Pihak otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya memberikan tanggapan resmi mengenai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terperosok sedalam 10 persen pada akhir sesi pertama perdagangan hari Jumat (16/10) menyusul rilis pernyataan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Lembaga MSCI diketahui baru saja merilis rencana konsultasi terkait evaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia, yakni peluang penurunan peringkat dari kelompok pasar berkembang (emerging market) menuju kelompok pasar mandiri (standalone market).
Iding Pardi selaku Direktur Pengembangan BEI mengakui secara terbuka bahwa sentimen dari rilis MSCI tersebut merupakan pemicu paling dominan di balik kejatuhan indeks acuan domestik saat ini.
"Terus terang kalau bicara IHSG itu banyak faktor, ya. Tapi kalau bicara hari ini, ya mungkin market juga bisa menyimpulkan bahwa sejak pengumuman itu kemudian terjadi penurunan market yang cukup tajam. Bisa disimpulkan memang trigger-nya adalah pengumuman dari MSCI ini," ungkap Iding saat menemui para jurnalis di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (16/10).
Kendati pasar terkoreksi tajam, Iding menegaskan bahwa sederet data ekonomi makro domestik sebetulnya masih bertahan dalam level yang cukup tangguh dan kokoh mendukung stabilitas perekonomian.
"Kalau dalam negeri mungkin kan multifaktor. Dalam negeri itu kan sejauh ini juga ukuran-ukuran parameter-parameter ekonomi juga sejauh ini sudah dikomunikasikan oleh pemerintah bahwa ekonomi kita cukup stabil dan tumbuh dengan baik," imbuh Iding.
Oleh karena itu, regulator bursa menyarankan segenap kalangan pemodal agar tetap berkepala dingin dan tidak terburu-buru mengambil langkah secara reaktif. Iding menggarisbawahi pentingnya mempertahankan orientasi investasi jangka panjang berlandaskan kinerja riil emiten.
"View-nya dari investor itu harusnya lebih pada long term horizon. Lihat fundamentalnya dari perusahaan. Bertindak secara rasional, jangan ikut-ikutan, jangan jual atau beli karena pergerakan pasar, tapi jual atau beli benar-benar karena fundamental dari market, fundamental dari perusahaannya," tegas Iding.
Pada kesempatan yang sama, Saidu Solihin selaku Direktur Penilaian Perusahaan BEI turut menjelaskan bahwa secara umum kinerja keuangan korporasi tercatat masih sangat menjanjikan, mencakup indikator perolehan laba, pendapatan operasional, hingga ekspansi nilai aset.
"Secara fundamental, secara kondisi emiten-emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia kita masih cukup kuat dan masih cukup growth. Tinggal bicara masalah persepsi dan pengumuman tadi dari MSCI," papar Saidu.
Lebih jauh Saidu memaparkan bahwa status standalone market tersebut masih berbentuk wacana konsultasi publik yang prosesnya berlangsung sampai April 2027. Karena itu, pelaku pasar diimbau objektif menyikapi dinamika pasar modal tanah air.
Pada jeda perdagangan siang Jumat (16/10), IHSG terpantau ambles 630,78 basis poin atau jatuh 10,76 persen menuju level 5.233.
Mengutip data perdagangan RTI Business, sebanyak 771 emiten mencatatkan pelemahan harga, hanya 14 saham yang mampu bergerak di zona hijau, serta tiga saham lainnya terpantau stagnan.
Aktivitas bursa melibatkan perpindahan volume 38,70 miliar lembar saham senilai Rp17,33 triliun melalui 1,35 juta kali transaksi. Nilai kapitalisasi pasar modal menyusut menjadi Rp9.245,87 triliun.
Menariknya, pemodal asing justru mencetak aksi beli bersih atau net foreign buy sebesar Rp567,96 miliar menurut catatan data terakhir RTI Business tertanggal 15 Oktober 2026.
Aksi akumulasi beli investor asing tersebut terdistribusi senilai Rp520,03 miliar di pasar reguler serta sebesar Rp47,93 miliar di pasar negosiasi maupun pasar tunai.







