Gali Potensi Raksasa Sumatra, Pertamina Genjot Eksplorasi Migas di Jambi Merang

Posted on
banner 336x280

Penguatan sarana infrastruktur beserta ekosistem di kawasan Sumatra kian mengokohkan sektor pengembangan minyak dan gas bumi.

JAKARTA — PT Pertamina (Persero) terus mengakselerasi aktivitas eksplorasi migas pada area Jambi Merang, Sumatra, menyusul besarnya cadangan yang tersimpan di wilayah tersebut. Titik konsentrasi utama tertuju pada prospek Padang Pancuran, kawasan yang menurut paparan Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menaruh potensi sumber daya melampaui angka satu miliar barel.

banner 468x60

Oki menegaskan bahwa Pertamina kini bergerak aktif mengupayakan percepatan komersialisasi dan pematangan potensi Padang Pancuran demi memperkuat agenda peningkatan produksi hulu energi nasional.

“Terus kemudian kalau kita lihat lagi di bawah di Sumatra salah satu discovery yang terbesar kita adalah di Padang Pancuran, itu di Jambi Merang. Itu kita sedang di sana juga, kita usahakan percepat, potensinya juga sangat besar, bisa lebih dari satu miliar barel hanya dari Padang Pancuran,” jelas Oki saat diwawancarai pada sela agenda pertemuan ASCOPE ke-51.

Oki menambahkan, lonjakan produksi migas menuntut intensitas penjelajahan baru serta akselerasi penggarapan ladang-ladang yang menyimpan kekayaan sumber daya jumbo. Di samping Sumatra, Pertamina juga menggerakkan agenda eksplorasi di beberapa teritori lain, mencakup daratan Jawa, perairan Laut Jawa, hingga kawasan timur nusantara.

Guna merealisasikan rencana tersebut, perseroan menggelontorkan sekitar 75 persen dari total belanja modal atau capital expenditure (capex) khusus bagi lini hulu migas. Porsi pendanaan besar ini selaras dengan instruksi pelipatgandaan produksi dan pemenuhan sasaran produksi satu juta barel harian milik Pertamina menjelang tahun 2030.

Bukan cuma wilayah Padang Pancuran pada Jambi Merang, perseroan pelat merah ini turut membina ekosistem penunjang untuk memaksimalkan potensi migas nonkonvensional di Blok Rokan, Sumatra. Penggarapan sektor nonkonvensional ini menuntut kehadiran inovasi teknologi mumpuni serta kolaborasi rantai pasok jasa perminyakan agar ongkos pengeboran sumur dapat terpangkas seefisien mungkin.

Sebagai perbandingan nyata, Oki menyinggung kisah keberhasilan wilayah Permian Basin di Texas, Amerika Serikat, yang didukung melimpahnya vendor dan mitra penyedia jasa teknis. Kematangan jaringan ekosistem semacam itu mampu menekan biaya per sumur, membuat proses pengangkatan hidrokarbon menjadi jauh lebih kompetitif secara komersial.

Selain itu, Pertamina membidik peluang cadangan gas bumi berskala masif di kawasan Indonesia bagian timur. Berdasarkan penuturan Oki, wilayah timur menyimpan cadangan gas melimpah yang siap diproduksikan guna menyuplai kebutuhan energi domestik sepanjang aspek kelayakan ekonominya terpenuhi.

“Di Indonesia Timur banyak sekali. Kita punya dua-duanya, kita punya minyak dan gas, tapi memang lebih besar gas,” tutur Oki.

Dalam kaitan memikat arus modal hulu, Oki menilai ketersediaan regulasi fiskal yang akomodatif menjadi kunci pokok agar portofolio hulu migas tanah air tetap menarik di mata para investor global. Langkah stimulasi ini krusial lantaran industri hulu menuntut permodalan berisiko tinggi sejak tahap pencarian seismik, pemboran, hingga rekayasa fasilitas produksi.

Percepatan program eksplorasi di kawasan Jambi Merang ini diharapkan mengoptimalkan kekayaan alam migas Indonesia secara nyata. Kendati demikian, seluruh besaran potensi tersebut wajib melewati rentetan kajian geologis komprehensif sebelum resmi dialirkan menjadi produksi komersial.

banner 336x280