Mixue memperluas penetrasi pasarnya di Tanah Air dengan mengandalkan pola waralaba serta penguatan keterlibatan komunitas lokal.
JAKARTA — Mixue Indonesia kian mengukuhkan strategi pelebaran usahanya lewat pengembangan jaringan kemitraan waralaba sekaligus mengusung pemasaran berorientasi komunitas. Pola ini dieksekusi demi merangkul segmen pelanggan yang lebih beragam serta menopang keberlanjutan mitra usaha di tengah sengitnya kompetisi sektor makanan dan minuman nasional.
Wujud dari langkah promosi tersebut tercermin dalam agenda Matcha Booyah Series, yang merupakan kolaborasi strategis antara Mixue Indonesia dengan gim populer Free Fire di Gandaria City Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat (17/10/2025) hingga Sabtu (18/10/2025). Acara ini memadukan kejuaraan gim, pentas musik, parade cosplay, serta bermacam aktivitas seru bernuansa matcha guna menyasar audiens lintas komunitas.
Rangkaian kegiatan tersebut menyuguhkan kompetisi seru gim Free Fire, aksi panggung penyanyi Anggis Devaki bersama grup idola perempuan Lemon, serta sesi interaksi langsung dengan maskot Mixue, Snow King. Lewat aktivasi publik ini, Mixue berikhtiar memperkenalkan identitas produk kepada khalayak yang kian luas melalui kegiatan di luar toko fisik.
Langkah pemasaran berbasis pengalaman langsung ini menjadi formula utama Mixue dalam menjalin hubungan emosional dengan para pelanggan. Korporasi tidak semata-mata bertumpu pada transaksi langsung di gerai, melainkan terus berupaya hadir melebur dalam beragam agenda yang menjadi hobi masyarakat luas.
Kendati terus aktif memperluas penetrasi pasar, akselerasi gerai melalui skema kemitraan tetap menjadi fondasi paling krusial bagi peta bisnis Mixue di Indonesia. Kebijakan ini ditempuh guna menjamin kelangsungan ekspansi secara berkesinambungan di berbagai penjuru wilayah.
Kini Mixue Indonesia tercatat telah menaungi lebih dari 2.400 gerai di Tanah Air. Pada tingkat global, MIXUE Group secara keseluruhan mengoperasikan sebanyak 63.987 gerai yang tersebar di 17 negara hingga 30 Juni 2026.
Pola waralaba memberi ruang bagi Mixue guna melipatgandakan jangkauan usaha lewat pelibatan pelaku usaha lokal dalam manajemen gerai. Namun demikian, kesinambungan sistem ini sangat bergantung pada konsistensi kualitas sajian, efisiensi operasional harian, serta bimbingan menyeluruh dari pihak korporasi kepada mitra.
Perjalanan para mitra Mixue di Indonesia menyajikan gambaran nyata mengenai ragam pilar penting penopang operasional usaha tersebut. Sejumlah pelaku usaha menilai pendampingan intensif dari manajemen pusat sangat krusial dalam menyokong kelancaran gerai mereka.
Anggi, mitra yang tercatat sudah bergabung selama empat tahun, saat ini mengoperasikan delapan gerai dan bersiap membuka tiga gerai baru. Ia menuturkan bahwa tingginya animo konsumen, jaminan pasokan bahan, ketanggapan supervisor, serta sokongan materi promosi menjadi elemen penting yang memudahkan pengelolaan usahanya.
Pada kesempatan lain, Evi, mitra yang juga telah bekerja sama selama empat tahun, menyoroti kekuatan nama merek, sistem tata kelola, pembaruan produk, serta kesigapan tim pusat sebagai pendorong utama kemajuan bisnisnya. Rentetan pengalaman positif ini mendorongnya memantapkan kemitraan sembari terus menambah kepemilikan gerai.
Kisah kedua mitra tersebut menegaskan bahwa popularitas jenama wajib diimbangi sistem kerja yang kokoh. Dalam ekosistem waralaba, kelancaran distribusi bahan, mutu sajian yang terjaga, serta bimbingan prinsipal merupakan instrumen pokok dalam memelihara standar layanan di seluruh outlet.
Mengacu pada Laporan Keuangan Interim 2026, Mixue senantiasa menyalurkan pembinaan komprehensif bagi mitra, mencakup pemilihan titik lokasi, pelatihan staf, hingga pengelolaan gerai. Perusahaan pun mengoptimalkan rantai pasok terpadu guna mendongkrak efisiensi kerja sekaligus memperkuat daya saing para mitra di pasar.







