Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) tengah mempelajari potensi penanaman modal langsung pada ekosistem perhajian, terutama di bidang perhotelan, penyediaan konsumsi, serta sektor logistik di Makkah maupun Madinah.
"Sejalan dengan Visi Arab Saudi 2030, kita perlu memperkuat peran tidak hanya sebagai pengguna layanan haji, tetapi juga sebagai mitra investasi strategis dalam ekosistem haji-khususnya di sektor akomodasi, katering, dan logistik di Makkah dan Madinah," papar Ketua Dewan Pengawas BPKH, Firmansyah N. Nazaroedin pada forum Hajj Fund Forum ISEF 2026 yang berlangsung di JICC, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Firmansyah menuturkan bahwa pihak BPKH percaya langkah penanaman modal riil yang terencana bisa menekan risiko fluktuasi kurs mata uang asing dan laju inflasi. Di samping itu, inisiatif ini juga ditujukan demi menjamin kualitas pelayanan yang jauh lebih prima serta andal bagi seluruh jemaah asal Indonesia.
Sementara itu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Urusan Haji Muhadjir Effendy memaparkan terdapat kesempatan untuk membangun kawasan pemukiman lewat skema persyaratan tertentu, termasuk bermitra dengan institusi berwenang di Arab Saudi.
Muhadjir juga menambahkan, pembaruan menyeluruh yang konsisten dilakukan otoritas Arab Saudi terhadap lanskap Haji dan Umrah membuka peluang pendanaan jangka panjang pada sektor sarana fisik, perhotelan, moda transportasi, teknologi informasi, hingga layanan penunjang lainnya.
"Meski demikian, keputusan investasi harus tetap menghormati mandat kelembagaan, peraturan yang berlaku, kepatuhan terhadap prinsip syariah, serta manajemen risiko yang bijaksana," jelas Muhadjir dalam forum tersebut.
Ia menggarisbawahi bahwa fokus mendasar pemerintah yakni memastikan seluruh kegiatan investasi akuntabel dapat menghadirkan nilai tambah berkelanjutan, seraya melindungi keamanan dana kelolaan dan maslahat jemaah haji nasional.
Pada kesempatan terpisah, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus mematangkan proyek Kampung Haji sebagai sentra pemondokan jamaah tanah air di Makkah, menindaklanjuti amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 Tahun 2025.
Direktur Pelaksana Danantara Rohan Hafas menerangkan, fase teranyar realisasi Kampung Haji saat ini tengah menantikan pengumuman hasil proses lelang hak pengelolaan kawasan tanah pada wilayah Ajyad Al Sadd.
"Saat ini, kami sedang menunggu hasil tender untuk Plot No. 3 di area Ajyad Al Sadd, sebuah lahan seluas 32,2 hektare yang berjarak hanya 650 meter dari Masjidil Haram," beber Rohan di gelaran Internasional Hajj Fund Forum ISEF 2026, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Rohan Hafas memaparkan, andai Danantara keluar sebagai pemenang tender, maka institusi tersebut akan mengantongi sedikitnya dua kantong lahan utama yang dapat diintegrasikan ke dalam proyek terpadu Kampung Haji.
Adapun satu aset properti yang sebelumnya telah resmi dipercayakan pemerintah Arab Saudi untuk digarap oleh pihak Danantara adalah area terpadu Kawasan Thakher City semenjak pengujung tahun silam.
Kini Danantara mengolah 14 bidang lahan (plot) yang diproyeksikan mengintegrasikan bangunan hotel, pusat bisnis komersial, sarana ibadah, ruang terbuka publik, dan beragam fasilitas pendukung terintegrasi. Lingkungan terpadu ini diperkirakan berkapasitas menampung hingga 18.000 jemaah secara berbarengan.
"Pembangunan Thakher City merupakan bagian dari inisiatif Kampung Haji yang lebih luas dalam rangka memenuhi Instruksi Presiden Nomor 15," tandas Rohan Hafas.
Dalam kawasan Thakher City itu pula, Danantara sudah resmi menuntaskan akuisisi hotel Novotel Makkah Thakher City yang menyediakan daya tampung 1.461 unit kamar bagi 4.400 jemaah.
"Hotel ini merupakan fondasi pertama dari kehadiran Indonesia dalam ekosistem layanan haji dan umrah di Makkah," tutupnya.
