IHSG Merosot Kembali ke Area 4.000, Masalah Evaluasi MSCI Terus Menekan Keyakinan Pemodal

Posted on
banner 336x280

Isu seputar indeks MSCI dinilai masih terus menyelimuti tingkat kepercayaan dari para pelaku pasar serta penanam modal.

JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (30/10/2026) pagi mengawali langkah di zona merah, tertekan oleh kecemasan para pemodal terkait kredibilitas bursa saham domestik ditambah ketidakjelasan kebijakan tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. IHSG tergelincir 31,12 poin atau setara 0,61 persen menuju level 5.066,94. Tidak membutuhkan waktu lama, kemerosotan indeks kian tajam hingga terperosok ke zona 4.979,34.

Maximilianus Nico Demus selaku Associate Director of Research and Investment dari Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset hariannya di Jakarta, Jumat, mengutarakan bahwa perkara MSCI tetap menjadi sentimen negatif yang membebani optimisme pelaku industri finansial dan para penanam modal.

Gelombang tekanan tersebut sebelumnya telah terlihat lewat koreksi IHSG yang mencapai 3,49 persen. Berbarengan dengan situasi itu, tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara turut terkerek naik ke level 7,64 persen.

Kecemasan di bursa keuangan lokal pun kian nyata lewat bayang-bayang potensi kaburnya modal asing (capital outflow) yang dikhawatirkan sanggup memukul nilai tukar rupiah.

Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, sebelumnya sempat memberikan peringatan jika kurs garuda berisiko terkulai ke level Rp 20.000 sampai Rp 22.000 per dolar AS bila kendala pasar modal mengenai penilaian MSCI gagal diselesaikan secara cepat.

“Pernyataan Hashim mengenai potensi pelemahan rupiah hingga Rp 22.000 per dolar AS mencerminkan besarnya risiko kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik, khususnya di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI,” kata Maximilianus.

Kendati Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti merespons hal tersebut dengan menegaskan bahwa fondasi perekonomian nasional pada dasarnya cukup kokoh, para investor tetap memilih bersikap waspada terhadap kelanjutan penurunan rupiah.

“Kami memperkirakan upaya BI menjaga rupiah akan tetap menjadi prioritas, dengan mengoptimalkan intervensi pasar dan instrumen moneter tanpa harus langsung menaikkan suku bunga acuan,” jelasnya.

Nico berpandangan bahwa keberhasilan langkah moneter itu nantinya amat bertumpu pada transparansi serta pembenahan tata kelola pada industri pasar modal demi membangkitkan kembali optimisme modal internasional.

Dengan demikian, ancaman depresiasi mata uang garuda bukan murni dipengaruhi gejolak global semata, melainkan juga ditentukan oleh tingkat keseriusan reformasi di tubuh pasar finansial tanah air.

Selain faktor domestik, pergerakan bursa turut dipengaruhi oleh kabar ekonomi Amerika Serikat, utamanya laju inflasi yang berpotensi memicu ketegasan langkah moneter The Fed.

Catatan Pilarmas menunjukkan indikator Personal Consumption Expenditures (PCE) AS melonjak dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan (yoy).

Di waktu yang sama, tingkat pertumbuhan konsumsi publik justru merosot dari 0,9 persen ke level 0,5 persen.

Tingginya inflasi di saat konsumsi masyarakat melandai menghadirkan ketidakpastian baru seputar arah bunga The Fed, sehingga memicu beban lanjutan ke pasar keuangan dunia dan Indonesia.

Melihat rangkaian sentimen tersebut, Pilarmas menaksir IHSG masih rentan terkoreksi hari Jumat ini pada batas support 4.815 dan resistance 5.185.

IHSG Anjlok Lagi ke Level 4.000-an, Persoalan MSCI Masih Membayangi Investor

Harga Emas Turun Lagi Hari Ini, Ini Daftar Lengkapnya

Perkuat Ketahanan Energi, PLN Alirkan Gas Natuna ke Batam Lewat Pipa WNTS–Pemping

Pertamina dan Kemenkop Luncurkan Piloting Pengumpulan Minyak Jelantah

BUMN Perikanan Perlu Diperkuat dari Hulu hingga Hilir