Kondisi udara di wilayah Palembang masih bertahan pada level berbahaya akibat pekatnya kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Sumatera Selatan.
Pemandangan kabut tebal karhutla mengepung Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, pada Kamis (15/10/2026). Masyarakat setempat tetap menjalankan kegiatan harian meski daya pandang sangat terbatas.
Melansir laporan Reuters, kualitas udara Palembang tergolong berbahaya dampak dari karhutla di Sumsel. Catatan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) bahkan menembus rekor puncak selama bencana berlangsung, yakni berada di angka 1134,5 µg/m³.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menerangkan bahwa kadar PM2.5 melonjak tajam hingga menyentuh nilai maksimal menjelang dini hari, menjadi rekor paling tinggi selama peristiwa karhutla. "Sejak Kamis dini hari PM2.5 memang mencapai angka lebih dari 1000 µg/m³ dengan level berbahaya," ucapnya. Tingkat PM2.5 sempat mereda pada 03.00 WIB di posisi 905,7 µg/m³. Namun, angka ini naik kembali ke 1039,3 µg/m³ pada 04.00 WIB, lalu turun lagi ke kisaran 957,73 µg/m³ pukul 05.00 WIB.
Wandayantolis turut memaparkan bahwa kepekatan kabut asap memangkas jarak pandang hingga berada di bawah 100 meter. "Jarak pandang menurun hingga kurang dari 100 meter. Penurunan jarak pandang dipengaruhi oleh adanya kabut, sehingga udara makin terlihat kabur," tuturnya.
"Pagi ini paling parah," keluh seorang warga bernama Rahma kepada CNBC Indonesia. "Jarak pandang makin pendek, ampera sudah tak kelihatan," jelasnya seraya menambahkan bahwa memantau pergerakan orang di berbagai titik kota, termasuk kawasan Jakabaring, terasa sangat sulit.
