PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengalokasikan kredit mendekati angka Rp350 triliun bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sepanjang tahun 2026. Dana tersebut secara khusus disalurkan untuk memperkuat ekosistem pangan nasional, terutama bidang peternakan serta perikanan demi menyokong pencapaian swasembada protein.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menerangkan bahwa penyaluran dana ke bidang pangan wajib menyentuh rantai pasok secara komprehensif, mulai lini produksi di area hulu, pemrosesan industri pengolahan, hingga jaringan logistik, distribusi, serta aktivitas jual beli.
"Di BRI sendiri tahun ini hampir 350 triliun khusus untuk UMKM," ujar Akhmad saat berbicara di ajang CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 pada Senin (19/10).
Akhmad menguraikan bahwa setiap mata rantai usaha mempunyai variasi kebutuhan modal yang berlainan. Pelaku usaha di sektor hulu sangat memerlukan modal guna membeli bibit berkualitas, persediaan pakan, serta perluasan kapasitas produksi. Di sisi lain, sektor manufaktur pengolahan lebih memerlukan permodalan untuk belanja barang modal investasi, pembiayaan kemasan produk, dan kelancaran modal kerja harian.
Sementara pada sektor hilir, sokongan modal sangat krusial bagi distributor maupun pedagang perantara, utamanya pemenuhan kebutuhan likuiditas untuk menjaga ketersediaan pasokan barang dagangan.
Lebih lanjut, Akhmad mengungkapkan bahwa BRI telah mencairkan portofolio pinjaman sekitar Rp1.600 triliun terhitung sejak tahun 2015. Dari keseluruhan total pendanaan itu, sebesar 75 persen terserap oleh pelaku UMKM, dengan porsi 44 persen berfokus pada ranah pertanian dan perikanan yang menopang ketahanan protein bangsa.
Dirinya menekankan bahwa pengucuran modal membutuhkan rancangan rantai ekosistem bisnis yang solid, terkhusus integrasi harmonis antara perusahaan induk atau anchor, pabrik pengolahan, serta para pelaku UMKM. Kolaborasi terpadu ini menjadi syarat esensial agar pihak lembaga perbankan dapat mengukur kelayakan komersial serta menjalankan tahapan analisa pembiayaan.
"Ekosistemnya memang harus dipastikan antara anchor, kemudian industri dan pelaku UMKM ini harus sama-sama diskenariokan sehingga bank bisa menerima proses underwriting," tutur Akhmad.
Akhmad menggarisbawahi bahwa institusi perbankan mengemban misi ganda, yakni target keuntungan ekonomi sekaligus komitmen sosial. Selain menjaga kesinambungan performa finansial, bank juga bertanggung jawab memfasilitasi pendampingan serta pemberdayaan para pelaku UMKM secara berkelanjutan.
Oleh sebab itu, bank sesungguhnya dapat menyalurkan kredit semenjak fase permulaan rintisan usaha, asalkan seluruh kalkulasi risiko dan rincian kebutuhan permodalan telah terpetakan secara jelas.
"Dari awal kita sudah bisa masuk. Tetapi memang diskusinya dari hulu ke hilir, perbankan akan konsen di sana," tegas Akhmad.
Guna mengoptimalkan penyaluran kredit di lapangan, BRI mengandalkan armada pemasar sekitar 30 ribu personel yang memiliki kapabilitas khusus di bidang peternakan, perikanan, agribisnis pertanian, serta perdagangan.
CNN Indonesia menggelar perhelatan Agrifood Forum 2026 yang mengusung tema "Swasembada Protein & Peluang Pangan Global" pada Senin (19/10) bertempat di Menara Bank Mega, wilayah Jakarta Selatan.
Pertemuan strategis ini mengumpulkan jajaran menteri kabinet, pejabat birokrasi, serta pemimpin BUMN guna membedah percepatan swasembada protein, stabilitas pangan, dan peningkatan daya saing komoditas lokal di panggung global.
Rangkaian agenda dibagi ke dalam tiga sesi pokok, diawali diskusi "Protein untuk Indonesia", pidato kunci beserta forum bersama Menko Pangan Zulkifli Hasan, dan ditutup seminar "Dari Swasembada ke Daya Saing Pangan".
Melalui penyelenggaraan Agrifood Forum 2026, CNN Indonesia menyajikan wadah pertukaran gagasan multisektoral untuk merumuskan kemandirian pangan dalam negeri serta memperkuat taji komoditas pangan nasional di kancah internasional.
