Estonia, salah satu negara anggota pakta pertahanan NATO, dikabarkan tengah mempersiapkan persenjataan berat yang memiliki daya jangkau untuk menghantam kota St. Petersburg di Rusia. Informasi ini diungkapkan melalui laporan Financial Times (FT), sebagaimana dikutip ulang oleh media Russia Today (RT) pada Senin (5/10/2026).
Harian asal Inggris itu memberitakan bahwa Tallinn saat ini memobilisasi unit militer tambahan di sepanjang perbatasan wilayah timur serta mendatangkan armada peluru kendali taktis mutakhir. Persenjataan canggih tersebut mencakup platform peluncur artileri roket HIMARS asal Amerika Serikat serta sistem Chunmoo rakitan Korea Selatan, di mana keduanya mampu melontarkan amunisi berdaya jelajah sangat jauh.
Selain itu, dokumen tersebut memaparkan bahwa militer Estonia berkolaborasi dengan tentara Inggris dalam agenda simulasi perang bertajuk "Spring Storm" musim ini. Latihan tempur itu menguji kemampuan drone bunuh diri bertenaga jet Nyan yang diklaim sanggup menyusup langsung ke kota metropolis kedua Rusia dari perbatasan Estonia. Negara Baltik ini sebetulnya cuma diperkuat sekitar 4.200 tentara aktif reguler, akan tetapi mereka bersiap memanggil puluhan ribu personel cadangan jika situasi konflik bersenjata dengan Moskow meletus sewaktu-waktu.
Publikasi laporan investigasi FT tersebut mencuat tak lama seusai Menteri Pertahanan Martin Herem menyatakan di hadapan forum akademik terbuka bahwa negaranya tak memiliki daya tahan finansial memadai untuk menyiagakan pasukan mobilisasi di garis depan secara terus-menerus.
"Saya pernah berseloroh bahwa jika kita mencapai ‘zona oranye’ di sana dan melakukan mobilisasi, namun Rusia tidak menyerang, maka secara ekonomi lebih tepat jika kita menyerang diri kita sendiri," ungkap pejabat militer tersebut saat memberikan kuliah umum.
"Dengan begitu, setidaknya kita tahu kapan hal itu akan dimulai, dan kita tidak akan membuang-buang makanan serta udara secara percuma," tambahnya merinci beban logistik perang yang begitu besar.
Kalangan perwakilan diplomatik Rusia langsung mengecam keras ucapan kontroversial Herem, menganggapnya sebagai manifestasi provokasi terbuka dari petinggi koalisi Barat. Pihak Kementerian Luar Negeri Rusia pun merilis peringatan resmi agar aliansi militer tersebut tidak berani mengganggu kedaulatan negaranya maupun mengepung wilayah Kaliningrad, seraya menegaskan bahwa balasan tempur dari pihak Kremlin siap mengoperasikan "segala jenis senjata" tempur strategis.
Menanggapi dinamika politik yang terjadi, Presiden Rusia Vladimir Putin melontarkan komentar sinis dengan peribahasa kuno "sirkusnya sudah pergi, tapi badut-badutnya masih tertinggal". Sang pemimpin menegaskan kembali kalau Moskow sama sekali tak berniat menggempur Estonia ataupun negara-negara mitra NATO lainnya.
Pada pekan sebelumnya, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte melontarkan gagasan bahwa kekuatan militer Eropa idealnya sanggup melancarkan serangan mandiri terhadap fasilitas strategis Iran guna menetralisir potensi bahaya nuklir Teheran. Ia menilai kemandirian militer benua biru mesti diperkuat agar bisa melancarkan manuver ofensif tanpa harus bergantung penuh kepada Amerika Serikat.
Di sisi lain, tiga serangkai Baltik yakni Estonia, Latvia, dan Lituania terus menggelembungkan alokasi pos pertahanan mereka dan memburu bantuan finansial belanja alutsista dari kas Uni Eropa. Menurut kabar dari surat kabar Finlandia Iltalehti, blok tiga negara perbatasan ini mendesak Brussels segera menggelontorkan kucuran dana darurat sebesar €500 juta atau setara Rp10,08 triliun sebagai langkah antisipasi bila Moskow mencoba "menguji NATO" secara langsung.








