Hari Tani Nasional: Pemanfaatan Energi Terbarukan, Ketahanan Pangan, dan Kemandirian Petani Kamojang

Posted on
banner 336x280

Pemanfaatan energi bersih terbarukan terbukti efektif membantu proses konversi limbah organik menjadi pupuk bermutu tinggi.

KAMOJANG – Di kawasan perbukitan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, potensi panas bumi saat ini tidak lagi sekadar difungsikan sebagai pasokan energi listrik semata. Di tangan para petani setempat, energi ramah lingkungan ini sekarang dimaksimalkan untuk mengolah sisa buangan organik menjadi penyubur tanaman, menjaga kesuburan tanah perkebunan, sampai menghasilkan panen komoditas pangan berkualitas.

banner 468x60

Inisiatif kreatif tersebut berawal dari kendala nyata yang senantiasa dialami kelompok tani sehari-hari. Suhu udara pegunungan yang relatif dingin disertai tingkat kelembapan serta curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan tahapan pengeringan pupuk kompos konvensional memakan waktu lama hingga 14 hari. Di waktu bersamaan, pasokan pupuk bersubsidi yang kian terbatas dan mahalnya harga pupuk anorganik di pasaran menjadi beban tersendiri bagi kelangsungan budidaya tani mereka.

Situasi pelik itu lantas menggerakkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang bersama pihak PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, entitas usaha Pertamina, untuk merintis GeO-Fert. Produk pupuk alami ini memanfaatkan uap berlebih atau excess steam dari panas bumi dalam proses pengeringannya melalui inisiatif Program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah.

Dengan mendayagunakan temperatur panas bumi bersuhu sekitar 60 hingga 70 derajat Celcius, durasi pengeringan bahan baku pupuk yang awalnya menuntut waktu selama 14 hari kini dapat dipangkas secara signifikan menjadi hanya berkisar 12 jam saja.

Sampai dengan tahun 2026, terobosan pertanian berkelanjutan ini sukses mendaur ulang sekitar 600 ton material limbah organik untuk memproduksi 300 ton pupuk alami GeO-Fert. Pupuk racikan tersebut sudah ditebarkan secara merata di area perkebunan seluas kurang lebih 15 hektare serta mendatangkan faedah nyata bagi sekitar 950 petani lokal.

Akan tetapi, untuk warga tani di Kamojang, indikator keberhasilan GeO-Fert bukanlah sekadar patokan volume tonase pupuk yang berhasil dibuat. Tolok ukur kesuksesan sejati justru terbukti nyata saat nutrisi pupuk tersebut menyatu kembali dengan tanah dan membuahkan hasil panen yang melimpah ruah.

Pencapaian riil tersebut dibuktikan secara langsung pada gelaran HAREPAN – Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert. Dari bidang perkebunan yang mengaplikasikan formula tersebut, para petani tercatat sukses memetik panen sekitar 15 ton komoditas kentang serta 40 ton sayur kol, sekaligus menghemat anggaran pengeluaran produksi pertanian hingga menembus angka sekitar Rp82 juta.

“Bagi kami, hal yang paling berharga bukan hanya kemahiran meracik pupuk secara mandiri, melainkan bagaimana pupuk ini terserap kembali ke tanah pertanian dan melipatgandakan panen. Dari material yang sebelumnya dipandang limbah tak berharga, sekarang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi aktivitas pertanian dan para petani,” tutur Hendro Gunawan, penggerak Local Hero dari KTH Cikondang.

Sinergi Energi Bersih Mendorong Kemandirian Pangan

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan bahwa peringatan momentum Hari Tani Nasional merupakan saat yang tepat guna mengapresiasi kontribusi petani seraya memacu terobosan baru demi memperkuat daya produksi dan kemandirian sektor tani.

“Petani memegang peranan krusial dalam memperkokoh kedaulatan pangan nasional. Melalui payung Desa Energi Berdikari, Pertamina senantiasa berikhtiar mendekatkan pemanfaatan energi bersih terbarukan bagi kebutuhan produktif warga. Di Kamojang, energi geotermal turut memfasilitasi petani mengolah limbah menjadi pupuk, memelihara tanah, hingga membuahkan panen pangan,” jelas Baron.

Dirinya menambahkan, rekam jejak program GeO-Fert memperlihatkan bahwa keberadaan energi terbarukan sanggup melahirkan efek positif yang jauh lebih luas apabila diintegrasikan secara langsung dengan keperluan nyata masyarakat desa.

Potensi geotermal yang mulanya lebih familier sebagai penggerak turbin listrik, di Kamojang juga diberdayakan guna menyokong penjemuran biji kopi hingga aneka kegiatan agrikultur. Sampah organik diproses menjadi pupuk, masa pengeringan diakselerasi, pupuk ditebar ke lahan pertanian, hingga berbuah hasil panen bernilai ekonomi.

Mekanisme terpadu tersebut membentuk suatu perputaran mata rantai yang memberi nilai tambah ekologis bagi kelestarian alam sekaligus mengangkat kesejahteraan para petani.

Gagasan berkelanjutan serupa gencar diperluas Pertamina melalui skema Program Desa Energi Berdikari pada berbagai penjuru Nusantara. Menjelang 2026, Pertamina telah mengelola sebanyak 269 inisiatif DEB, di mana 166 program di antaranya memfokuskan tujuannya pada penguatan ketahanan pangan.

Aktivitas DEB bidang ketahanan pangan tersebut sejauh ini telah menjangkau pembinaan lahan pertanian seluas 2.091 hektare dengan raihan volume panen mencapai angka 21.357 ton.

Lewat inisiatif DEB, Pertamina terus mendorong aplikasi energi hijau terbarukan yang dipadukan bersama teknologi tepat guna guna menggerakkan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan. Arahnya tak semata-mata menyuplai aliran energi, tetapi sekaligus membangkitkan nilai tambah produktif yang dampaknya dirasakan langsung oleh komunitas lokal.

Pada peringatan Hari Tani Nasional 2026, torehan inovasi GeO-Fert menjadi bukti nyata bahwa kemandirian pangan petani dapat bersemi dari optimalisasi potensi lokal sekitar. Berawal dari energi bersih terbarukan, terwujudlah pupuk penyubur. Dari pupuk penyubur, bersemi aneka tanaman pangan. Dan dari hasil panen yang melimpah, terbit asa bagi masa depan kehidupan petani yang kian makmur sejahtera.

banner 336x280