Jakarta – Laju perekonomian Vietnam menembus kisaran hampir 10% sepanjang kuartal ketiga 2026. Produk domestik bruto (PDB) di negara kawasan Asia Tenggara ini terangkat 9,95% secara tahunan (YoY), menorehkan rekor ekspansi triwulanan tertinggi semenjak krisis pandemi Covid-19 berakhir.
Berdasarkan rilis resmi otoritas pemerintah Vietnam pada Sabtu (3/10/2026), pencapaian tersebut menunjukkan akselerasi tajam bila dibandingkan dengan performa kuartal kedua yang direvisi ke angka 8,81%.
Kinerja ekspansif pada rentang Juli hingga September tersebut utamanya ditopang performa ekspor yang perkasa serta lonjakan kucuran dana pembangunan infrastruktur. Walau melesat tinggi, capaian ini rupanya belum sanggup menggapai ambisi pemerintah yang mematok target pertumbuhan tahunan di level atas 10%.
Negara yang mengandalkan jalur perdagangan internasional tersebut mesti berhadapan dengan beban lonjakan biaya impor sepanjang tahun berjalan. Perang di wilayah Iran menjadi pemicu utama yang mengerek kenaikan harga komoditas energi dunia.
Situasi tersebut kian menekan neraca dagang Vietnam hingga jurang defisit kian lebar. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026, neraca perdagangan membukukan catatan defisit paling dalam sepanjang sejarah.
Berdasarkan publikasi Kantor Statistik Nasional Vietnam (NSO), pengapalan barang ekspor pada September melejit 39,1% YoY sampai menyentuh US$59,48 miliar. Akan tetapi, arus barang impor melompat lebih deras sebesar 45,8% bernilai US$58,21 miliar.
Melalui hasil perdagangan tersebut, Vietnam masih sanggup menorehkan surplus bulanan senilai US$1,27 miliar per September.
Secara agregat terhitung Januari sampai September, total nilai ekspor terkerek naik 24,5% mengumpulkan US$434,30 miliar. Pada sisi sebaliknya, nilai barang impor melonjak kencang 36,7% hingga mencapai US$453,72 miliar.
Konsekuensinya, neraca dagang Vietnam terperosok ke zona defisit sebesar US$19,42 miliar sepanjang sembilan bulan awal 2026. Angka minus perdagangan ini menjadi rekor terburuk yang pernah tercatat.
Tingginya harga energi di pasar global menjadi faktor signifikan yang memperburuk kondisi pembukuan dagang. Data NSO memperlihatkan volume impor minyak mentah sesungguhnya merosot 13,5% selama kurun waktu itu. Namun, dari segi nilai transaksi, tagihan minyak mentah justru bertambah 14,4%.
Di samping itu, kuantitas impor bahan bakar olahan bertambah 11,5%, sementara nilai anggarannya terbang drastis mencapai 79,3%.
Pada aspek stabilitas harga, tingkat inflasi konsumen Vietnam pada September menyentuh level 5,08% secara tahunan. Sementara itu, output manufaktur dan industri memperlihatkan geliat tangguh dengan bertumbuh 16,7% YoY.
Aktivitas permodalan turut menjadi pilar pengungkit laju perekonomian nasional. Realisasi total investasi dalam kurun sembilan bulan pertama terkerek 16,7% dibanding rentang waktu yang sama setahun silam.
Langkah percepatan belanja anggaran publik memang tengah dipacu oleh otoritas Vietnam demi menggenjot proyek infrastruktur strategis guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi domestik.
Suntikan penanaman modal asing (FDI) juga memperlihatkan tren positif. Arus dana masuk investasi asing periode Januari-September terkerek 12,1% YoY hingga menembus angka US$21,1 miliar.
Kondisi ekonomi Vietnam ke depan diproyeksikan masih cukup solid. Pekan lalu, Asian Development Bank (ADB) merevisi naik ramalan ekspansi ekonomi tahunan Vietnam menjadi 7,8%, lebih tinggi dari kalkulasi awal 7,2%.
ADB memaparkan daya tahan jangka pendek ekonomi Vietnam disokong oleh kesinambungan geliat industri manufaktur, konsumsi masyarakat yang konsisten bergairah, serta aliran modal asing yang terus membanjiri pasar lokal.
Meski begitu, institusi regional tersebut mengingatkan timbulnya kerentanan pada jangka yang lebih panjang.
"Permintaan global yang lebih lemah dan meningkatnya ketidakpastian eksternal dapat membebani pertumbuhan, sementara harga energi yang lebih tinggi dan kondisi keuangan global yang lebih ketat dapat menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar," kata ADB, dikutip Reuters.
Laura Schwartz, analis senior Asia pada biro intelijen risiko Verisk Maplecroft, berpendapat mulai merebak kekhawatiran mengenai risiko overheating, mengingat laju inflasi turut merangkak naik dalam beberapa periode terakhir.
"Potensi kekurangan pasokan listrik dalam jangka pendek dan menengah juga akan menjadi tantangan yang signifikan," tambahnya.








