Hilirisasi Bernilai Tambah Terus Didorong, Pengamat Tekankan Pentingnya Daya Serap Tenaga Kerja Lokal

Posted on
banner 336x280

Aliran modal berskala raksasa dinilai mendesak untuk mampu mendongkrak kapabilitas sektor manufaktur serta memberdayakan para pekerja domestik.

Arus penanaman modal pada bidang hilirisasi di tanah air menyentuh angka Rp300,1 triliun sepanjang paruh pertama 2026, menyumbang kisaran 29,7 persen dari keseluruhan capaian investasi nasional. Besaran kucuran dana tersebut dipandang wajib dibarengi dengan perluasan serapan tenaga kerja lokal, alih teknologi yang efektif, serta partisipasi aktif korporasi dalam negeri agar dampak positif perekonomian tak cuma dinikmati oleh korporasi raksasa semata.

Pakar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika, Sarlina Sari, menegaskan bahwa kesuksesan agenda hilirisasi mustahil semata-mata diukur melalui besaran nominal modal yang mengalir masuk. Pembuat kebijakan dituntut untuk menjamin bahwa pembenahan dan ekspansi industri pengolahan sanggup mendongkrak nilai tambah komoditas alam serta memperluas peluang berkarier bagi warga sekitar.

Dalam pandangan Sarlina, agenda hilirisasi yang gencar digerakkan oleh Presiden Prabowo Subianto patut diiringi pembenahan mutu sumber daya manusia serta penguatan daya saing pabrikasi dalam negeri. Upaya terstruktur ini krusial supaya Indonesia tak sekadar dijadikan lokasi pemrosesan material mentah, melainkan juga piawai melahirkan terobosan teknologi mutakhir sekaligus membangun rantai industri pendukung yang tangguh.

“Saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” tutur Sarlina melalui pernyataan resminya di Jakarta, Ahad (11/10/2026).

Realisasi pembangunan fasilitas hilirisasi salah satunya terpusat di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Bertepatan pada 8 Oktober 2026, otoritas meresmikan peluncuran 11 portofolio manufaktur dengan akumulasi nilai permodalan mendekati Rp180 triliun.

Menilik perincian portofolio itu, empat proyek kini telah beroperasi secara komersial penuh, sementara tujuh proyek lain tengah memasuki fase konstruksi fisik. Seluruh inisiatif tersebut mencakup produksi sel baterai kendaraan listrik, material turunan nikel, komoditas aluminium olahan, manufaktur alat berat bertenaga listrik, hingga sarana rantai pasok pendukung pembangkit surya.

Sebelas inisiatif strategis ini diestimasikan siap menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja baru. Kendati begitu, Sarlina mengingatkan bahwa kucuran modal sefantastis itu semestinya dapat memicu akselerasi penguasaan teknologi anak bangsa serta merangkul keterlibatan jejaring penyedia barang dan jasa lokal.

“Yang penting bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan juga seberapa jauh investasi tersebut mampu membangun ekosistem industri yang kuat, meningkatkan kapasitas teknologi nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Hilirisasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok industri global,” imbuh akademisi tersebut.

Sarlina turut memberikan catatan penting bagi kepemimpinan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam merealisasikan target permodalan. Menurut catatannya, strategi memikat investor global harus disokong penuh oleh kepastian hukum dan perizinan, kesiapan infrastruktur logistik, serta peningkatan kompetensi teknis tenaga kerja setempat.

“Peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjadi penting dalam memastikan bahwa komitmen investasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita berharap investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok domestik, dan mendorong tumbuhnya industri pendukung nasional,” paparnya memaparkan pandangan.

Mengacu pada laporan resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, capaian penanaman modal secara menyeluruh di tanah air membukukan Rp1.010,6 triliun pada semester pertama 2026. Perolehan ini menunjukkan pertumbuhan positif 7,2 persen dibandingkan periode serupa di tahun sebelumnya, seraya mencatatkan penyerapan pekerja sebanyak 1.448.862 jiwa.

Sarlina menegaskan, tren ekspansi penanaman modal wajib diimbangi kemitraan rantai pasok yang erat antara konglomerasi industri besar dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Lembaga pendidikan tinggi dan jajaran birokrasi daerah pun memegang peranan krusial untuk mencetak angkatan kerja terampil yang klop dengan spesifikasi teknis pabrik.

“Investasi yang berkualitas adalah investasi yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu diperkuat. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri,” beber Sarlina dengan tegas.

Di luar indikator fiskal, Sarlina menggarisbawahi perlunya pengawasan ketat terhadap tata kelola ekologis, efisiensi konsumsi daya, serta standar perlindungan keselamatan kerja di area industri terpadu. Pendekatan hilirisasi, lanjutnya, wajib mengusung prinsip berkesinambungan agar imbal hasil ekonomi terasa hingga generasi mendatang.

“Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi dari negara yang mengekspor bahan mentah menjadi negara industri menghasilkan manfaat jangka panjang. Kita ingin sumber daya alam tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Sarlina.