembaruan informasi terkini melalui Liputan6.
MSCI Soroti Pasar Modal Nasional, Otoritas Jasa Keuangan: Langkah Pemulihan Begitu Masif
Lembaga MSCI Tuntut Penegakan Regulasi Bursa, Drajad Wibowo: Prosesnya Sudah Berjalan
Pimpinan DPR Sufmi Dasco Ungkap Cara Parlemen Mengawal Restrukturisasi Bursa Efek
