Pemanfaatan lahan perkotaan secara maksimal memberikan peluang besar untuk memperluas ketersediaan tempat tinggal yang ramah di kantong.
Pembaruan area pemukiman lama di jantung kota menghadirkan kesempatan emas untuk mendongkrak pasokan hunian bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tanpa kewajiban membebaskan lahan anyar. Pemanfaatan kembali kawasan yang telah terintegrasi dengan denyut perekonomian serta jaringan transportasi umum menjadi strategi efektif dalam melipatgandakan daya tampung perumahan di tengah kota metropolitan.
Perum Perumnas saat ini tengah menjejaki pembaruan menyeluruh Rumah Susun Kebon Kacang yang berlokasi di Jakarta Pusat lewat kemitraan bersama PT Informasi Geo Sistem (IGS). Kompleks perumahan yang sekarang memuat delapan blok bangunan rendah berisi 632 unit dan dihuni oleh kurang lebih 2.400 jiwa tersebut memiliki potensi besar untuk disulap menjadi kawasan baru yang menampung lebih dari 2.700 unit hunian khusus warga MBR.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perum Perumnas, Imelda Alini Pohan, menerangkan bahwa langkah memaksimalkan lahan di titik-titik strategis memungkinkan realisasi pembangunan rumah tapak maupun vertikal dengan mendayagunakan fasilitas infrastruktur serta aksesibilitas yang telah terbangun kokoh. Pola kerja sama seperti ini dinilai dapat memperbesar daya serap penyediaan perumahan di tengah minimnya ketersediaan bidang tanah di perkotaan.
“Melalui rencana revitalisasi, kawasan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi lebih dari 2.700 unit hunian yang diperuntukkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR),” tutur Imelda lewat keterangan resminya yang dirilis di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Pada agenda penjajakan awal ini, pihak IGS mengambil peran sebagai jembatan penghubung yang memfasilitasi dialog konstruktif bersama investor mancanegara, yakni Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) serta KORINDO Group. Manajemen Perumnas menaruh harapan besar agar keterlibatan entitas berskala global ini sanggup membuka pintu pendanaan segar demi memajukan aset properti dan kawasan permukiman milik perseroan.
“Kami berharap keterlibatan KIND dan KORINDO Group dapat membuka perspektif dan peluang baru dalam pengembangan aset Perumnas, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama internasional Perumnas di bidang pembangunan infrastruktur dan kawasan perumahan,” jelas Imelda memaparkan.
Lebih jauh Imelda menambahkan, rencana penataan kembali Rusun Kebon Kacang turut memperhitungkan letak geografis kawasan yang menempel langsung dengan berbagai pusat aktivitas bisnis komersial serta moda transportasi massal. Dukungan infrastruktur penghubung yang lengkap tersebut dipastikan bakal menopang kemudahan mobilitas harian para penghuni rusun.
“Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan aset, meningkatkan kapasitas penyediaan hunian rakyat, serta mendukung terciptanya kawasan hunian yang berkelanjutan,” imbuh Imelda dengan optimistis.
Pihak BUMN perumahan ini menyelaraskan program revitalisasi tersebut dengan visi besar pemerintah dalam merealisasikan target tiga juta unit hunian terjangkau dan bermartabat untuk kelompok MBR. Imelda menguraikan bahwa sebanyak 14 titik lokasi proyek yang digarap oleh Perumnas telah masuk ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagaimana diatur lewat Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2026.
Dalam pandangannya, upaya mendesain ulang kawasan perkotaan harus tetap memperhitungkan keseimbangan antara kewajiban sosial memfasilitasi rumah rakyat sekaligus memastikan keberlangsungan kinerja bisnis korporasi. Alokasi kuota unit untuk kalangan MBR senantiasa menjadi poros utama dalam rencana pengelolaan portofolio aset milik Perumnas.
“Langkah ini komitmen Perumnas menjaga keseimbangan antara mandat pelayanan publik dan keberlanjutan bisnis, dengan tetap menempatkan penyediaan hunian bagi MBR sebagai bagian penting dalam setiap pengembangan kawasan,” tegas Imelda.
Apabila proyek renovasi total ini berhasil dieksekusi, kapasitas hunian di Rusun Kebon Kacang bakal melonjak signifikan hingga melampaui empat kali lipat dari daya tampung yang ada saat ini. Transformasi lingkungan kota yang sudah ditopang kemudahan moda transportasi dan sentra ekonomi menjadi jawaban nyata dalam menambah suplai hunian terjangkau bagi MBR di tengah kian sempitnya ruang tanah di Jakarta.


