Nilai minyak mentah global tercatat sedikit merosot pada Selasa (27/10) menyusul terbukanya peluang rekonsiliasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berkat lawatan perwakilan empat negara ke Teheran. Prospek perdamaian kedua pihak sukses meredam kecemasan seputar ketersediaan suplai.
Kendati demikian, pergerakan harga komoditas ini tetap bertahan mendekati rekor tertingginya selama enam bulan terakhir. Hal tersebut dipicu oleh aksi gempuran milisi Houthi Yaman ke wilayah Arab Saudi yang kembali mengaburkan harapan stabilitas di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.
Minyak mentah acuan Brent tercatat terdepresiasi sebesar 66 sen atau 0,57 persen menuju posisi US$115,15 per barel. Pada saat bersamaan, patokan West Texas Intermediate (WTI) asal AS menyusut 44 sen atau 0,43 persen ke angka US$101,32 per barel.
Pada pekan sebelumnya, Brent sempat melesat melewati US$117 per barel, menyentuh titik tertinggi sejak April akibat rentetan agresi Iran terhadap kapal-kapal tanker di sekitar selat strategis. Kemarin, level harga Brent pun sempat menyamai ambang US$117 per barel.
Kemarin, delegasi Arab Saudi bersama Turki dan Pakistan mengadakan diskusi bersama pejabat tinggi Iran di Teheran. Dialog itu sengaja digelar demi menurunkan tensi panas yang menyelimuti kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa lawatan diplomatik tersebut memiliki misi merintis jalur perundingan guna menghalau kembalinya eskalasi konfrontasi militer.
Kantor berita resmi Iran mewartakan bahwa keempat negara mencapai kesepahaman untuk meneruskan dialog demi mempererat kemitraan di sektor keamanan dan perdamaian.
Munculnya asa penghentian konflik telah mengikis ketakutan atas potensi tersendatnya distribusi pasokan, sehingga mereduksi premi risiko sekaligus menekan laju harga minyak dunia.
Meski begitu, koreksi harga minyak berlangsung terbatas lantaran prospek damai masih rentan. Situasi rapuh ini dipicu gempuran anyar dari faksi Houthi ke Arab Saudi, salah satu produsen minyak terkemuka dunia.
Pada perkembangan lain, beberapa fasilitas pengolahan minyak Rusia dilaporkan menggenjot suplai solar sepanjang Oktober usai otoritas setempat merilis izin kuota ekspor.
Langkah kebijakan tersebut direalisasikan menyusul adanya komitmen pasokan antara Kremlin dan Amerika Serikat, sebagaimana diungkapkan oleh dua sumber industri yang memahami persoalan tersebut.







