Hambatan Operasi Udara Karhutla Kalbar, BNPB Beberkan Sejumlah Pemicu

Posted on

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghadapi sejumlah rintangan saat menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) guna mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada kawasan Kalimantan Barat.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton Panjaitan, menerangkan bahwa penanganan karhutla lewat jalur udara maupun penerapan OMC di Kalimantan Barat terpaksa belum dapat dijalankan lantaran pendeknya jarak pandang. Situasi minim visibilitas tersebut dipandang sangat membahayakan keselamatan armada pesawat yang melintasi area kebakaran.

“Jadi, memang di Kalimantan Barat ini kami tidak melakukan operasi udara mengingat visibility atau jarak pandang di sana sangat rendah, yakni di bawah seribu, maka kita juga tidak berani untuk mengoperasikan alutsista (alat utama sistem senjata) yang sudah ada di sana,” jelas Berton pada agenda konferensi pers, Selasa (22/9/2026).

Dirinya menerangkan lebih lanjut, bukan sekadar kendala jarak pandang saja yang mengadang, melainkan ketiadaan potensi awan di langit atmosfer membuat kegiatan modifikasi cuaca sukar berlangsung maksimal.

“Selain itu, bibit-bibit awan di atmosfer juga tidak ada, proses modifikasi serta jalur penerbangan,” tambah Berton dalam pemaparannya.

Berton juga menguraikan fakta terkait keberhasilan penanganan karhutla pada cakupan pulau Kalimantan yang angkanya tergolong lumayan besar.

“Berdasarkan data yang kami himpun per hari ini bahwasanya di Kalimantan di enam provinsi itu ada 1.212 hektare yang terbakar dan dapat dipadamkan itu sekitar 1.200 hektare. Baik melalui operasi darat maupun udara,” jelas Berton memaparkan data mutakhir.

Guna menuntaskan persoalan tersebut, pihak regulator telah menerjunkan sebanyak 14.759 personel tim satgas darat demi memadamkan sisa titik api seluas 11,74 hektare yang kini belum berhasil dijinakkan.

Tantangan Menjinakkan Api di Kawasan Gambut

Berton menambahkan, parameter cuaca dapat menjadi tantangan serius tatkala embusan angin bergerak kencang. Situasi alam ini memicu laju penjalaran lidah api bergerak kian pesat melahap vegetasi kering pada area sekitar.

“Jadi memang, karakteristik lahan gambut ini perlu penanganan yang ekstra. Sebab, jika kita lihat kondisinya di permukaan, api yang sudah padam itu, dari dasarnya belum tentu padam, sebab lahan gambutnya ini di bawahnya saja bisa mencapai 2-4 meter, sehingga Satgas Darat harus berusaha lebih untuk memadamkan apinya,” terang Berton merinci kondisi medan.

Menurut Berton, penuntasan titik bakar pada ekosistem gambut masih menjadi misi yang teramat pelik ditaklukkan. Pasalnya, jika tidak ditangani sampai ke akarnya, nyala api bisa bangkit kembali sewaktu-waktu.

“Jadi memang ada beberapa tahapan pemadaman yang perlu dilakukan dari mulai menyuntik air sampai ke dalam, lalu dibiarkan basah dulu, hingga dingin maka kemudian bisa mendapatkan hasil yang optimal,” pungkas Berton menyudahi penjelasan.

Simak terus informasi teranyar serta tepercaya pada kanal Berita Liputan6.

BNPB Gencarkan Operasi Water Bombing di Enam Provinsi

2 Helikopter Jepang Mulai Water Bombing Kebakaran Hutan Kalbar

Kebakaran Hutan Kalbar Meluas, Tembus 48 Ribu Hektare