Dirut KAI Buka Suara Terkait Keluhan AC KRL Jabodetabek yang Terasa Panas

Posted on
banner 336x280

Pimpinan tertinggi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, akhirnya memberikan penjelasan komprehensif terkait keluhan para pengguna Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) yang kerap mengeluhkan suhu gerbong yang gerah.

Kondisi tersebut terjadi lantaran kapasitas mesin pendingin ruangan (AC) pada armada KRL keluaran anyar milik perseroan tercatat jauh lebih besar apabila disandingkan dengan sejumlah rangkaian KRL bekas asal Jepang yang sampai saat ini masih beroperasi melayani mobilitas masyarakat.

banner 468x60

Bobby menjelaskan secara rinci bahwa tenaga pendingin pada gerbong eks Jepang hanya berkisar 4.200 kilokalori per jam. Di sisi lain, rangkaian kereta generasi terbaru, termasuk yang diproduksi oleh industri dalam negeri PT INKA, dibekali daya sekitar 6.000 kilokalori per jam.

"Kalau kereta-kereta baru kayak China, kemudian INKA itu kan 6.000-an, 6.000 lebih. Nanti begitu kita remajakan kereta-kereta Jepang ini, semuanya itu kan akan 6.000-an. Kalau 6.000 udah enggak gerah lagi," tutur Bobby saat ditemui di kawasan Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, pada hari Rabu (23/9).

Perlu diketahui bahwa armada eks Jepang yang disinggung tersebut merupakan sarana KRL bekas pakai yang didatangkan langsung dari Negeri Sakura demi memperkuat kelancaran operasional harian Commuter Line di wilayah Jabodetabek.

Gerbong-gerbong lawas tersebut, di antaranya armada seri JR 205 maupun Tokyo Metro, pada mulanya memang didesain secara khusus untuk memenuhi kebutuhan kawasan beriklim subtropis dengan pola empat musim.

Dampaknya, kemampuan pendingin bawaan pabrikan yang terbatas di angka 4.200 kilokalori per jam tersebut sering kali kewalahan menghadapi sengatan suhu tropis Indonesia, terlebih saat gerbong dipadati penumpang pada waktu sibuk, sehingga memicu gelombang keluhan gerah dari masyarakat pengguna moda ini.

Bobby menegaskan bahwa program peningkatan kapasitas pendingin ruangan tersebut bakal terus diwujudkan bersamaan dengan bergulirnya proses modernisasi serta peremajaan unit KRL asal Jepang secara bertahap.

Keterbatasan Sarana dan Prasarana

Kendati demikian, masalah sesaknya penumpang di jaringan KRL Jabodetabek menurut Bobby bukan sekadar dipicu oleh kondisi fisik sarana kereta semata, melainkan juga akibat kendala infrastruktur pendukung yang belum maksimal.

Saat ini jaringan KRL Jabodetabek mengangkut kisaran rata-rata 1,1 juta orang setiap harinya lewat 1.065 jadwal keberangkatan kereta. Pada periode sibuk pagi dan petang, kepadatan di dalam kereta bisa mencapai delapan orang per meter persegi.

"Seperti yang saya gambarkan tadi, kurangnya itu tidak hanya di sarananya, tidak hanya keretanya, kurang itu juga ada di infrastrukturnya. Infrastruktur ini, dalam dua tahun tiga tahun ke depan, inilah yang kita benahi dan kita tingkatkan kapasitasnya," papar Bobby.

Bobby mengungkapkan volume pengguna KRL tercatat naik hingga 11,3 persen sepanjang semester I 2026 jika dikomparasikan terhadap catatan periode serupa tahun terdahulu. Rata-rata mobilitas harian yang awalnya belum menembus 1 juta jiwa kini telah menyentuh angka 1,1 juta orang.

Taraf kepadatan gerbong juga memperlihatkan angka yang berbeda di tiap koridor. Bobby merinci tingkat keterisian penumpang di lintasan Rangkasbitung telah melampaui 160 persen, sedangkan koridor Bekasi tercatat 120 persen serta lintas Bogor berada di kisaran 130 persen.

"Kalau standarnya itu kita tadi 1:6, kalau si Bogor dan Bekasi itu masih 1:7. Nah, sementara kalau yang Rangkasbitung ini, itu 1:12," ungkapnya secara rinci.

Berdasarkan pemaparan Bobby, lonjakan penumpang di koridor Rangkasbitung di antaranya disebabkan oleh selang kedatangan antar-rangkaian (headway) yang tergolong panjang sekitar 10 sampai 15 menit. KAI tengah menyiapkan pembaruan sistem persinyalan modern supaya waktu tunggu dapat dipangkas menjadi 4 sampai 5 menit saja.

KAI juga menyiapkan agenda pembangunan lima gardu traksi baru dan menaikkan daya sembilan gardu lainnya di koridor Rangkasbitung. Berkat pembenahan sistem pasokan daya tersebut, seluruh rute ditargetkan mampu melayani armada 12 kereta (SF12) mulai paruh pertama 2027.

Bagi rute Bogor, KAI berencana membuka tambahan 22 kuota rute menuju Bogor dengan memotong terminus Nambo Line di Stasiun Citayam. Di sisi lain, proyek jaringan kabel listrik aliran atas lintas Bekasi bakal diperpanjang dari Cikarang mengarah Cikampek serta jalur Bogor menuju Cigombong.

Rangkaian proyek ekspansi kapasitas operasional tersebut menjadi bagian rencana strategis KAI guna memperbesar volume muat KRL Jabodetabek sampai 2 juta pengguna per hari. Sekarang rata-rata angkutan berkisar 1,1 juta harian dengan volume tertinggi 1,3 juta orang.

Bobby menjelaskan manajemen KAI bertekad seluruh pembenahan fasilitas prasarana ini dapat mengurai fenomena penumpukan penumpang KRL dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.

"Prasarana quick win-nya itu adalah tahun 2026 adalah untuk jalur Green Line yang Rangkasbitung, itu kita mulai memasang atau menyisipkan lima gardu traksi di tahun ini dan upgrading di sembilan gardu lainnya, sehingga nanti di semester I 2027 jalur Green Line ini itu akan bisa dilewati oleh SF12 semua," jelas Bobby.

Di luar urusan pasokan listrik dan perangkat sinyal, manajemen KAI akan memperkuat aspek keselamatan operasional mengandalkan penerapan sistem canggih Automatic Train Protection (ATP).

Hingga kini mekanisme penjagaan perjalanan kereta masih sangat bertumpu pada lembar grafik perjalanan kereta api, peralatan sinyal, serta keahlian masinis di ruang kemudi sebagai benteng pengamanan terakhir.

Saat disinggung apakah fenomena kepadatan ekstrem diharapkan tuntas sebelum 2028, Bobby optimis KAI akan mengerahkan upaya terbaik guna mewujudkan target tersebut.

"Iya, insyaallah. Karena bagi kami bahwa keberadaan KAI ini adalah pelayan dari angkutan publik, maka kami harus jamin," pungkas Bobby mantap.

banner 336x280