Data Center Butuh Air dan Listrik Raksasa, Wamen ESDM Beberkan Strategi Khusus

Posted on
banner 336x280

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan respons resmi mengenai keresahan publik terkait kegiatan operasional pusat data atau data center yang dikhawatirkan dapat memicu krisis pasokan air bersih bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional fasilitas tersebut.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menerangkan bahwasanya seluruh kebijakan pembangunan proyek fasilitas pusat data di tanah air bakal diselaraskan secara ketat dengan pemetaan kapasitas pasokan setrum nasional serta kemampuan daya dukung ketersediaan cadangan air pada kawasan setempat.

banner 468x60

Yuliot menguraikan bahwa kompleks bangunan data center pada dasarnya memerlukan dua pasokan kebutuhan utama dengan volume yang amat masif, yakni daya listrik berkapasitas raksasa serta limpahan sumber air yang benar-benar mencukupi. Berangkat dari faktor mendasar ini, penentuan titik lokasi maupun penerbitan izin pendirian fasilitas teknologi tersebut sama sekali tidak boleh mengabaikan kesiapan dua infrastruktur vital tersebut.

"Data center itu kan membutuhkan dua, itu listrik besar itu dan juga ketersediaan air. Jadi ya kita juga melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan itu potensi listrik dan ketersediaan air," kata Yuliot sewaktu ditemui langsung di area Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada hari Jumat (2/10/2026).

Selain pemenuhan suplai air yang berkelanjutan, jaminan ketersediaan serta tingkat keandalan arus setrum dinilai menjadi pilar penentu yang krusial untuk menjaga kelangsungan operasional data center dari waktu ke waktu.

Sementara itu, Yuliot pun turut menanggapi potensi pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai jalan alternatif penyediaan tenaga bersih guna memikul beban konsumsi setrum data center yang amat besar. Sang Wakil Menteri tampak tidak menepis hadirnya kemungkinan pemanfaatan opsi tersebut. "Mungkin," tutur Yuliot secara singkat ketika dimintai tanggapan perihal peluang PLTN menjadi salah satu alternatif energi bagi industri data center.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah mengundang kalangan penanam modal internasional maupun domestik agar aktif mendirikan pusat data di Indonesia. Berdasarkan penuturan Bahlil, Nusantara menyimpan kekayaan cadangan pasokan energi yang luar biasa melimpah untuk menopang kebutuhan setrum ekosistem digital tersebut.

Salah satu simpanan energi terbarukan paling masif bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan Sungai Mamberamo, Papua, yang memiliki potensi hingga menembus angka sekitar 23 gigawatt (GW). Di samping itu, wilayah aliran Sungai Kayan yang berlokasi di Kalimantan menyimpan estimasi tenaga hidro mencapai 12 GW.

Bahlil mengungkapkan fakta bahwa ketahanan suplai energi di sejumlah negara tetangga maupun global belakangan ini telah berada dalam situasi tertekan, terlebih seiring melonjaknya permintaan energi baru terbarukan (EBT) demi memfasilitasi ekspansi industri komputasi digital. Kondisi global ini dinilai sebagai sebuah momentum emas bagi Indonesia guna menyodorkan ragam pasokan energi hijau yang sangat berlimpah ruah.

"Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, para investor tidak perlu ragu kalau mau membangun data center di Indonesia," terang Bahlil saat menghadiri agenda Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, dikutip Kamis (24/9/2026).

Demi menunjang arus penanaman modal ini, wilayah Indonesia memiliki bentang kepulauan yang mencakup lebih dari 17.000 pulau disertai kekayaan variasi sumber daya alam, mulai dari matahari, hidro, panas bumi, hingga hembusan tenaga angin.

"Ada yang mau membangun di Kalimantan, ada yang di Sumatra. Kalau ada yang butuh tenaga air, PLTA di Papua, di Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali," papar Bahlil.

Menurut pandangan Bahlil, kepastian akses terhadap energi ramah lingkungan saat ini telah beralih menjadi tolok ukur penentu fundamental bagi industri komputasi data center global yang kian memprioritaskan pemanfaatan tenaga bersih. Oleh sebab itu, pihak regulator senantiasa berkomitmen kuat mempercepat pencapaian target emisi nol bersih (net zero emission) pada kurun waktu antara 2050 sampai 2060.

Komitmen jangka panjang ini dijabarkan Bahlil lewat deretan aksi nyata, termasuk penetapan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 dengan target pertambahan kapasitas pembangkitan baru sebesar 69,5 GW, dengan porsi 70 persen di antaranya bersumber langsung dari EBT. Pemerintah pun gencar mempercepat target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW yang dicanangkan tuntas dalam rentang tiga tahun.

"Ini bukan hanya sekadar tema, tetapi langsung dibuat program yang konkret," tandas Bahlil menegaskan keseriusan pemerintah.

banner 336x280