Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto saat ini tengah menyiapkan program hilirisasi komoditas batu bara agar dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak (BBM), utamanya bensin. Inisiatif strategis ini digulirkan guna mendongkrak ketahanan energi dalam negeri sekaligus menekan tingginya ketergantungan terhadap pasokan BBM impor.
Gagasan memproses batu bara menjadi bahan bakar bensin tersebut terinspirasi dari pencapaian positif pemerintah saat mengimplementasikan kebijakan pencampuran bahan bakar nabati sawit, yakni biodiesel 50% atau program B50.
Merespons kebijakan tersebut, Singgih Widagdo selaku Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) memaparkan bahwa secara teknis pengolahan batu bara menjadi bensin atau gasoline memang sangat mungkin diwujudkan.
"Teknologi untuk hal ini juga sudah ada. Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang telah memiliki teknologi ini dimana Perusahaan mereka yang bernama SASOL sudah memiliki fasilitas pabrik untuk proses Coal to Liquid," jelas Singgih saat diwawancarai CNBC Indonesia pada Rabu (23/9/2026).
Singgih menjelaskan lebih lanjut bahwa tahapan awal pengolahan batu bara menjadi bensin pada dasarnya serupa dengan proses pembuatan Dimethyl Ether (DME). Metode ini melibatkan reaksi batu bara bersama oksigen serta uap air di bawah suhu atau tekanan tinggi guna menghasilkan gas sintesis (syngas) berupa kombinasi gas CO serta H2.
"Syngas ini kemudian diproses lebih lanjut utk menghasilkan product "Methanol" dan methanol inilah yang kemudian dapat diproses menjadi DME atau Gasoline (Bensin)," papar Singgih merinci alurnya.
Kendati demikian, Singgih menekankan kendala fundamental dalam proyek ini sesungguhnya bukan pada aspek kesiapan teknologi, melainkan menyangkut faktor keekonomian. Proyek ini menuntut kucuran belanja modal (Capital Expenditure) dan anggaran operasional yang teramat masif, sehingga sektor swasta kemungkinan besar masih ragu mengucurkan investasinya demi memproduksi bensin berbahan batu bara tersebut.
"Terbukti beberapa waktu lalu Air-Product dari Amerika Serikat, mundur dan enggan melanjutkan rencana utk pembuatan DME dari batubara ini, salah satunya karena alasan keekonomian," ujar Singgih menegaskan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo sempat mengungkapkan bahwa inovasi bahan bakar berbasis sumber daya domestik ini lahir dari dedikasi serta kepintaran para akademisi tanah air, khususnya dari lingkungan fakultas teknik.
"Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya ya, bukan yang profesor tadi itu. Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara," tutur Prabowo dalam acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, dikutip Minggu (20/9/2026).
Prabowo menilai pencapaian dari penerapan B50 menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia berdaya memanfaatkan kekayaan alam lokal demi mencukupi konsumsi energi dalam negeri secara optimal.
"Kita mulai 1 Juli yang lalu kita tidak impor solar dari luar negeri. Solar kita sekarang sudah mandiri," sebutnya.
Kepala Negara menandaskan bahwa kemandirian pasokan solar merupakan pijakan krusial dalam menghadapi situasi dunia yang penuh ketidakpastian akibat memanasnya geopolitik serta ancaman disrupsi pasokan energi.








