Dampak Pemilu Paruh Waktu AS Seret Kurs Rupiah Menuju Rp 18.025 per Dolar

Posted on
banner 336x280

Arah pergerakan nilai tukar rupiah kini sangat dipengaruhi oleh dinamika pemilu paruh waktu Amerika Serikat serta fluktuasi harga minyak mentah global.

JAKARTA — Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan bahwa laju rupiah pada perdagangan Jumat (6/11/2026) sangat ditentukan oleh kemenangan kubu Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS. Hasil politik tersebut langsung mengubah peta pergerakan di pasar finansial dunia.

banner 468x60

“Kemenangan pemilu itu awalnya mendongkrak selera terhadap risiko di pasar global, yang juga diperkuat oleh berlanjutnya tren koreksi harga minyak mentah internasional,” ujar Josua.

Akan tetapi, para pemodal kembali mengevaluasi dampak kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu di AS. Situasi tersebut akhirnya memicu gelombang pelepasan aset di bursa saham Wall Street. Para investor memindahkan dana dari saham berbasis Artificial Intelligence (AI) menuju portofolio safe haven. Pergeseran investasi ini dipicu kekhawatiran bahwa para anggota dewan Partai Demokrat yang baru bakal memperketat regulasi sektor kecerdasan buatan.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik datang dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 yang di luar dugaan melaju 5,47 persen year on year (yoy), naik dibanding kuartal terdahulu sebesar 5,29 persen yoy. Peningkatan performa ekonomi nasional tersebut disokong oleh kinerja ekspor dan penyesuaian inventori, di tengah tren pelemahan daya beli masyarakat dalam negeri.

“Pada aktivitas transaksi hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan bakal berfluktuasi pada rentang Rp 18.025 hingga Rp 18.125 per dolar AS,” kata Josua.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi negara tercatat menyusut pada semua durasi tenor saat penutupan Kamis (5/11/2026). Penurunan ini dipicu oleh pulihnya selera risiko investor dan penurunan harga minyak dunia. Yield SBN tenor 5, 10, 15, dan 20 tahun masing-masing terkoreksi sebesar 20 bps, 8 bps, 2 bps, serta 7 bps ke level 7,38 persen, 7,66 persen, 7,73 persen, dan 7,69 persen.

Aktivitas jual beli surat berharga negara juga terpantau ramai, ditandai lonjakan volume transaksi menjadi Rp 25,9 triliun dari catatan sebelumnya Rp 19,46 triliun. Capaian ini memperlihatkan tingginya likuiditas perdagangan obligasi.

“Kendati demikian, porsi kepemilikan asing pada SBN terpantau berkurang senilai Rp 0,68 triliun menjadi Rp 915 triliun per 4 November 2026, atau porsinya 12,97 persen dari total outstanding,” imbuhnya.

Pemahaman Asuransi Jiwa Penting dalam Perencanaan Keuangan Keluarga

Hasil Pemilu Paruh Waktu AS Tekan Rupiah ke Rp 18.025 per Dolar

Urai Kepadatan Nataru Menhub Usulkan WFA

BAPPISUS dan PLN Perkuat Sinergi Jaga Keandalan Listrik Nasional

PKT Kembangkan Inovasi Pacu Produktivitas dan Daya Saing

banner 336x280