Jakarta, CNBC Indonesia – Upaya mempercepat distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) terus digencarkan oleh PT Pertamina (Persero) untuk Pulau Bali dan berbagai wilayah di Tanah Air lewat penambahan pasokan, kesiapan armada, pengoptimalan sarana infrastruktur pengantaran, hingga komunikasi intensif dengan ragam pemangku kepentingan. Upaya terpadu ini sukses mengalirkan pasokan minyak secara berkesinambungan menuju SPBU sekaligus mengurai antrean kendaraan masyarakat yang sebelumnya memadat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengutarakan kepastian bahwa situasi ketersediaan BBM di wilayah Bali kini sudah mengalami pemulihan yang nyata di lapangan.
"Alhamdulillah, puji Tuhan, untuk di Bali sudah bisa teratasi. Tadi saya minta Pertamina untuk menaikkan status yang tadinya 11 hari menjadi 15 hari, dan sore ini sudah tercapai. Jadi stok kita di Bali aman 15 hari," kata Bahlil lewat pernyataan resmi tertulisnya, Selasa (20/10/2026).
Demi mempercepat pemulihan, Pertamina menambah armada kapal pengangkut pasokan bahan bakar dari Pulau Jawa ke Bali dari semula tiga armada menjadi tujuh kapal laut. Kebijakan ini ditopang pengoptimalan kinerja Fuel Terminal Manggis dan Fuel Terminal Sanggaran guna memperkokoh sistem penerimaan, penampungan, hingga skema penyaluran BBM ke seluruh Pulau Dewata.
Untuk menjaga kestabilan aliran energi, manajemen Pertamina turut memberlakukan modifikasi skema distribusi, termasuk memanfaatkan jalur darat sebagai alternatif. Bahlil kembali menegaskan ketahanan cadangan bahan bakar minyak nasional tetap berada dalam posisi solid. Persediaan BBM jenis Pertalite bertahan stabil pada rentang 16 sampai 18 hari, sedangkan varian BBM lainnya berada jauh di atas 20 hari.
"Secara cadangan nasional tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Sekarang distribusinya yang kita perlancar," ungkap Bahlil.
Aksi penguatan logistik ini mencerminkan langkah konsisten Pertamina dalam menjaga keterjangkauan pasokan bahan bakar bagi masyarakat sembari menjaga stabilitas pergerakan ekonomi nasional.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menggarisbawahi bahwa kepastian kelancaran rantai pasok energi menjadi fokus utama perusahaan, khususnya untuk memperkuat pergerakan mobilitas harian warga serta denyut roda ekonomi lokal.
"Kami meyakini bahwa energi adalah denyut nadi dari perekonomian, khususnya di Pulau Bali, untuk membantu sektor pariwisata, UMKM, termasuk aktivitas ekonomi lainnya. Pertamina berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan penyaluran dan distribusi energi serta memastikan seluruh wilayah dapat dilayani dengan baik," terang Simon.
Simon melanjutkan, Pertamina tiada henti membenahi dan meninjau tiap rantai logistik energi, mencakup aspek pengadaan komoditas, moda transportasi, sarana pergudangan, hingga pendistribusian langsung BBM kepada konsumen umum demi menjamin ketahanan energi nasional tetap terlindungi.
Gubernur Bali I Wayan Koster memberikan apresiasi tinggi terhadap reaksi tanggap Pertamina dan kerja sama kementerian, pemerintah daerah, TNI, kepolisian, dan masyarakat dalam mengakselerasi kelancaran distribusi BBM di Bali.
"Sejak Sabtu dan Minggu, suplai ke SPBU secara umum berjalan lancar dan antrean sudah tidak banyak lagi," tutur Koster.
Koster memaparkan bahwa penerapan beberapa kebijakan, seperti kerja dari rumah (WFH), belajar daring, serta pembelian BBM berbasis pelat ganjil-genap terbukti efektif menertibkan situasi layanan di SPBU. Regulasi ganjil-genap diputuskan diperpanjang sampai 23 Oktober 2026 mendatang dan dapat ditinjau kembali sewaktu-waktu.
"Kami di daerah akan membantu pelaksanaan tugas Pertamina di lapangan," pungkas Koster.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyatakan strategi penguatan pasokan kargo bahan bakar terus didorong, termasuk melalui penerimaan muatan kapal kargo Pertamax serta menyusun jadwal pengiriman cadangan baru.
"Tidak hanya pasokan di SPBU, pasokan untuk Pertamax di Pertashop pun akan kita maksimalkan," papar Mars Ega.
Di luar Bali, Pertamina terus menjaga kelancaran alur pasokan energi di berbagai pelosok Indonesia dengan menyesuaikan pola pengangkutan terhadap tantangan geografis. Pada sejumlah kawasan di Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera, peristiwa pendangkalan rute sungai akibat faktor iklim kerap menghambat jalur perlintasan kapal tanker BBM tonase besar.
Simon juga menyampaikan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Provinsi Bali, Forkopimda, Kodam Udayana, Polda Bali, beserta seluruh pemangku kepentingan yang membantu menuntaskan kendala distribusi, menertibkan antrean, dan mengamankan pengiriman pasokan.
"Pertamina juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang sempat dialami masyarakat selama proses pemulihan layanan," tutur Simon.
"Terima kasih atas dukungan dan pengertian seluruh masyarakat Bali. Kami terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar pelayanan energi kepada masyarakat semakin baik," sambungnya.
Simon menegaskan komitmen Pertamina memonitor konsumsi bahan bakar di setiap wilayah nusantara sembari memaksimalkan fasilitas armada distribusi dan memperkokoh kemitraan bersama pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional.







